Adakah penghormatan terhadap kaum cacat di Indonesia

Melihat dengan kacamata berbeda sangatlah diperlukan dalam menciptakan harmonisasi kehidupan sosial. Pernahkan kita melihat kehidupan ini dari kacamata orang yang memiliki kecacatan, atau ketidaksempurnaan fisik – ketidaksempurnaan dari kacamata seorang manusia.

Sewaktu saya kecil, sekitar kelas lima atu enam SD, saya takjub melihat sepasang suami istri, yang sama-sama kehilangan indera penglihatan, bepergian menggunakan bis kota, baik sendirian maupun berduaan, tanpa terlihat khawatir tersesat, cemas dengan apa yang terjadi. Saya melihat ketegaran dan keikhlasan di wajah mereka.

Bagaimana Allah tidak adil, Beliau memberikan anugrah pengganti bagi mereka yang tidak melihat, anugerah perasaan dan intuisi (atau apalah disebutnya) sehingga mereka bisa tahu kalau arah jalan yang diambil adalah benar. Dengan pola pikir kita, alangkah hebatnya bepergian dari Gg H Kurdi di Mohamad Toha Bandung ke kampus IKIP di Ledeng bisa dilalui tiap hari tanpa indera penglihatan.

Mari kita coba praktekkan apa yang mereka lakukan. Kita tutup mata barang satu atau dua jam, dan coba lalui jalur mereka pergi, tidak usah jauh-jauh, dari Cigereleng ke SMA 4 di Gardujati, dengan bis kota jurusan By-pass Ledeng. Bisakah kita turun pada tempat yang tepat, dan dan tanpa salah belok malah ke Jl Saritem? (jangan ada yang tersinggung ya, he …..)

Pernah jugakah kita berpikir apakah dunia ini memberi kemudahan bagi mereka? Adakah fasilitas-fasilitas umum dilengkapi dengan huruf braile? Tersediakah pekerjaan “mulia” untuk ukuran mereka di luar sebagai tukang pijat? Relakah sebuah perusahaan mengalokasikan beberapa posisi pekerjaan operator telepon, atau phone customer service kepada mereka, karena toh mereka mempunyai kecerdasan, mereka mempunyai pendengaran, dan mereka mempunyai keahlian.

Saya masih ingat waktu terkena musibah kecil, jari kelingking kaki terjepit. Begitu menderita, tiga hari tidak bisa pakai sepatu dan satu minggu jalannya “cingkud” (apa ya bahasa Indonesianya?). Dan satu minggu pula saya menderita jika harus ke lantai dua dan meniti anak tangga. Namun itu tidak seberapa, dibandingkan saudara kita yang berkursi roda.

Untuk urusan sepele seperti pengurusan KTP saja alangkah berabe. Kita coba berperan sebagai mereka.
• Pagi hari keluar rumah, melewati jalan / gang yang tidak mulus. Jarak seratus meter saja perjuangannya sudah demikian berat. Beruntung kalau bertemu orang yang masih mempunyai nurani untuk membantu.
• Mau bepergian, bingung sarana transportasi. Naik taksi? Bagasi tidak cukup buat naro kursi roda. Naik bis? Please deh, gimana bisa, orang normal saja harus berjuang ekstra. Naek kereta? Di Gambir saja platformnya di lantai dua. Sangat beruntung kalau liftnya sedang berbaik hati, tidak ada masalah (eh, apa Gambir dah punya lift?). Naek bajaj atau ojeg? Well, boleh lah, dengan pengerahan mental dan tenaga berlebih.
• Sudah di depan kelurahan, masih tetap menghela napas. Adakah di Jakarta ini kantor kelurahan yang begitu baik buat penyandang cacat, sehingga setidaknya lantai ruangan dan halaman tidak bertangga? Hampir mayoritas kantor kelurahan mempunyai level lantai dalam dan luar yang berbeda – dengan maksud menghindari banjir.
Itu hanya untuk pengurusan KTP saja. Bagaimana dengan urusan-urusan lainnya?

Fasilitas bus umum ramah penyandang cacat
Fasilitas bus umum ramah penyandang cacat
Kecerdasan emosi seorang manusia diolah dan diasah jika kita bisa melihat kehidupan dai sudut pandang yang lain. Jangan memproklmasikan diri cerdas, jika di hati masih terbetik suatu penghinaan halus terhadap orang lain yang tidak sempurna (saya mencoba menghindari istilah “tidak beruntung”, itu bisa berarti bahwa Tuhan mereka pilih kasih, karena bagi mereka itulah kasih sayang Tuhannya).

Coba amati diri kita. Apakah dengan menertawakan seseorang yang latah atau membuat dia terus latah bukan sebuah penghinaan? Tidakkah itu berarti penghancuran jati diri dan kepercayaan diri bagi mereka?

Tolong jujur. Pernahkan kita tertawa jika mendengar orang yang berbibir sumbing bicara sengau? Bukankah malah sering dijadikan bahan hiburan bagi pelawak? Apakah mereka ikhlas ditertawakan.

Janganlah kita tanpa sadar menjadi penyebab seseorang kufur nikmat. Kita masih harus belajar menghargai mereka.

Saya justru belajar dari sebuah acara “So You Think You Can Dance Australia”. Seorang pemuda 20 tahunan, bertampang biasa-biasa saja, dengan percaya diri ikut audisi, dan lolos ke Top 100. Tarian “tap dance’nya dipuji para juri. Padahal dia punya satu “kelemahan”: bicaranya gagap habis. Dan dia mengajak pemirsa yang mempunyai kelemahan seperti dia untuk tetap percaya diri, tidak patah semangat dan terus berusaha. Dan satu yang saya kagumi adalah sikapnya sewaktu satu juri wanita menangis terharu mendengarnya, dan pemuda itu malah menghibur dan bilang: “Oh, please don’t cry”. Sebuah pelajaran indah sekali, dimana kesempatan yang sama dberikan kepada semua orang, karena yang dibutuhkan adalah keahlian. Pelajran lain adalah bagaimana seorang yang dianggap “cacat” mempunyai harga diri untuk tidak “ditangisi” dan bisa menunjukkan keteguhan hati.

Silakan simak di link ini:
Saya bermimpi program televisi di Jakarta bisa seperti itu, memberikan kesempatan yang sama ke semua orang, dan bisa mengubah persepsi masyarakat dari sesuatu yang dipandang negatif menjadi begitu positif. Itu jauh-jauuuuuh sekali lebih bernilai dibandingkan dengan program teve yang memantik dan mengolah emosi, tanpa melatih “pengendalian”nya.

Wah, ternyata masih banyak yang harus kita pelajari.

Cag,
10 February 2009, 9.11am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s