Butet

Saya mempunyai satu kesukaan sedikit lain, yaitu mendengarkan musik dan lagu, terutama yang tradisional, dari negara lain. Negara mana saja. Suka, karena ada sesuatu yang lain yang bisa kita dengarkan. Gak peduli isi liriknya apa – karena gak ngerti, yang penting enak didengar, dan rasanya “eksotis”. Karena bagiku telinga melakukan tugas duluan – mendengar, kemudian baru diteruskan ke otak yang langsung menforwadnya ke “hati” sebelum kemudian otak baru sadar untuk mengolahnya dan mencernanya (he… aneh, otak kok baru “sadar”). Itulah kenapa kita kadang gak sadar kalo syair yang dilagukan gak ada artinya, tapi kita tetap suka akan lagu itu. “Suka” dan “menikmati” adalah tugas “hati” (ini istilah saya, mau dibilang otak kanan atau otak kiri, silakan…). Coba denger salah satu lagu jaman Ngak-Ngek-Ngok atau bahkan salah satu lagu Beatles yang isinya pesimis, atau lagunya Pink yang liriknya katanya sangat gak bagus (meskipun maaf saya belum dengarnya), kita akan menikmati melodi – musiknya, padahal kalau diteliti syairnya mungkin banyak yang gak setuju atau bahkan menggelengkan kepala.

Akhirnya hobiku kesampaian. Di crazy Bookfest kemaren saya dapat CD musik tradisional Irlandia, Finlandia, Perancis, Spanyol, Italia, Cina, Korea, Vietnam, Hawaii, India, Korea, Rusia, Yunani dan Cuba, selain tentunya CD Matt Bianco yang setahun belakangan saya cari-cari.

Dan hari ini saya sempetin dengerin beberapa CD tersebut. Salah satunya dari Cina. Musik tradisional Er-hu, sebangsa violin tradisional Cina – kira-kira kayak rebab Sunda. Artis yang memetiknya namanya Shi Lun Li. Saya suka sekali, karena begitu klasik.

Musik-musiknya mengalun indah – maksudnya kan jarang denger musik tradisional orang lain jadi ya aneh tapi menarik. Mungkin bagi orang Cina sama seperti orang Sunda mendengarkan kecapi suling Cianjuran. Yang kebayang adalah pedesaan, dengan sawah yang baru menghijau menghampar di sana sini, diselingi bapak-bapak petani dengan baju kerjanya, pangsi warna hitam seperti buat pencak silat dan pake dudukuy, topi bambu, yang lagi mencangkul (bukan men’traktor’) sawah. Ibu-ibu dengan sarung kebaya buat meladang dan baju brukat gak kepake – yang transparan sehingga kelihatan “dalamannya” dan pake sarung gendongan di kepala, sebagai topi, , tanpa makeup satu pulasan pun – namun cantiknya melebihi Anne Hattahway – alamu, sedang merunduk menanam padi.

Terbayang juga seorang ibu paruh baya berdiri di “galengan” (pematang) menggendong “boboko” (tempat nasi) – berisi nasi merah – dan “kendi” – bukan dispenser lho, berisi “cinyusu” (air dari mata air). Si ibu, dengan memakai baju yang hampir sama namun agak lebih bagus- juga menenteng “rantang” warna kuning telor atau “rantang borontok” warna hijau – putih berisi sayur asem. Di kepalanya dia “menyuhun nyiru” (aeh, hese ngeIndonesiainnya) berisi makanan, “seupan daun sampeu” (daun ketela), tahu goreng, tempe goreng, ikan gabus, kerupuk udang (tuh kan, ini mah menu timbel komplit Rumah Makan Sindang Reret). Sambil “nyeupah” gak henti-henti, sekali kali ceprot meludah warna merah, memanggil “Ujang … Nyai …., dahar heula yeuh…!”. Gak peduli anak sudah tua, seorang ibu jarang manggil di sawah “Kasep ….. geulis …. Kadieu tuang heula”, kecuali buat ngingrat (but ningrat mah mana nyawah nya..).

Sementara di kotakan sawah lainnya, seorang anak kecil sedang duduk di atas kerbau yang sedang merumput setelah capek membajak sawah. Dia duduk, sambil meniup seruling bambu (maksudnya si anak kecil, bukan si kerbau). Sementara di gubug bambu di sebelahnya, seorang pemuda pengangguran, tapi bersemangat seni tinggi, sedang menerawang. Dengan mengisap lintingan rokok keretek, dan melingkarkan sarung di badannya – bayangkan lah Kabayan, dia menggesek rebab, mengiringi tiupan suling. Gesekan rebabnya indah sekali, persis dengan CD yang sedang saya dengarkan.

CD Er Hu berputar terus dengan gemulai gesekan rebab yang indah. Sampailah akhirnya ke musik nomor enam, saya agak sedikit lebih terbuai. Melodinya indah, mengingatkan saya ke masa lalu, masa-masa indah di SMP dengan segala kekocakan, kelucuan, kekonyolan,, kebandelan …. dan kesepian. Di saat yang bersamaan, bayangan kampung dengan sawah, petani dan lain-lainnya berganti background. Baju pangsi, kebaya dan lain-lainnya berganti. Dibenakku sekarang penuh dengan tarian, dan ritual dengan busana tradisional yang indah.

Seperempat bagian lagu, saya mulai sadar dari buaian. Saya pasang telinga baik-baik. Kok rasanya saya akrab dengan melodi itu. Saya coba ingat-ingat melodi dari lagu apakah itu. Masya Allah, terbayang satu wajah teman cewek sekelas di SMP yang wajah dan namanya khas dari satu daerah di sebelah Barat Indonesia. Subhanallah, satu lagu bisa membangkitkan nostalgia hingga dua puluh tahunan ke belakang. Tidak hanya mengingatkan saya akan nama teman lamaku, tapi sekaligus dengan kejadian-kejadian lucu di sekelilingnya sewaktu di SMP (jamannya lagi culun-culunnya, he …).

Terbayang satu buah lagu rakyat yang cukup saya hapal. Kemudian saya coba nyanyikan lagu tersebut dengan syair yang saya hapal – tentunya dengan bahasa yang belepotan, karena bukan bahasa daerah sendiri. Saya dengerin terus sampai selesai, dan saya coba nyanyiin. Kaget juga sewaktu sadar bahwa semua melodinya betul-betul sama. Lekak-lekuk nadanya juga sama, yang beda karena ini cuman pakai rebab cina, jadi keliatan kayak tradisional Cina. Persis sama. Yakin, betul-betul sama persis. Persis banget. (waduh semangat banget).

Ya, teman SMPku di SMP 11 Bandung memang berasal dari Sumatra Utara, suku Batak. Namanya Butet Sitorus (di mana sekarang ya dia). Dan lagu itu tidak lain dan tidak bukan berjudul Butet.

Mulailah saya curiga. Rasanya sudah sering mendegar diserobotnya kebudayaan kita oleh Negara lain. Mulai dari batik atau lagu yang diserobot Malaysia sampai durian yang sekarang sudah identik dengan Singapore. Sekarang saya dengar lagu punya bangsa sendiri ada di CD tradisional Cina. Rasa kebanggsaanku tergores dong (ciee… patriotik amat).

Banyak pikiran yang muncul. Apakah memang ada kemiripan lagu mereka dengan lagu dari salah satu daerah kita? Apakah justru lagu daerah kita yang berasal dari Cina, seperti halnya banyak kebudayaan Cina yang diadaptasi ke dalam kebudayaan kita. Atau apakah ini kelanjutan dari pencurian kebudayaan kita oleh Negara lain? Kalo ini benar yang terjadi, kenapa masih terjadi? Di mana fungsi Departemen Kebudayaankah? Apakah kita harus tinggal diam? Apakah kita baru teriak rame-rame setelah mereka resmi mendaftarkannya ke lembaga hak cipta dunia? Kalo sudah begitu, dan kalau sudah terlambat, percuma juga kita berkoar-koar, seperti berkoar untuk Sipadan dan Ligitan. Wuah … banyak sekali yang ada di benak.

Yang ada di benak saya sekarang positif thinking. Iya dong, ,kita harus berpositif thinking. Jangan-jangan itu memang lagunya Butet, diadopsi dengan alat musik tradisional mereka. Mungkin si produsernya menyukai sejarah, dan sewaktu mengakses Wikipedia dia menemukan kalau letusan gunung berapi terbesar di dunia adalah gunung berapi Toba Kuno – yang letusannya begitu dahsyat sampai memusnahkan separo penduduk bumi, ribuan tahun lalu.

Kemudian mungkin si produser memutuskan untuk maen ke Danau Toba menikmati keindahan alam Sumatera Utara yang perawan dan eksotis (jangan berpikir jorok, meski bahasa Inggrisnya kesannya ke sana – “virgin and exotic”). Dan karena demi mencari suasana eksotis itulah, daripada menginap di hotel berbintang, yang bagi dia sudah biasa saja (atau memang gak punya duit), si produser itu memilih menginap di losmen pedesaan yang asri di Pulau Samosir atau di suatu kampung di dekat Danau Toba.

Mungkin di sinilah, sewaktu si produser tersebut mau beli rokok di warung terdekat yang berjarak lima puluh meter dari losmen, sambil berjalan telanjang kaki, kan lagi keren biar dibilang lebih bersentuhan dengan bumi – walah, dia berpapasan dengan anak-anak perempuan yang lagi bermain congklak (halah di Toba ada permainan congklak gitu), dan beberapa ibu-ibu lagi latihan menari, sementara beberapa anak sedang menyimpan persedian padinya di lumbung sambil menatap sambil mengacungkan jempolnya. (Eh, jadi ngambil iklan-nya RCTI Oke nih, lagian itu mah di Padang kan).

Saat itu, sekali lagi ini kemungkinan loh, dia dengar ada seorang ibu (Emak, Enyak, Umi, Simbok, Mpok, Ibu, Mamah, Mamih, pokoknya apalah Orang Batak manggil ibu, lupa…) yang meraung-raung dikelilingi keluarganya, meratapi anak perempuannya. Ya, si ibu meratap sambil menyanyi lagu “Butet”.

Mungkin, sekali lagi berandai-andai, si produser tersebut trenyuh melihat ikatan batin seorang ibu dan anak gadisnya. Lagu Butet terngiang-ngiang terus di telinganya, dan kejadian tersebut terpatri dalam benaknya. Sejak itu dia mempunyai tekad akan mempromosikan lagu Butet tersebut. Yang pasti dia memberi nama lagu tersebut di CD yang saya punya, nomor 6: “Baby”. Mungkin karena gak cocok ngasih nama “Butet” kali karena bule pada gak ngerti (kalo bu bahasa Inggris – “boo” artinya kan olokan, mengolok), atau gak ngasih nama “Daughter” karena gak komersil, saya pikir judul lagunya sedikit mencerminkan isi lagu Butet.

Yang jadi pertanyaan, apakah betul bahwa dia mengadopsi lagu Butet? Kalo memang betul, apakah prosedurnya sudah jelas dengan melibatkan permohonan ijin dan memperhitungkan royalty? Atau apakah dia ambil jalan pintas saja, karena dia tidak mau berurusan dengan lika-liku perijian yang berbelit-belit, kemudian dia lantas ambil saja lagu itu? Mungkin niatnya mulia, membantu mempromosikan lagu daerah Indonesia, namun siapa yang tahu. Mungkin dia berpikir, nanti kalo ada yang nanya baru dia kasih tahu, but who will ask? Entahlah. Mungkin ada salah seorang yang harus mencoba menelusurinya. Mungkin kewajiban “lae-lae” (bhs Batak untuk sodara?) di milist ini untuk mencoba mencari kebenarannya. Bah, kita harus jaga agar si Butet tidak dicuri orang (mode Bahasa Batak On).

Saya tadinya mau copy-kan lagu tersebut, dari CD Er Hu, Chinese Violin by Shi Lun Li, by Blue Butterfly PTY Ltd. Tapi berhubung saya sadar hokum, saya tidak mau melangkahi hak ciptanya, meskipun belum tentu mereka juga menghargai hak cipta kita. Jadi kalau ada yang mau dengar, coba di search di Google.

Cag

26-01-09 3.30pm
Gong Xi Fat Choi
Four hour to Australian Day fireworks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s