Sakit

Sering kali kita dengar kalau sesama muslim itu ibarat satu tubuh. Kalau satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya.

Sepintas dan karena terlalu sering kita mendengarnya, kita kadang gak memahami artinya. Bukan gak memahami deng, tapi masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Paling parah adalah karena kita gak pernah merasakan sesuatu yang parah menimpa kita.

Tapi satu musibah kecil yang terjadi kemarin mungkin bisa menggambarkan arti sebenarnya dari “satu bagian sakit – seluruh tubuh sakit”.

Sesuatu yang terlihat begitu sepele bias mengubah persepsi.

Saat itu Jumat, 16 Januari. Karena sudah malam, masih dengan semangat TGIF saya tutup pintu rumah. Entah karena terlalu semangat, jari kelingking kakiku dengan “enak”nya terjepit daun pintu. Kadang kepikir, kok bisa ya? Namanya juga lagi semangat, mata gak ngeliat kaki saat tutup pintu, dan kaki-nya pun gak punya mata.

Ini betul-betul sakit yang “enak”, baru kali ini rasa sakitnya begitu dahsyat. Perasaan tulang kelingkingku gemeretak, dan saya lihat daging warna putih terlihat. Tidak ada darah mengalir, mungkin karena sobeknya langsung kena daging. Saya buru-buru ke kamar, mencari plester.

Perjalanan dari pintu depan ke kamar, yang begitu sangat dekat – cuman tiga meter, saat itu terasa lama. Bukannya berpuisi, tapi detik demi detik terasa sekali berputarnya.

Detik pertama yang saya lakukan ketika merasakan penderitaan itu adalah “teriak”. Logis. Insting. Tapi, saat menderita begini pun, anehnya sikap ja-im masih ada di pikiran ya. Maksudnya, kok saya gak teriak lepas “Aduuuuuh”, tapi cukup keluar ucapan “WAww”, tanpa suara lain. Ja-im kan. Pelajaran pertama: jaim tidak mengenal waktu dan tempat.

Suara lirih tersebut diiringi mata memerah dan berair – meskipun bukan tangisan. Ini gak bisa dijaimin. Bukan hanya mata yang merah, tapi wajah pun memerah untuk beberapa saat sebelum kemudian berubah menjadi pucat, putih. Saya merasakan desiran perubahan darah di wajah menjadi pucat. Saya gak mungkin cari cermin dulu kan buat liat apa wajah saya merah atau putih pucat. Pelajaran kedua: warna ternyata bisa dilihat dengan rasa – tidak dengan mata.

Subhanallah pertama, yang bermasalah di kaki, jari kelingking, berada di ujung paling bawah, kok respons pertama ada di mulut dan wajah, berada di kepala, yang nota bene ada di ujung atas. Saya gak ukur berapa detik response tersebut, tapi jauh di bawah satu detik.

Sebagai imbas karena emosi tidak lepas, maksudnya tidak teriak kesakitan, detik kedua sampai kelima (dikira-kira) timbullah “penyakit gila pertama” (meminjam istilah Andrea Hirata) – “ajrag-ajragan” teu puguh. Bagi yang gak tahu bahasa Sunda, “ajrag-ajaragan” itu persis orang gila nari-nari gak karuan. Tangan turun ke bawah pengen pegang daerah yang sakit. Tapi sesudah dekat, tangan malah dibuang ke atas. Kaki yang sakit ditekuk ke atas, kaki yang satunya lagi lompat di tempat. Meskipun gak pernah ikutan grup musik, bolehlah aksinya dibilang kayak grup metal. Mental-mental gak karuan. Pelajaran ketiga: emosi berhubungan erat dengan aktivitas fisik. Emosi ngumpet, aktivitas fisik nongol.

Setelah bisa menguasai diri, detik ke enam, saya ambil beberapa langkah masuk rumah. Satu langkah terasa berat sekali. Berat karena kaki bergetar keras tidak terkontrol, dan dengkul serasa lemas. Untuk yang sudah berumah tangga pasti pernah merasakan dengkul lemas sehingga susah berjalan. Pelajaran keempat: untuk merasakan dengkul lemas tidak perlu berumah tangga dulu. Dengan kata lain rumah tangga (atau”s..x”) dengan “rasa sakit” punya keterkaitan erat. Benarkah?

Entah berapa detik yang saya butuhkan untuk mencapai jarak satu meter. Rasanya jauh lebih lama, karena aktivitas fisik yang dilakukan tinggi sekali.

Di jarak satu setengah meter – di pertengahan menuju pintu kamar, saya berhenti dulu. Refleks. Nafas mulai naik turun kencang. Mata sudah tidak berair lagi. Tapi beberapa makhluk indah imajiner beterbangan di sekeliling kepala. Indah, karena beraneka warna dan berkerlap-kerlip. Kunang-kunang. Waduh. Saya malah takut. Pelajaran kelima: “indah” ternyata bisa “ditakuti”.

Yang saya takutkan adalah pingsan. Bukan karena saya pengecut, tapi saya sedang berstatus bujangan. Artinya sendirian di rumah. Kalau saya tidak siuman beberapa hari gimana, gak seru kan. Apalagi ternyata si kunang-kunang membawa hawa dingin. Menggigil. Swear. Hari itu termasuk gerah di sini. Bahkan beberapa saat sebelum kejadianpun saya masih merasakan gerah, dibuktikan dengan tidak dikancingkannya dua kancing baju teratas. Tapi, sekonyong-konyong saya rasakan dingin yang sangat. Pelajaran keenam: tidak diperlukan Air Conditioned untuk mendinginkkan tubuh.

Refleks, kemudian saya bersidekap biar hangat. Tapi semua serba salah, seperti salahnya koin ada empat sisi. Di satu sisi, kaki dan tangan masih pengen menjadi anak metal, bergerak mental-mental gak karuan, untuk mengimbangi emosi yangtidak tersalurkan. Di sisi yang lain, kaki harus tetap berjalan mencari penyelamat – selembar plester, meskipun dikalahkan lemasnya dengkul. Di sisi ketiga tangan berusaha menggapai pegangan biar gak jatuh pingsan. Eh di sisi keempat, kedua tangan pengen melindungi tubuh biar gak dingin.

Subhanallah kedua: semua organ tubuh selalu berusaha yang terbaik untuk melindungi tubuh kita.

Alhamdulillah, saya masih bisa menggapai pintu kamar. Tapi masih ada jarak 2.2 meter lagi ke lemari tempat menyimpan plester. Masih dibutuhkan perjuangan besarkah hanya untuk menggapai 2.2 meter? Hari normal, hanya dibutuhkan beberpa langkah dalam beberapa detik. Dan hari itu, hari yang sangat tidak normal bagiku, jarak sependek itu betul-betul menyiksaku. Pelajaran ketujuh: perjuangan tidak dilihat dari sejauh mana hidup kita tempuh, tapi seberapa berat halangan yang kita hadapi.

Di area kamar ini, satu hal lagi terjadi. Setelah sekian lama berusaha menjadi penyelamat, sekarang “tangan”pun mulai bergetar tidak terkendali. Sekarang komplit, semuanya bergetar. Saya lemparkan badan ke tepi ranjang, dan coba menekuk badan semua, dengan masih merasakan semua anggota tubuh bergetar.

Masalah baru muncul. Saya harus membuka laci lemari. Meskipun tanpa kunci dan mudah dibuka, saat itu semua terasa sulit. Bisa bayangkan sais delman mengendalikan kuda liar, begitulah saya coba mengendalikan tangan yang bergetar. Kebetulann lacinya agak lebar dan tinggi sehingga dibutuhkan kedua tangan menarik laci bersamaan. Di sini kedua tangan menunjukkan kesetiaan masing-masing. Satu tangan mencoba mebuka laci, dan satu tangan tetap setia mendekap badan, memberi kehangatan.
Subhanallah ketiga: begitu hebatnya Allah menciptakan anggota tubuh yang begitu setia kepada tuannya. Se-setia itukah kita kepada Tuannya – Allah SWT.

Bisa dibayangkan susahnya membuka laci dengan satu tangan, jadi lacinya melintir. Masalah selanjutnya masih menghadang. Saya simpan plester di dalam satu kantong khusus obat, bercampur dengan semua obat-obatan lainnya. Semuanya tersusun rapi. Namun kerapian tidak membantu saat itu. Saya kesulitan menemukannya. Rasa sakit sudah sedikit memberi efek kepada otak, sehingga otak sudah berkurang mengirimkan sinyal ke mata tentang di mana plester itu ditaruh. Akhirnya kantong yang tersusun rapi, saya tuangkan semuanya, sehingga saya bisa liat secara jelas apa yang saya cari. Pelajaran kedelapan: kerapian tidak selalu memudahkan. Kemudahan ada di dalam otak.

Alhamdulillah saya bisa mendapatkan plester tersebut, merknya Tensoplast. Bukan berpromosi, saya suka merk ini, murni karena mengingatkan saya ke masa kecil.

Dalam kondisi tangan bergetar, akhirnya saya bisa membuka dan memasang plester tersebut. Itupun dengan perjuangan. Tetap, saya tidak melihat darah. Apakah ini tanda-tanda parah? Apa saya perlu ke Rumah Sakit? Siapa yang nganter? Apa saya nyetir sendiri saja? Dengan kaki begitu? Dengan tangan dan kaki bergetar begini? Apa gak jadi zig-zag jalannya mobil? Pelajaran kesembilan: hebatlah orang yang hidup bujangan, melakukan segalanya sendirian.

Dalam kondisi otak yang sudah mulai kecapaian dan tumpul, saya putuskan dan yakinkan bahwa Insya Allah, everything is OK. Ternyata otak yang capai masih bisa berpikir jernih. Saya cepat ambil hape – dan selalu diletakkan dekat dengan jangkauan. Setidaknya kalau ada yang terjadi saya bisa miss-call seseorang yang paling dekat. Jangan tanya perjuangan sewaktu mencari hape tersebut, itu bisa jadi satu edisi sendiri.

Saya putuskan untuk tidur. Tapi Masya Allah, saya belum shalat Isya. Akhirnya saya paksakan berwudlu dan shalat. Saya praktikkan bahwa Allah tidak menyulitkan hambaNya dalam beribadah kepadaNya. Saya tidak bertayamum, karena saya masih bisa ambil air, meskipun Masya Allah, freezing you know. Badan menggigil, kena air dingin, langsung seperti mau pingsan deh. Saya merasakan bahwa wudlu saya tidak – diistilahkan – tuma’ninah. Dan saya tidak basuh kaki yang sakit. Saya hanya bepikir, Allah tahu apa yang terjadi. Shalatpun tidak dilakukan dalam bentuk terlentang, karena saya masih bisa duduk, meskipun duduknya aneh. Dan saya tetap berpikir Allah Maha Rahman dan Rahim. Pelajaran kesepuluh bagiku: Allah tahu yang ada di hati. Ijtihad dengan alasan yang benar, Insya Allah ada dalam ridloNya.

Yang menjadi perjuangan selanjutnya adalah tidur. Pada tahapan ini, semua sakit dan lemas, sekarang ditambah dengan hal lain – demam dan meracau. Demam tidak bisa dihindari. Tapi meracau bisa dibiasakan dan dilatih. Meracaulah dengan baik, sopan dan bijaksana. Meracaulah seperti: “Astaghfirullah ya Allah, sakit banget”. “Ya Allah, katampi pisan ieu kanyeri teh”, “Ya Allah, gening kieu karaosna”. Janganlah meracau dengan kata-kata yang keji: “Gelo siah”, “Ambuing-ambuing, anjir nyeri pisan”. Apalagi kalo keluar semua nama binatang. Karena pelajaran kesebelas: Kebijakan seseorang bisa dilihat dari apa yang dia katakan pada saat meracau.

Setelah itu, baru nikmati jerih payah tingkah laku dan amalan kita sehari-hari, apakah kita ikhlas akan sakit dan kemudian bisa tidur – meskipun tidak nyenyak. Ataukah kita kehilangan tidur karena sibuk meracau, mendikte nama-nama bianatang di kebun binatang.

Pagi hari bangun, baru saya bisa melihat darah di kelingking kakiku. Saya kok lega ya. Pelajaran keduabelas: darah bisa juga disyukuri, tergantung cara dan situasi kita melihatnya.

Sepagian saya berjalan tertatih-tatih, ingkud-ingkudan. Saya pikir, badan jangan dimanja dengan kesakitan. Bismillah, kalau kita yakin cepet sembuh, Insya Allah sembuh. Maka saya paksakan dipakai berjalan dan menyetir. Duh, nyeri ternyata. Kepalang jalan, saya bawa deh kaki berjalan ke pameran buku – Bookfest. Karena hobi koleksi buku dan baca, jadi keasyikan selama dua jam di sana. Gile men, murahh banget, AUD 30 bisa seubrug-ubrug buku. Asyik di sana lantas lupa sama sakit? Enggak lah. Itu mah di sinetron saja: “kalau cinta sudah melekat, …. terasa coklat”. Cuman setidaknya, meskipun jalan ingkud-ingkudan, konsentrasi gak ke kaki yang sakit. Balik ke rumah mah, baru terasa sakit. Pelajaran terakhir: otak bisa mengatur rasa sakit.

Kembali ke alinea pertama. Apakah kita sebagai sesama Muslim dengan saudara kita di Palestina, sudah merasakan hal yang sama dengan mereka, seperti halnya semua badan saya sakit, meskipun hanya seujung jari kaki saya yang luka? Jawaban saya pribadi: Saya masih sedang belajar ke arah tersebut, namun dengan cara saya sendiri. Saya masih punya rasa solidaritas terhadap mereka. Saya masih punya rasa trenyuh. Saya masih punya rasa iba. Saya masih punya amarah terhadap Israel. Saya masih punya kekesalan terhadap Negara-negara yang apatis di dunia. Namun saya masih harus belajar memahami dan merasakan apa yang menimpa mereka dengan bijak. Tidak dengan emosional. Tidak meledak-ledak. Dan adakalanya orang lain tidak melihat apa yang sebenarnya kita lakukan dan rasakan. Apakah kita harus memberitahukan kepada orang lain: “eh, kemaren malam saya shalat ghaib untuk saudara kita di Palestina, khusuk sekali deh” – pake “deh” lagi, atau mengumumkan “Pak Fulan sudah mendonasikan hartanya sebesar AUD sekian untuk perjuangan Palestina” atau “semalam suntuk saya ikutan tahajjud bersama untuk berdoa bagi Palestina”. Bagi saya, sekali lagi bagi saya, semua itu bisa kita lakukan sendiri sendiri tanpa orang lain tahu. Ibadah tanpa pamrih, tanpa riya, tepat sasaran.

Ummat punya bagian masing-masing. Ada bagian yang berdemo. Ada yang doa massal. Semuanya bagus. Tapi bagaimana seorang muslim mengekspresikan perasaannya terhadap saudaranya yang lain dengan tepat, pribadi tersebut lah yang tahu. Yang penting bagi saya, sekali lagi bagi saya, apapun yang kita lakukan, jangan sampau menghilangkan dan menegasikan syiar Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Mengikutin sisindiran Ayi Ade Rukmana di milist SMA4:
Saninten buah saninten
Saninten dicarangkaan
Hapunten abdi hapunten
Tos wantun cacaritaan

Cag ah
Rifki, jam 11.17 wengi waktos Kiduleun Teh Anni ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s