Minat dan budaya baca

Bulan lalu, di Brisbane ConventionCentre diselenggarakan festival atau bursa buku bekas yang disebut Bookfest, Bursa buku ini biasanya dilakukan dua kali dalam setahun, dan diorgnaisir oleh badan amal: Lifeline.

Bursa buku ini sangat menarik, karena kita bisa mendapatkan buku-buku berkualitas dengan harga murah sekali. Area bursa, seluas Jakarta Convention Centre, dibagi tiga bagian, buku murah, buku sedang dan buku kualitas bagus. Harga buku-buku di bagian yang murah berkisar dari 25 sen – untuk majalah seperti National Geographic, satu dollar – seperti untuk buku wisata Lonely Planet, sampai paling mahal hanya 2 dolar – untuk buku paling tebal dan bagus seperti buku-buku fotografi atau sejarah, seperti “Perjalanan Manusia 1000 tahun”, setebal 4-5cm, sebesar kertas A3 dan hard cover. Kualitas buku di area ini tidak diutamakan, tapi semuanya dalam kondisi wajar.

Yang menjadi perhatian saya dari Bookfest ini adalah minat baca yang cukup tinggi dan juga kesempatan mendapatkan buku murah terbuka lebar. Dan juga yang tidak kalah menarik adalah ketersediaan buku-buku bekas untuk bursa selanjutnya juga tetap banyak. Saya menduga bahwa orang Brisbane sini mempunyai minat baca tinggi tapi sedikit orang yang menyimpan buku-buku tersebut setelah selesai dibaca. Dan organisasi amal seperti Lifeline menangkap peluang tersebut.

Apakah minat baca yang tinggi ini bisa kita temui di masyarakat kita? Saya pikir, kita jangan terlalu pesimis dengan mengatakan bahwa minat baca masyarakat kita rendah. Coba kita tengok pameran buku IKAPI rutin yang diselenggarakan tiap tahun di Istora Senayan Jakarta. Penuh peminat bukan? Atau pergilah ke suatu pusat perbelanjaan dan mampirlah ke salah satu toko buku. Rasanya bisa dipastikan toko buku tersebut banyak pengunjung. Apakah mereka mereka membeli buku atau tidak, tentunya tergantung harga buku-buku tersebut. Kalaupun tidak terjangkau, ya tidak apa, setidaknya sudah ikut numpang baca dan mengintip informasi-informasi terbaru dan meng-update pengetahuan-pengetahuan baru sebagai bekal dalam obrolan di masyarakat.

Sepertinya terlihat ya jika minat baca masyarakat kita tidak diiringi dengan produksi buku-buku yang terjangkau masyarakat. Produsen buku sepertinya terlalu melihat dari satu sisi – keuntungan. Pemerintah pun rasanya belum memprioritaskan dan turun tangan memberikan andil dalam memproduksi buku murah.

Bisa dibayangkan. Jangankan membeli sebuah majalah pengetahuan – seperti National Geograpic yang tipis berharga Rp 50,000 – buku wajib pelajaran sekolah saja mahal. Padahal kalau dilihat, sudah banyak buku-buku pengetahuan umum ringan – seperti “Einstein saja gak tahu?” – yang tersedia di toko-toko buku dan bagus buat perkembangan pengetahuan anak-anak atau adik-adik kita. Namun kok harganya mahal ya, di kisaran Rp 50,000 – 60,000. Itu artinya sekitar empat atau lima kali uang makan siang. Kalau melihat hal tersebut, rasanya campur tangan pemerintah agar harga-harga buku terjangkau sangat diperlukan.

Pelarian dari pecandu buku, jika tidak bisa membeli, adalah perpustakaan. Namun selama ini perpustakaan cenderung identik dengan suasana yang membosankan, tua, berdebu dan koleksi bukunya yang tidak pernah bertambah. Masihkah kesan-kesan tersebut ada sekarang ini? Sudah menarik kah Perpustakaan Daerah Jawa Barat di Jalan Cikapundung, seperti perpustakaan KTT AA di belakang gedung Merdeka atau perpustakaan british Council? Bagaimana juga dengan perpustakaan sekolah?

Entahlah. Yang pasti saya termasuk salah satu yang percaya kalau perpustakaan yang bagus dan lengkap akan menambah semangat dan minat baca para siswa, yang ujungnya akan menambah pengetahuannya. Jadi, kenapa kita tidak memulai untuk mendongkrak minat baca adik-adik kita dengan cara menyemarakkan perpustakaan, dengan bahu membahu memberikan dorongan dana dan tenaga sehingga perpustakaan sekolah lebih berkembang, dengan koleksi buku yang lebih lengkap dan up to date, lebih menarik dan ruangan yang lebih nyaman dan terang. Di sini, fungsi ikatan alumni bisa lebih diberdayakan.

Ambil satu contoh sederhana.

Grup Facebook Alumni SMA 4 bandung sudah mencapai 970 orang. Jika tiap orang ikhlas menyumbang Rp 5000 saja (lima ribu rupiah, seharga es krim Conello – masih segitu harganya?), bisa terkumpul Rp 4.85 juta. Uang sebesar ini jika dibelikan buku seharga Rp 50,000 sudah mendapatkan 970 buah buku. Banyak yang bisa dibeli, buku-buku pelajaran kurikulum – harganya di kisaran 30-40ribu, novel sastra harganya hampir sama – atau pengetahuan umum seharga 100-200 ribu, hard cover, A3. kalau perlu mencari buku second hand yang masih bagus, sehingga bisa didapatkan jumlah yanglebih banyak. Semua ini kalau kita hanya melakukan satu kali penggalangan dana, dan hanya dengan lima ribu rupiah. Bisa kebayang manfaatnya kalau dilakukan dua kali atau lebih dalam setahun, atau dengan uang yang lebih besar.

Untuk penggalangan dana, gak usah report-repot bikin Temu Alumni. Kita bisa manfaatkan fasilitas transfer antar Bank. Ini artinya sekolah harus mempunyai rekening sendiri dan mempunyai internal auditor atau bendahara sendiri. Dengan transfer antar bank, iuran lima puluh ribu, sepuluh ribu atau seberapa ikhlasnya pun sangat mudah untuk dilakukan.

Saya yakin, ide seperti ini sudah pernah ada yang menggulirkannya. Tinggal sekarang bagaimana kita memulainya saja. Kita ajak tiap sekolah membuka rekening sekolah sendiri. Kita ajak sekolah mengumumkan nomor rekening sekolah ke grup-grup alumni di mana saja, baik dunia maya mauapun di dunia nyata. Ayo rekan-rekan, kita tiup peluit pemberdayaan alumni dalam berbakti terhadap almamater. Insya Allah.

Cag, 17/02/09 21:00pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s