Bangga Indonesia: Mensyukuri Kehidupan dari CFD Sudirman

Tidak tiap Minggu si Ayah jalan ke Car Free Day Sudirman Jakarta. Ya bukan karena jauh, tapi sengaja biar tidak terlalu sering. Jadi tiap datang si Ayah bisa selalu menikmati setiap segmen kehidupan yang terhampar luas di jalan utama di Kota Metropolitan Jakarta. Mudah-mudah kenikmatan itu bisa menjadi awal dari rasa syukur kepada Sang Khalik atas segala hal.

Dan ini segmen-segmen kehidupan dalam bentuk foto yang si Ayah nikmati hari ini, 12 Januari 2019

CFD – Ketika Jalan Utama Jakarta dikuasai warga

Pemandangan yang selalu membuat takjub. Kerumunan massa di jalan yang dibebaskan dan berlangsung damai | Foto: Rifki Feriandi

Biasa, tiap jalan dari Stasiun Sudirman ke arah Bundaram HI, si Ayah pasti tertegun di area di foto ini. Ya. Ketika pandangan dilepaskan jauh ke Bundaran HI, kita akan disajikan begitu banyak manusia. Entahlah berapa ribu, puluh ribu. Entahlah ratus ribu. Tapi kayaknya gak nyampe 8 atau 11 juta orang deh (hmmm… gak usah nyinyir keles). Massa. Begitu banyak. Tapi semua berjalan santai dengan ceria. Damai. Bahagia.

Gak mikir keras sih, cuman kepikiran saat itu. Sudirman dan Thamrin itu jalan utama ya. Mungkin jalan terbesar di seluruh Indonesia ya. Jalan yang terkenal dengan kepasatan dan kemacetan. Tapi, tiap hari Minggu pagi sampai sekitar pukul 10, jalan itu dikuasai warga. Kosong dari kendaraan beroda. Tanpa pengerahan begitu banyak polisi atau tentara. Berjalan seperti biasa. Damai.

Kadang bergumam, adakah negara lain yang melakukan Car Free Day sekaliber CFD Sudirman?

Ya Allah, alhamdulillah diberi negara damai yang Kau jaga.

Semua warga mempunyai hak yang sama

Motor pun dituntun oleh Abang yang mungkin pulang kerja dari kantor di CFD | Foto: Rifki Feriandi

Seru deh memperhatikan mereka yang berada di CFD. Warga dari semua strata ada. Dari yang berkeluarga, duda atau jomblo setia. Dari cowok sadar penampilan sampai pria yang kentara gak pernah dandan. Dari yang berjalan sendiri sampai satu rombongan pake metro mini. Dari yang serius olahraga sampai mereka yang ya sekedar jalan cuci mata.

Ibu bawa anak, anak bawa Shaun the sheep. Boleeh | Foto: Rifki Feriandi

Semua ada.

Mau nuntun anak atau sepeda, mau digendong atau jalan. Bebaaas •| Foto: Rifki Feriandi

Tidak ada yang membahas ras, mempersoalkan agama, menyinyiri penghasilan atau membully anggota badan.

Meski tidak pakai odong-odong, kita tetap pren dong | Foto: Rifki Feriandi

Semua ada. Semua bebas menggunakan jalan raya. Sebebas anak kecil ini.

Sesukamu Dek kecil. Nikmati ya …Jangan lupa bahagia | Foto: Rifki Feriandi

Kebersamaan dalam keringat

Bagai sepatu roda, CFD pun alhamdulillah selalu bergulir mulus dan damai | Foto: Rifki Feriandi

CFD sangat wajar dimanfaatkan untuk lelarian. Banyak sekali komunitas lari atau maraton, dengan anggota berwajah segar, slim dan keren, memanfaatkan CFD untuk melatih kemampuan lebih (termasuk kemampuan narsis kan? eaaa). Dan salah satu komunitas yang juga memanfaatkan CFD – terutama memanfaatkan mulusnya jalan raya,

adalah komunitas sepatu roda. Termasuk pertunjukan atraksi melompati beberapa orang ini. Ya, meski ada lah sedikit show off, gak apa-apa atuh. Itung-itung belajar percaya diri dilihat orang.

Ikut saja keramean gerak badan. Jangan hiraukan kotor duduk di jalan. Kotor itu baik | Foto: Rifki Feriandi

Kalau pun tidak memiliki atau bersama komunitas, bisa kok join saja dengan kerumunan yang ada. Seperti senam barengan. Gak usah terlalu peduli kalo gak pede. Ikut saja gerakannya. Gampang kok. Salah juga gak ada yang marah. Malah seru, karena senamnya pun ada sesi menggunakan gerakan tari tradisional Indonesia. Beuh, serasa jadi nasionalis nih.

Tradisional membuat bangga sebagai bangsa

Ondel ondel dan delman. Betawi punya | Foto: Rifki Feriandi

Satu yang seru di CFD, kita bisa juga melihat berbagai hal eksotisme kedaerahan tradisional yang keren. Ya, tradisonal yang berbeda-beda yang justru membuat bangga sebagai bangsa. Indonesia.

Betawi menguasai. Berbagai macam komunitas Ondel-ondel muncul | Foto: Rifki Feriandi

Angklung yang termodifikasi | Foto: Rifki Feriandi
Tim.pertunjukan ondel-ondel. Anak muda. Banyak loh. Jadi berikan rejeki sedikit lebih banyak dong | Foto: Rifki Feriandi

CFD wahana untuk eksis, eh ekspresif

CFD – ajang eksplorasi keahlian fotografi | Foto; Rifki Feriandi
Pendekatan dengan hewan oleh anak muda. Keyen • Foto: Rifki Feriandi

CFD juga wahana kreatifisme anak muda

Kreatifisme dalam bentuk apapun itu, termasuk sebagai sebuah pekerjaan. Halal kan

Hanya kreatifisme.yang mendampingkan batman dan figur pahlawan keren lainny dengan hantu | Foto: Rifki Feriandi
Apakah Captain America sedang mengejar penjual Hello Kitty buat anaknya? Co cwit | Foto: Rifki Feriandi

CFD tempat usaha yang Liberte, Egalite, Fraternite

Dengan CFD jiwa mandiri warga mendapatkan penyaluran. Apapun bisa dijual, selama ada yang beli. Babkan bir pun boleh. Bir halal dong. Pletok…..

Ramuan khas Betawi, Cing •| Foto: Rifki Feriandi
Barengan. Kiri jualan hotel bintang lima, kanan jualan kaki lima | Foto: Rifki Feriandi

Seperti segmen di depan Pusat Kebudayaan Perancis. Komplit. Ada yang jualan squishy, gantungan kunci, sepatu, madu Baduy lalu lewat jualan ketan dan gulali. Benar-benar seperti spanduk di tembok berbahasa Perancis. Liberte Egalite Fraternite.

Tulisan di dinding artinya Bebas. Adil. Bersaudara.

Cermin tangguhnya bangsa Indonesia

Coba perhatikan di CFD. Orang Indonesia itu tangguh-tangguh dalam berusaha. Berapa banyak anak muda sekolajan atau kuliahan yang berjualan air minum mineral lima ribu dua – meski yang beli bisa dihitung jari.

Istirahat dulu kepalanya ya…. | Foto:Rifki Feriandi

Ketangguhan itu ditunjukan juga oleh pemulung botol plastik, petugas kebersihan dan pengamen tuna netra.

Beban hidupmu senerat ini,? Tangguhlah | Foto: Rifki Feriandi
Berusaha dan bersaudara. Indahnya | Foto: Rifki Feriandi
Memainkan peranan masing-masing | Foto: Rifki Feriandi

Kerumunan yang aman dan bahagia

Namanya juga CFD, ada saja kerumunan banyak orang. Kerumunan yang menariknya tidak menimbulkan gesekan atau perselisihan. Sebaliknya bahkan tertampil wajah ceria.

Ini mah bukan kerumunan, tapi antrean. Kece deh Samsat kelilingnya | Foto: Rifki Feriandi
Gak ada pelanggan ya gak apa, nengok kerumunan sebelah dulu ah (a.k.a ngerumunin catur) | Foto: Rifki Feriandi
Entah kerumunan apa. Malu mendekatinya. Dih | Foto: Rifki Feriandi
Di mana ada kamera wartawan, di sana ada kerumunan. Biar masuk tipi | Foto: Rifki Feriandi
Ini sih kerumunan yang dicari. Ada artis penyanyi dan barista ganteng | Foto: Rifki Feriandi

Dan demo pun difasilitasi

Si Ayah sih salut dengan CFD yang aman. Bahkan demo saja kan sering muncul. Bendera negara lain boleh muncul, eh Palestina doang deng. Bahkan demo karyawan Freeport hanya dijaga satu orang polisi. Itu pun terlihat akrab. Tidak ada suasana mencekam itu. Keren kan.

Kuliner segala macam rasa

Kalo masalah kuliner mah gak perlu dibahas. Jalan saja dari ujung ke ujung. Apa lo mau ada.

Simpel nih. Di lampu setopan, kalo haus tinggal beli bajigur | Foto: Rifki Feriandi
Bubur eksotis, dengan pemandangan celana dalam | Foto: Rifki Feriandi

Tempo del Gelato: Es Krim Hitz Dalam Suasana Keren

Tempo del Gelato Yogyakarta di waktu senja

Jarang sekali si Ayah makan es krim gelato. Image di pikiran si Ayah gelato mah belum halal. Makanya itu yang ditanyakan ke si Kakak yang ngajak ke sana di Hari pertama Liburan Anak secapeknya sesantainya di Yogyakarta. Lalu… Cus saja kita ke sana. Tempo del Gelato. Jakal. Jalan Kaliurang Ade dibonceng si Kakak, sementara si Ayah pake ojol.

Suasana keren

Sang puteri menyambut si Ayah.

Turun dari ojek, si Ade yang sudah datang duluan menyambut di pintu. Ngeliat dia nongol saja, si Ayah lalu bergumam. ‘Ish ish ish….keren nih buat spot foto’. Iya, keren euy. Bangunannya dibuat artistik. Nyeni. Susunan bata merahnya yang diekspos itu keren banget. Sudah deh, si Ayah yang hobi motoin orang – tapi gak ngerti fotografi – langsung nyuruh si Ade berpose. (Dan dia pun sudah hapal sifat si Ayah, jadi langsung saja dia berpose).

Artistik ya dan keren, seperti kerennya dua bidadari ini

Berjalan ke dalam, kembali si Ayah dibawa terkesan dengan suasananya. Beneran, sore itu penuh banget dengan pembeli yang keliatan banyaknya wisatawan. Tapi keukeuh, si Ayah mah tertarik dengan interiornya. Nyeni. Ada rasa-rasa kolonial artistiknya gitu. Dilengkapi banyak foto-foto entah siapapun dengan berbagai pose es krim gelatonya. Sangat menarik.

Ya sudah, pasrah disuruh si Ayah berpose 😁

Es krim cone guede berbagai varian

Melirik ke antrian, si Ayah melihat dominannya pengantri itu wanita. Sepertinya kompakan kalo si pria, entah suami atau pasangan atau temannya, lebih memilih menunggu dan mencari kursi. Si Ayah juga demikian. Dan dari pengantri itu, dominannya juga berjilbab. Bisa jadi mereka tertatik dengan tulisan besar Halal di salah satu dinding atasnya.

Lihat yang di belakang, banyak ibu ibu yak

Karena sudah pernah ke sini, si Kakak langsung masuk ke antrian kasir yang langsunh berhadapan dengan pintu masuk. Di atas kepala si mbak kasir tertera menu es krim yang dijual.

Es krim cone 25 ribu rupiah
Es krim cup bervariasi, dari mulai 20 ribu sampai seratus ribu lebih

Untung belinya dua, kalo tiga bakalan nyisa

Si Kakak tinggal order berapa jumlah es krim yang diorder. Di sini dia tidak ditanya rasa es krim apa yang dipilih. Dan lalu dia mendapatkan nomor antrian. Saat itu di dapat nomor 60an, sementara pesanan baru sampai 30 atau 40an. Lumayan panjang dan lama.

Sabar.

Padahal si Ayah lagi berjaket tebal, meriang, tapi masa gak cobain sih

Sambil nunggu, si Ayah melihat sekeliling. Gile. Es krim conenya gede banget. Hak habis deh kalo dimakan Ayah sendirian. Untung tadi pesannya cuman dua biji, jadi bisa dimakan bertiga. Si Ayah juga lihat es krim yang dibawa pengunjung bermacam macam. Ada yang kayak oreo, hijau matcha, plain vanila, coklat kentara atau merah tua ngejreng. Es krim rasa buah naga. Hmmm… penasaran, apa ada es krim rasa yang gak pernah ada?

Asyiknyaaa

Rasa tergantung selera

Setelah beberapa kali di WA si Kakak yang nanyain ‘Ayah mau rasa apa? Sorbet ginger atau matcha atau cinamon?’ Dan si Ayah jawab datar ‘Ayah gak ngerti, Kakak saja yang milih’, akhirnya dia milih sendiri. Salah satunya adalah plain coklat.

Menunggu kepastian wkkakw

Ya gitu, si Ayah mah pasti mikir kalo soal rasa ya tergantung selera. Pilihan rasa yang aneh-aneh tentunya cocok untuk generasi si Kakak, tapi tidak buat si Ayah. Membingungkan. Tapi ya kalo mencicipi mah baru terasa enak. Ya, untuk rasa yang standar, si Ayah mah kadang suma bandingin sama es krim Feast kesikaan yang dibeli di Indomaret atau Alfamart.

Suasananya itu loh

Tapi yang seru adalah rasa yang ditimbulkan: kebersamaan. Di sebelas kiri si Ayah ada sepasang suami istri duduk di kursi tinggi lalu didatangi dua pria usia lulus kuliah. Dua pemuda itu lalu memberikan es krimnya ke si Ayah. Gestur bagaimana si Ayah menolak – karena mungkin tidak doyan, si anak yang ‘memaksa’, si ibu yang merayu, si ayah lalu memciba, dan si anak anak yang tertawa. Itu priceless. Juga satu keluarga yang menguasai kursi sebelah kanan si Ayah, rame dengan berbagai cerita. Sementara di depan kita, seorang mbak dengan mas nya asyik mencicipi es krim dari satu cone yang sama. Indahnya. Serasa dunia milik berdua. Yang lain ngontrak……

Cusss

Monggo….

Outlet Biru – Tujuan Wisata Belanja di Yogyakarta

Hari pertama liburan anak secapeknya sesantainya di Yogyakarta digunakan si Ayah untuk mampir ke toko baju. Bukan mau belanja sih. Sebenarnya hanya pengen tahu saja, karena si Ayah pernah dibeliin empat baju keren harga murah oleh si Kakak. Dan si Ayah cocok.

Nama tokonya Outlet Biru, disingkat OB. Terletak di Jalan Wahid Hasyim, sudut perempatan dengan Selokan Mataram.

Outlet ini persis berada di tepi jalan, dengan lahan depan pun dipakai untuk menempatkan baju dan pakaian lainnya. Karenanya, tempat parkir outlet ini berada terhalang satu dua rumah.

Sepintas outlet ini tidak berbeda dengan toko baju lainnya. Penuh barang dengan isi toko cukup padat. Tapi si Ayah suka sekali di sini. Karena model pakaiannya keren-keren. Dengan merk bagus. Taoi harga murah. Bisa jadi outlet ini menjual pakaian sisa ekspor. Sebut saja merek terkenal, ada di sini. Lengkap juga, ada kemeja, kaos, sepatu, tas dan aksesoris.

Si Ayah memilih kaos tanpa lengan buat olah raga, model keren dengan merek keren, cuman 50 ribu. Beli dua deh. Dia juga beli dua kaos untuk jalan-jalan, harga 60 ribu. Ya, kisaran harga di sini ya segituan. Kemeja dan kaos sekitar seratusan.

Lumayan, si Ayah gak perlu bawa baju banyak dari rumah buat jalan-jalan ini. Beli saja di sini.

Si Ayah sih rekomendasikan wisata belanja ke sini. Worth lah.

Menyantap Masakan Banjar di Jogja – Kindai

Hari pertama Liburan si Ade sama si Ayah dan Kakak dimulai tanggal 26 Desember, sehari setelah Natal. Maksudnya sih dengan harapan sudah lewat masa puncak pergi Liburan. Kita (si Ade dan si Ayah) memilih menggunakan pesawat, penerbangan jam 11an.

Kindai, Gejayan, Jogja

Tiba setengah jam lebih cepat (Thanks Air Asia. Keren !) kita mampir ke penginapan dahulu. Naro koper. Lalu kita bertemu dengan si Kakak, yang datang dengan motor dari tempat kost-nya. Dia mengusulkan tempat makan yang hits buat anak kost, enak dan murah.

Kindai, Warung Masakan Banjar

Aneh juga sih ke Jogja tapi kuliner yanh dicicipi pertama kali adalah kuliner Kalimantan. Tapi, lidah adalah lidah. Yang penting mesti mencicipi kuliner yang hits di tempat yang dikunjungi terlepas tradisional atau khas daerah tersebut atau bukan?

Kindai.

Terletak di Jl. Jemb. Merah No.116D, Kaliwaru, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55283.

Lesehan makan dengan mural artistik

Warung makan ini sederhana. Di sayap kiri ada bangunan baja sederhana. Lantai dasar parkir motor, atasnya tempat makan. Ada banyak meja untuk lesehan di sana. Dindingnya keren dengn mural menarik.

Hits, banyak pengunjung, tapi pelayanan cepat. Jempol

Sementara di bangunan utama, dengan beberapa meja dan kursi, pengunjung sudah mulai memadati. Antrian lumayan banyak. Si Ayah minta rekomendasi si Kakak apa yang enak. Karena kita order makanan di sini.

Yang terkenal di warung ini adalah Sate Banjar. Emang enak. Disuguhkan dengan nasi dan soto Banjar. Sedap. Soto Banjar sendiri bisa dipesan terpisah.

Adik Kakak saat makan bareng setelah enam bulan

Yang si Ayah paling sukai adalah justru yang dipesan si Ade. Nasi kuning dengan berbagai pilihan lauk. Ada telur, sambel goreng ati, ayam panggang dan lain-lain. Nasi kuningnya enak, apalagi sambel goreng atinya. Bumbunya pas di lidah.

Sate, soto, ayam panggang dan nasi kuning. Wuenak tenan

Si Ayah sengaja minta Kakak untuk pesan tiga jenis masakan berbeda. Jadi kita bisa sharing, makan bersama-sama. Mencicipi semua masakan. Makan seperti ini lebih seru, lebih aktab dan lebih dekat. Apalagi bagi si Ayah yang hampir enam bulan tidak ketemu si Kakak. Tidak salah si Kakak bawa kita ke sini sebagai tempat pertama yang dikunjungi.

Sharing makanan pesanan, merasakan kebersamaan

Pelayanan di Kindai bagus. Makanan tersaji cukup cepat dari saat kita order. Minta tambahan makanan pun tidak menunggu terlalu lama. Dan …harganya murah.

Karena pengalaman ini, saya sih rekomendasikan Warung Masakan Banjar Kindai ini sebagai tempat yang harus dikunjungi dan makanannya harus dicicipi.

Kuy….

Liburan tanpa ibu

Namanya anak, kalo berada dekat sama ibu tuh pasti manja. Tidur pengen dibangunin. Susu pengen dibikinin. Beresin kamar dinanti-natiin. Dan sifat anak demikian, dalam skala terkecil pun suka terbawa saat liburan. Demikian pula si Kakak sama si Ade.

Tahun lalu si Ayah punya ide. Liburan barengan sering, kenapa gak coba liburan sama si Ayah doang. Seru kali ya.

Si Ayah melihat beberapa benefit Liburan tanpa Ibu

  1. Si Ayah bisa lebih dekat dengan anak-anak gadisnya, secara anak cewek naluriah deket banget sama ibunya
  2. Si Ayah bisa menanamkan ajaran kehidupan dari sudut pandang cowok ke anak gadis dengan lebih lepas. Contoh tergampang bagaimana keberanian anak perempuan juga bisa muncul ketika masuk ke gua gelap kecil dan basah.
  3. Anak-anak diajari untuk ekspresif mengutarakan apa yang dirasa selama wisata dengan beragam warna emosi. Seru, takut , ngeri, lucu, panik.
  4. Anak-anak bisa bermaen eksplor wisata sebebasnya, sepuasnya, secapeknya, pergi pagi pulang larut tanpa mengkhawatirkan kondisi ibu yang sangat logis jika mudah lelah. Seorang ibu akan sangat kuat menerima beban rumah tangga – anak, masak, cuci dll, tapi ketika diajak bermain tentu ada batasnya. Tiga tempat wisata dalam satu hari, misalnya.
  5. Memberi ruang buat si Ibu setahun sekalu untuk refreshing , me time dengan kegiatan yang dia sukai termasuk bersama teman-temannya, tanpa dibebani pikiran tentang anak.

Dengan persetujuan bersama, terutama ijin si Ibu, kita mulai wisata secapeknya itu tahun lalu, di Malang. Sembilan hari. Alhamdulillah. Seru banget. Anak-anak happy. Dan itu diulangi liburan akhir tahun ini. Di Yogyakarta. Sekalian nengok dan ngajak refreahing si Kakak di tengah kesibukan nyusun skripsi. Dan kini, liburan secapeknya itu lebih panjang. Dua belas hari.

Dan hasil liburan itu anak-anak mendapatkan kegembiraan lain, yang berbeda-beda nuansa. Tapi jelas, mereka bahagia.

Meski

….. Kulit Ayah menjadi eksotis a.k.a gosong bin tutung 😎

Mau ikut jejak si Ayah?

#adedanayah #kakakdanayah