Resesi ekonomi dari kacamata awam

Resesi dunia berkembang justru dimulai dari Negara yang menyatakan diri paling maju secara teknologi dan ekonomi, Amerika Serikat. Semua dimulai dari permasalahan kredit perumahan. Sesederhana itukah awal perrmasalahannya? Kredit macet?

Saya jadi punya sedikit rasa bangga bahwa setidaknya di Indonesia, pengucuran kredit tidak dilakukan secara semena-mena, tetapi melalui assessment yang cukup teliti, apakah akan lancar dalam pelunasan kredit atau tidak. Bolong di sana dan di sini memang masih ada, tapi saya pikir itu kasus khusus, terlibat keserakahan beberapa orangsaja.

Sementara yang saya pahami, di Amerika Serikat kredit untuk perumahan digelontorkan dengan begitu mudahnya, bahkan saya dengar tidak melalui assessment sama sekali. Baru setelah begitu banyak kredit yang macet, bank-bank kelabakan yang berujung collapse.

Buntutnya, daya beli masyarakat turun, kredit tidak bisa dilunasi. Satu orang rekan saya yang baru pulang dari satu kota di AS menceritakan bahwa krisis begitu kentara, dimana dia jumpai satu perumahan sudah menjadi kota hantu, ditinggalkan penghuninya, dan di halaman tiap rumah terpatok pengumuman “For Sale”.

Akibat penurunan daya beli masyarakat AS berimbas ke China, dimana AS merupakan market utama barang-barang China. Ini berakibat lebih jauh sehingga menurunkan produksi beberapa komiditinya. Penurunan produksi kemudian membawa buntut penurunan permintaan akan bahan bakar, seperti batu bara. Australia sebagai pemasok batubara, akhirnya terkena getahnya.

Wuah, rumit, semua saling bertaut. Dunia sudah semakin mengkerut. Negara-negara sudah menjelma menjadi kampung dunia – global village. Satu Negara membutuhkan Negara lain untuk hidup dan berkembang. Simbiosis.

Lantas, bisakah kita di Indonesia menghadapi resesi ini?

Saya hanya tersenyum dan manggut-mangut sewaktu satu rekan menyadarkan saya dengan satu pertanyaan “Emang, kita sudah lepas dari krismon tahun 97?”, dan ditimpali rekan lain “Kayaknya Indonesia negara yang paling lama kena krismon kemaren.” Jadi intinya mungkin bagi kita resesi sekarang bisa dianggap “so, what gitu loh….”

Inilah kelebihan bangsa Indonesia. Allah memberikan karunia dari beberapa sifat jelek kita – yang mungkin tidak kita sadari – yaitu sifat “cepat lupa”, “tidak peduli” dan “keep happy coy”.

Kita memang cepat lupa ya bahwa krismon kemaren belum selesai.
Atau kita memang tidak peduli karena menganggap bahwa krismon atau tidak kesulitan hidup mah tetap saja sama. Bahkan apa bedanya krismon sama resesi pun gak tahu.
Ah, yang penting hepi. Enjoy the life, meskipun yangkaya tambah kaya, yang miskin makin terbelenggu kemiskinan.

Saya sadari, dalam kehidupan sehari-hari sifat-sifat tersebut tidak menguntungkan.
Jangan sampai karena cepat lupa, pembunuhan Munir, korupsi pejabat dan lain-lain mentok dan dibiarkan berlalu.
Jangan karena tidak peduli, akhirnya pemimpin yang salah dan tidak amanah yang menang dalam Pemilu dan Pilkada.
Dan jangan sampai kita selalu ceria dan gembira, meskipun jelas-jelas hak sebagai warga Negara terabaikan.

Untuk kali ini, masa sulit ini, rasanya sifat-sifat jelek tersebut bisa dipahami lah, tidak perlu dipermasalahkan. Mungkin juga karena sifat-sifat tersebut, persentase bunuh diri karena frustasai tak setinggi di negara maju.

Namun rasanya akan lebih indah ya jika kita ganti ketiga sifat tersebut dengan kata pasrah dan ikhlas. Terdengar lebih manusiawi. Ya, manusiawi, karena kita masih sebagai manusia yang masih mempunyai Tuhan, Allah. Dan itu artinya kita pasrahkan dan ikhlaskan segala yang terjadi, setelah berusaha, kepada Allah. Karena Dia-lah satu-satunya penolong.

Sehingga sifat cepat lupa kemudian memiliki makna baru yaitu tidak terlena dengan segala kejayaan masa lalu, tidak terbenam dalam penyesalan dan tidak dikuasai permusuhan turunan. Semua bisa kita lupakan setelah mengambil pelajaran untuk melihat ke depan.

Sehingga sifat tidak peduli kemudian memiliki makna positif yaitu menjadi tidak peduli akan betapa berat tantangan, betapa keras halangan dan betapa sulit hambatan, semua tidak dipedulikan selama apa yang kita cari dan apa yang kita lakukan sudah dalam jalur yang benar dan bijak.

Sehingga sifat “keep happy” kemudian diartikan tetap gembira, bukan kegembiraan di atas penderitaan orang, tapi menularkan kegembiraan terhadap orang yang menderita, disertai dengan iringan ketabahan dan kerja keras.

Cag.
11 February 2009, 8.00am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s