Jaipongan

Jaipongan adalah salah satu seni Sunda dalam bentuk tarian. Saat ini jaipongan sedang menjadi topik pembicaraan, baik di media, masyarakat maupun di facebook, sehubungan dengan larangan dari Gubernur Jawa Barat terhadap jaipong. Sahabat dekat saya pun menyuarakan keberatan yang sama.

Sebagai orang Sunda, saya pun termasuk bingung. Bukan bingung dengan langkah yang diambil Gubernur Jawa Barat, tetapi bingung menjawab pertanyaan sahabat saya. Di satu sisi saya memahami keberatan mereka-mereka yang tidak setuju, di sisi yang lain saya setuju dengan keputusan Gubernur tersebut.

Punten ah, jadi pengen ikutan bicara dan mengutarakan pendapat, meskipun hanya dalam bentuk Notes di Facebook. Kepala sama hitam, tapi pendapat tiap orang pasti berbeda. Namanya kehidupan facebook, kita tidak harus setuju terhadap semua permasalahan. Yang penting, kita menghargai pendapat masing-masing. Ini hanya pendapat saya pribadi, silakan jika menyimpulkan bahwa saya membela Gubernur atau apalah.

Saya membaca dari koran Pikiran Rakyat edisi online tanggal 6 Februari, bahwa instruksi Gubernur adalah bukan pelarangan namun dalam bentuk pengurangan unsure 3G – Geol, Gitek dan Goyang (untuk yang bukan orang sunda, geol dan gitek anggap saja sama dengan goyang). Atau istilah lain penghalusan.

Saya pikir instruksi tersebut bijaksana, bukan pelarangan tetapi meminta pengurangan unsur 3G tersebut. Hal ini bisa diartikan bahwa pemerintah masih membuka peluang untuk komunikasi dan dialog untuk merumuskan unsur yang mana yang harus dikurangin. Bahkan jika di satu tarian tidak terbukti ada yang perlu dikurangi, ya mungkin tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan pelarangan. Saya malah berpikir dengan tidak langsung dilarang, adalah suatu kesempatan untuk para inohong (tetua) kesenian sunda untuk berembug, sehingga mencapai kata sepakat.

Saya memahami sewaktu Pak Aang Kunaefi menjadi Gubernur, beliau melarang Jaipongan karena unsur 3G-nya begitu dominan, dan menjadikan kesenian sunda dipandang lekat dengan unsur sensual. Namun yang jelas, keputusan yang diambil menurut saya untuk kebaikan masyarakat (istilah agamisnya kemaslahatan ummat), melindungi pelaku seni dari tindakan tidak senonoh, seperti pelecehan seksual, dan mendudukan kesenian sunda itu sendiri pada tempat yang terhormat. Jangan hanya karena sering dikonotasikan negatif, membuat kesenian Sunda ini mendapat tempat yang rendah. Mungkin itu yang terjadi pada kesenian dangdut.

Saya ikut memahami banyaknya penolakan dari insan-insan kesenian Sunda. Ada yang berpendapat bahwa hal ini akan menghancurkan khasanah seni dan tradisi yang luhur, dan ada juga yang berpendapat bahwa hal ini mengurangi pendapatan penggiat seni, di saat resesi ekonomi.

“Apakah sesungguhnya yang disebut seni tradisi itu? Tradisi tidak lain adalah kebiasaan dan adat istiadat atau perilaku yang sudah lazim dalam lingkungan masyarakat dan peradaban tertentu. Ini berarti bahwa sesuatu yang sudah menjadi tradisi adalah sesuatu yang tadinya baru, lalu diterima berlakunya dalam lingkungan tersebut, dan akhirnya menjadi kebiasaan serta menjadi budaya dalam adat istiadat melalui proses waktu yang panjang. Ini juga yang terjadi pada seni Jaipong”.*

Ternyata seni Jaipong adalah seni yang baru muncul belakangan, sekitar tahun 1980, dari kreativitas seorang Gugum Gumbira dari pengembangan seni tradisi sebelumnya berupa ketuk tilu, kliningan dan bajidoran. ** Artinya seni Jaipong – pada saat itu adalah seni baru. Mungkin penolakan dari tetua seni Sunda pun muncul pada saat itu, seperti halnya terjadi pada saat ini. Mungkin pada saat itu juga ada yang berpendapat bahwa seni jaipongan akan merusak seni tradisi lama sunda. Who knows. Roda kehidupan berputar, dan sekarang ini yang terjadi pada seni Jaipongan.

Saya pribadi berpendapat, bahwa yang Gubernur Jabar lakukan adalah melakukan “koreksi dan meluruskan tradisi-tradisi dan bahkan memberi kekuatan dan ketahanan tradisi itu dengan menunjuk titik lemahnya supaya dapat dihindari dan meletakkan asas pegangan bahwa seni atau tradisi tidak mutlak benar, dan tidak didasarkan atas pewarisan mutlak, dan kemutlakan kebiasaan yang sudah diterima baik dan berlaku umum. Tradisi diletakkan sebagai sesuatu proses alamiah dalam kehidupan sosial untuk mencapai tingkat kematangan”.*

Sangat menyesalkan jika ada yang menyangkutkan instruksi Gubernur tersebut akan beakibat kehilangan sumber nafkah. Please deh. Masihkah kita tidak percaya bahwa rezeki itu datangnya dari arah tak terduga dan Allah itu Maha Adil dan Maha Pemberi Rizki. Jika kita bepikir positif, rejeki malah akan bertambah. Jika main berandai-andai, bisa saja suatu institusi yang sebelumnya sama sekali tidak mau mengundang penggiat seni, karena menurut dia seni Jaipong terlalu seronok, setelah seni tersebut diperhalus akan sering mengundangnya. Andaikan seorang kepala sekolah memandang seni yang sudah diperhalus sudah cocok untuk konsumsi anak sekolah, tidak dikonotasikan negatif, pasti dia akan mengundang pada acara pekan seni sekolah. Ujung-ujungnya bahkan seni tersebut akan jauh lebih berkembang.

Satu bentuk kekhawatiran saya adalah pengaruh suatu seni terhadap anak kita. Tegakah kita pada saat pesta seni anak SD, seorang anak kelas tiga membawakan tarian yang begitu sensual, goyang-gitek-geol yang berlebihan? Tidakkah itu justru memberi peluang kepada “pemangsa” anak-anak (banyak diistilahkan sebagai predator) untuk mencari korbannya? Mudah-mudahan itu tidak terjadi dengan tari Jaipong.

Masih menyangkut seni tapi di luar tari Jaipong, coba kita renungkan dengan apa yang dilakukan oleh artis-artis kita, dengan goyang ngebor, goyang patah-patah, goyang gergaji dan lain-lain. Relakah kita melihat anak kecil kita meniru goyangan tersebut pada pesta ulang tahun temannya? Terus terang saya muak sewaktu saya melihat suatu kali, pada pesta tujuh belasan.

Silakan coba search di youtube tentang Jaipong, dan coba klik Sinden Jaipong. Saya terkejut karena saya pikir itu mengenai tari jaipong, ternyata itu lagu berjudul Sinden Jaipong oleh Mely Anjani. Coba perhatikan gerakannya.Terus terang saya muak sekali. Di mana seni-nya? Ini justru menurut saya melecehkan seni, apalah jenis seninya. Dan ini justru memberi kesan negative terhadap Jaipong. Seni seperti ini yang menurut saya harus diutamakan diluruskan, dan rasanya harus dilarang. Seni tersebut malah mendegradasikan seni yang sudah ada – apakah dalam bentuk seni tari jaipong atau seni dangdut. Dan tampilan seperti itu bisa dengan mudah kita temui pada pernikahan-pernikahan di kampung-kampung.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? QS Luqman:21

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? QS Al Maidah:104

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” QS Al Baqarah:170

Cag,
15 February 2009, 5.45pm

* Saya kutip dari tulisannya KH Ali Yafie, dari Jurnal Ulumul Quran.
** Silakan lihat Wikipedia mengenai Jaipongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s