Pehaka – Ubah cara pandang

Jadi miris dua hari belakangan ini (pake bahasa Endhi: miris). Dua kejadian di dua tempat yang sangat berjauhan, dan tidak ada kaitan sama sekali, namun mengarah ke satu masalah, kena pehaka.

Menurut berita di koran, di Amerika sepasang suami istri membunuh tiga orang anak, sebelum kemudian bunuh diri, beberapa hari setelah mereka berdua dipecat.

Di Melbourne, beritanya sempat mengalahkan turnamen Australia Terbuka sebentar. Hari Kamis, jam sembilanan pagi, di keramaian lalu lintas, sekonyong-konyong seorang bapak berenti di atas Jembatan Gerbang Barat (West Gate Bridge), kemudian membawa anak keci berusia empat tahun – anaknya – ke tepi jembatan dan kemudian melemparkan anaknya ke sungai Yarra. Jangan menganggap jembatan tersebut seperti jembatan dikali Ciliwung, tapi bayangkan jembatan pelabuhan Sydney – Sydney Harbour Bridge. Itu artinya dia melemparkan anaknya dari jembatan ke sungai di bawahnya, setinggi 58 m atau bayangin sebuah gedung dengan 17 lantai. Meskipun tidak tenggelam dan bisa diselamatkan beberapa jam, namun si kecil berusia empat tahun – Darcey Freeman, meninggal juga. Ditengari bapaknya sedang depresi.

Kawan, kita jangan seperti mereka. Kita orang Timur. Kita masih punya nurani. Kita masih punya akal. Kita masih punya harapan. Dan kita masih punya Penolong.
Depresi adalah suatu hal yang wajar, tapi mungkin kita bisa mencoba untuk berusaha ikhlas. Dengan ikhlas mungkin bisa menolong banyak. Mungkin kita bisa lebih berpositif thinking. Pasti ada sesuatu dibalik musibah atau ujian. Entah itu hikmah, entah itu keberuntungan lain, entah itu sesuatu rejeki yang kita tidak pahami.

Kita bisa belajar dari pembaca berita Metro TV yang tidak bekerja lagi setelah berjilbab. Dia – saya baca dari email teman – mengambil hikmah dengan “dipecat” ternyata punya rejeki lain, “waktu”, sehingga bisa menemani ibunya – walau akhirnya meninggal. Berpikir positif terlihat begitu indah. Mungkin untuk yang berpikir negative, dia akan mengutuk – sudah mah dipecat, ngabisin waktu begitu lama, eh ibunya meninggal lagi.

Mungkin sekarang kita bisa ubah cara pandang kita. Dari sudut pandang agama, yang kita cari adalah ridlo Allah. Jika hal ini terlalu berat dan terlalu muluk, berusahalah mengubah cara pandang, bahwa yang dicari adalah bukan uang, tapi kebahagiaan. Ah itu mah omong kosong dan terlalu ideal? Betulkah?

Nggak juga sih. Saya setuju dengan pendapat seorang teman. Pehaka hanya merubah pola hidup kita. Sewaktu masih bekerja, materi tersedia – dalam bentuk penghasilan dan gaji. Pekerjaan tersedia tiap hari, malah menjadi rutinitas. Makan bisa dengan senang hati memilih menu yang diinginkan. Setelah dipehaka, terjadi perubahan pola hidup. Materi tersedia dalam jumlah yang sedikit, dalam bentuk uang pesangon. Kegiatan rutin sudah tidak ada, sehingga justru harus mencari kegiatan lagi. Kehidupan tidak bisa lagi seenaknya, karena semuanya harus diatur dan diirit. Masalahnya, bisa tidak kita mengalami perubahan pola hidup demikian.

Insya Allah kita semua akan bisa, asal kita bisa menyingkirkan ketakutan akan kesengsaraan. Tiga hal yang terus terngiang di benak saya. Pertama: Allah tidak akan menurunkan cobaan melampaui yang tidak bisa kita tanggung. Kedua: Allah menurunkan rejeki dari arah yang tidak terduga. Ketiga: Allah adalah Maha Pengasih dan Penyayang.

Kita merunduk, belajar dari sodara-sodara kita yang tidak beruntung. Banyak pegawai pabrik yang terkena pehaka sejak krismon tahun 98 dahulu yang sampai sekarang kerja serabutan. Tapi Alhamdulillah Allah Maha Adil. Memang benar mereka kekurangan, tapi mereka tetap bisa hidup dan bahagia. Memang benar pada satu saat, saat-saat membutuhkan materi untuk makan dan sekolah, mereka tertekan dan bersedih. Namun lihat, mereka masih bisa tertawa lepas, berbahagia. Jarang kita lihat mereka menderita penyakit parah, paling diare, masuk angin dan tinggal dikerokin.

Kuncinya tinggal Ikhlas, Usaha dan Silaturahim. Silaturahim penting, karena dalam kondisi kita sedang kekurangan, kita butuh pertolongan dari sesama manusia juga. Jika kita punya hubungan baik, silaturahim terjaga dengan saudara, family, rekan, sahabat, Insya Allah tanpa diminta pun mereka akan mengulurkan tangan.

Mudah-mudahan rekan-rekan dan kawan-kawan yang sedang mendapatkan musibah, diberi kekuatan iman dan diberi keikhlasan, diberi kelancaran dalam perjuangan di masa depannya, diberi kebahagiaan lahir bathin.

Cag,
1 February 2009, 09.30am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s