Syukur

Menyimak berita di beberapa media, cuaca di dunia akhir-akhir ini berada dalam titik ekstrim. Serangan gelombang panas di Melbourne dalam dua minggu terakhir, diikuti oleh padamnya listrik untuk sekian puluh ribu masyarakat. Gelombang panas tersembut masih berlanjut ke Adelaide, yang diperkirakan akan berpuncak pada suhu 48 derajat celcius.

Di kutub yang lain, gelombang hujan salju menimpa London, dan diperkirakan sebagai gelombang salju terburuk dalam dua puluh tahun terakhir. Pun demikian di beberapa belahan dunia lainnya termasuk di Amerika.

Tak kalah serunya adalah banjir yang menimpa Queensland Utara, dimana satu kota keil – Bedourie – telah dikepung air selama beberapa hari, dan sekelilingnya sudah tercipta sebuah danau. Sementara kebakaran hebat terjadi di beberapa bagian Victoria, yang menyebabkan seratus lebih pemukiman hangus dan diperkirakan empat puluh orang meninggal.

Kejadian ekstrem tersebut tidak pernah terjadi di Negara kita, khatulistiwa. Kita tidak pernah menemukan kejadian ekstrem dimana perbedaan suhu siang dan malam demikian mencolok. Sepanjang tahun kita juga dilimpahi mentari yang bersinar secara bijaksana, dengan suhu yang normal – masih dibilang nyaman untuk ukuran manusia. Tidak pernah atau jarang terjadi anak manusia Indonesia meninggal karena gelombang panas atau justru gelombang dingin.

Banjir memang terjadi, namun tidak dalam skala yang begitu luas, terbatas pada daerah-daerah berkontur rendah. Kebakaran hutan memang terjadi, namun umumnya itu disebabkan ulah manusia, dan tidak memakan korban. Korban utama adalah udara yang terpolusi.

Karunia Ilahi ini jarang sekali diperhatikan. Salah satu sifat manusia adalah abai terhadap nikmat Ilahi dan lupa mengucap syukur. Selama tidak terjadi sesuatu yang buruk, maka manusia biasanya terlena. Selama belum ada bencana, manusia tidak merasa patut bersyukur. Dan pada saat satu nikmat dikurangi, baru mereka sadar sadar bahwa ternyata kita beruntung sekali. Tetapi apakah kita harus menunggu dikuranginya satu nikmat dan datangnya bencana agar kita mengerti bahwa begitu banyak karunia Allah selama ini?

Karena setiap hari dan setiap saat, kita menerima sinar matahari yang sama, dengan temperature di kisaran yang tetap, menjadikan kita menganggap itu hal biasa. Padahal seberapa banyak masyarakat Eropa, Inggris khususnya, yang menabung untuk berwisata ke Negara tropis, hanya untuk mencari dan menikmati hangatnya sinar mentari.

Tanda kasih sayang Allah makin terlihat jika kita sadar bahwa jarang kita mendengar rakyat Indonesia terkena kanker kulit melanoma, meskipun kita terkena sinar matahari setiap hari. Padahal, demi mendapatkan kulit gelap / tan – sebagai tanda kulit sehat -orang Barat rela berjemur, memanggang tubuhnya, meskipun beresiko terkena kanker.

Air adalah karunia Allah yang paling berharga. Apa jadinya jika kesulitan air yang menimpa kota Brisbane terjai di Jakarta. Sampai dengan penghujung tahun lalu, Brisbane sudah tidak mendapatkan hujan dalam jangka waktu yang lama. Masyarakat Brisbane – dan Queensland secara umum, lebih bergantung pada kuantitas air di beberapa waduk, yang umumnya hanya berisi 20-30%.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya kelangkaan air, sehingga perlu dilakukan peraturan pengetatan air. Pada saat itu, air mengalir tidak boleh dipergunakan untuk menyiram tanaman. Tanaman hanya boleh disiram dengan air bekas pakai. Air tidak boleh dipakai untuk mencuci mobil. Tiap keluarga mendapatkan batas atas penggunaan air, dimana jika terlampau akan dikenai biaya / denda. Dan pemerintah daerah membuat Patroli Air, untuk mengawasi penggunaan air di masyarakat.

Bandingkan dengan kondisi di Indonesia. Hujan masih rutin turun. Air masih mengalir di sungai. Air tanah masih bisa diandalkan. Tapi, kenapa kita abai. Kita, masyarakat, pengusaha dan penguasa. Masyarakat abai dalam bentuk pemakaian air berlebihan – mencuci kendaraan dengan air mengalir berlebihan – dan tidak menjaga kebersihan sungai. Pengusaha abai dalam bentuk menggelontorkan limbah langsung ke sungai. Penguasa abai dalam bentuk ketidakpedulian terhadap tata ruang dan penegakan peraturan.

Saya bermimpi ada satu saat Negara kita begitu bersyukur. Masyarakat sadar akan pemisahan sampah, dan membuangnya di tong sampah terpisah. Pengusaha sadar untuk mengolah limbah sebelum dibuang ke sungai. Pemerintah mengatur tata laksana sampah, baik dalam bentuk incinerator atau pengolahan lebih lanjut. Dan pemerintah juga menegakkan taat ruang kota, sehingga daerah resapan air masih bisa terjaga.

Jika itu terjadi, kita bersyukur dan Allah akan memberikan nikmat lebih dari arah yang tidak diduga. Kota menjadi indah, dengan taman-taman yang hijau, tempat burung-burung dan kupu-kupu beranak pinak. Sungai menjadi jernih, dengan tepi kali yang rapi, sehingga bisa dipakai untuk berolah raga, sambil menghirup udara segar. Kita tidak perlu berjauh-jauh ke negeri orang untuk menikmati kebebasan dan keindahan taman dan sungai kota.

Pembangunan berjalan berkesinambungam dalam simbiosis mutualisme. Pemerintah menegakkan aturan pengolahan limbah, pengusaha mendapat reputasi dan pengakuan dari lembaga akreditasi lingkungan internasional karena taat aturan, pengusaha jasa dan konstruksi mendapat rahmat proyek pengolahan limbah, rakyat mendapatkan pekerjaan.

Mimpi indah di atas hanya dari satu bentuk syukur terhadap karunia Ilahi dalam bentuk Air. Dalam mimpi itu terlihat begitu banyak nikmat lain yang akan tercipta.

Apalagi jika kita bermimpi untuk mencoba bersyukur atas karunia Allah lain dalam bentuk rizki sinar matahari, gelombang laut, angin dan udara.

Siapkah kita bersyukur? Nikmat Allah apa lagi yang akan kita dustakan?

Cag,
8 Feb 2009 08.47am

Buat apa aku rasakan gelombang panas
Menyengat…..
Empat puluh delapan derajat
Seperti di Adelaide hari ini
Karena aku ada di sini
Hangatnya Bumi pertiwi

Aku toh gak butuh mentari
Yang sudah membuat gelap kulitku
Karena asaku dan citraku adalah putih
Seputih bintang filem Indo
Yang berlulur bengkoang bertabur berlian
Seminggu sekali

Buat apa juga bersusah merasakan
Dingin menusuk dan mencekam
Satu setengah meter terbenam
Salju kota London
Kala kita menggigil makan jagung bakar
Di indahnya dingin Pangalengan

Aaahhh indahnya Nusantara
Sampai membuat lupa
Semua manusia di sana
Untuk mengerti satu kata
…..syukur

Tuhan belum angkat dingin pagi kota Malang ke panas Surabaya dalam satu hari
Seperti ekstrem suhu di Sahara di pagi dan malam hari

Tuhan belum ciptakan banjir besar di Bandung dan kebakaran besar di Lampung pada satu waktu
Seperti Tuhan kepung penduduk Ingham dengan banjir sedada
Dan Dia kepung pedalaman Victoria dengan api setinggi tiga pohon kelapa
Hanya dalam satu masa

Tuhan belum kurangi air Jakarta
Dan udara segar Tana Toraja
Tidak semenderita tanaman di Australia
Yang hanya hanya mendapat jatah boleh disiram segayung air saja
Atau kendaraan dibiarakan merana
karena menunggu siraman hujan … itupun kalau ada

Andai wanita Indonesia bersyukur
Mendapat limpahan cahaya mentari yang bijaksana
Tanpa susah berjemur dan didera melanoma
Hanya untuk mendapatkan kulit sehat gelap merona

Andai kita bisa bersyukur
Mentari memancar tanpa henti
Dengan suhu yang masih bisa dinikmati
Terbit di pagi dan terbenam di malam hari
Pada saat yang sama, tanpa henti, tanpa peduli musim berganti

Andai kita bersyukur
Hujan turun dengan iklhasnya
Tanaman bersukaria dankendaraan berbahagia
Menadpat siraman air sesuka kita

Kenapa kita begitu menderita
Hanya untuk mengerti satu kata
…syukur….

2 thoughts on “Syukur

  1. salam kenal pak Rifki.
    saya ingin sekali naik perahu karet seperti di foto itu. di mana ya? apa perlu belajar dulu? anak balita boleh diajak nggak?

    maturnuwun atas jawabannya. (tolong via email saja ya…)

    dari Jogja….

  2. salam kenal juga.
    saya naik perahu itu di citarik di sukabumi, istilah kerennya rafting – berperahu di air deras. mungkin di jogja juga ada. anak balita ya gak bisa lah, mungkin bisa mulai dari usia smp atau sma.
    rf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s