Pergaulan bebas

Berita mengejutkan hari ini. Bocah berwajah kekanak-kanakan berusia 12 tahun telah menjadi seorang bapak setelah pacarnya yang berusia 15 tahun melahirkan seorang bayi, hasil dari hubungan bebas. Silakan baca di http://www.thesun.co.uk/sol/homepage/news/article2233878.ece

Pernah menonton filem Mama Mia, yang dibintangi Merryl Streep, Pierce Brosnan dan lain-lain? Filem itu menceritakan seorang gadis yang mau menikah, tetapi ingin dihadiri ayahnya, sementara dia tidak tahu siapa itu ayahnya, karena ibunya “tidur” dengan banyak lelaki. Akhirnya dia mengundang tiga orang yang dia pikir salah satunya pasti ayahnya.

Ada satu program televisi di sini di Australia, “Find my family” yang berisi pencarian seseorang terhadap kerabatnya, orang tuanya atau anaknya, yang umumnya terpisah karena ketidaksiapan seorang tua menerima seorang anak.

Dari ketiga berita tersebut, saya mendapat satu kesan dalam bentuk pertanyaan: masih eksiskah lembaga perkawinan di dunia yang modern ini?

Saya perhatikan, dunia Barat sekarang sudah mulai mengabaikan sebuah lembaga perkawinan. Saya mendapatkan kesimpulan bahwa sangat sedikit yang membutuhkan perkawinan, yang mereka butuhkan adalah hubungan seksual.

Silakan pelajari filem-filem Barat dewasa ini, apalagi filem remaja. Lulus sekolah, pesta-pesta, dansa, dilanjutkan “tidur” , besoknya bangun kemudian berpisah begitu saja. Satu hal yang tabu jika remaja di Barat sana ketahuan kalau dia masih virgin, dan belum pernah melakukan hubungan seksual.

Jangan jauh-jauh, coba perhatikan rekan bule di sekeliling, terutama bagi yang sedang berada di negara lain. Meskipun kehidupan pribadi mererka berada di wilayah private, namun saya mendapatkan beberapa informasi dari yang beberapa rekan yang dikemukakan sambil lalu mengenai kehidupan rumah tangganya. Istilah “wife” atau “husband” sekarang sudah banyak tergantikan oleh “partner”. Artinya mereka hidup serumah, melakukan tindakan suami istri, tapi tidak melalui lembaga perkawinan.

Sepanjang yang saya tahu, alasan utama lembaga perkawinan dihindari adalah tidak mau disulitkan dan direpotkan. Pernah saya mendengar sebuah pertanyaan tentang kenapa keharmonisan hubungan harus direpotkan dengan suatu perkawinan. Sebagai partner, jika sudah tidak harmonis mungkin bagi mereka tidak terlalu merepotkan, sehingga bisa cepat mendapatkan pasangan lagi.

Itu dari segi perkawinan. Bagaimana dari segi seks bebas? Saya pernah membaca sebuah artikel tentang begitu banyak permasalahan remaja melahirkan sembilan bulan setelah kelulusan, dan mereka tidak siap menjadi seorang ibu dan bapak. Sembilan bulan setelah kelulusan SMA? Bisa ditebak, bahwa mereka melakukan hubungan seks pada saat pesta kelulusan. Dan solusi yang terus dianjurkan pemerintah adalah pemakaian alat kontrasepsi – kondom. Kadang saya bertanya, kenapa tidak menganjurkan yang seharusnya dianjurkan ya, jangan berhubungan sebelum waktunya lewat lembaga perkawinan. Tapi itulah Barat. Mungkin semuanya selalu dihubungkan dengan hak asasi dan kebebasan individu.

Lantas, bagaimana dengan kita di Indonesia? Apakah ke-Timur-an dan agama masih memegang teguh lembaga perkawinan? Siapkah kita memperkuat diri dan keluarga bahwa lembaga perkawinan adalah hal yang penting?

Lembaga perkawinan atau pernikahan amatlah penting. Lembaga ini memberi legalitas atas hubungan suami istri, sehingga kehormatan suami dan istri terjaga. Dari sisi Islam, pernikahan juga akan menjamin keutuhan dan kejelasan garis keturunan. Kejelasan garis keturunan adalah penting karena manusia diberi tugas untuk membangun peradaban dan menjadi khalifah di dunia ini.

Sanggupkah kita menjaga anak-anak kita dari pergaulan bebas? Mari kita mulai sekarang mengawasi program-program televisi yang tidak mendidik, yang sudah mulai dengan halus mengisi sinetron-sinetron kita dengan kebebasan pergaulan. Temanin anak-anak kita dalam menonton siaran televisi. Pergunakan wewenang sebagai orang tua untuk memindahkan saluran televisi yang tidak mendidik, atau berlakukan jadwal tontonan. Memang anak mempunyai hak (asasi) untuk menonton apa yang dia suka, tapi kita sebagai orang tua mempunyai kewajiban untuk melindunginya.

Sekedar sharing, buku berjudul Dai Muda di New York, M Syamsi Ali, bagian kedua, mengupas mengenai masalah keumatan kontemporer termasuk mengenai pornografi, jurang antar generasi dan mendidik anak di kota metropolitan. Saya sarankan untuk membacanya. Insya Allah bermanfaat.

Cag,
15 Feb 2009, 13.25pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s