Surat buat sahabat

Kawan,

Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi padamu dan kesehatanmu yang memburuk. Doaku dan doa teman-teman lainnya untukmu atas kesembuhanmu.

Mungkin kawan sudah menerima banyak email atau ucapan berisi dukungan moril agar kawan tabah dan kuat. Juga terlalu banyak petuah yang mampir di telingamu agar kamu bersabar. Bahkan saran-saran dari sana sini berseliweran di benakmu tentang pengobatan alternatif terbaik.

Saya yakin kamu menghargai dukungan-dukungan tersebut karena saya tahu kawan adalah pribadi yang santun. Namun saya juga akan memahami jika ada satu titik dimana kawan akan merasa mulai bosan dengan semua itu – termasuk dengan sepenggal surat ini – karena saya yakin bahwa dirimu sendirilah kawan yang tahu apa yang sedang terjadi padamu. Kamu yang tahu apa yang terbaik bagi tubuhmu dan bahkan kamulah yang tahu seberapa kuat dirimu menghadapi semua ini.

Namun, lepaslah kawan. Mengalirlah hidupmu apa adanya, seperti mengalirnya air kehidupan. Biarkan Tuhanmu membawamu ke arah mana yang Dia mau, karena Dia lebih tahu apa yang terbaik bagimu. Jika kesehatan yang didapatkan dan panjang umur adalah yang terbaik menurut Tuhanmu, mintalah agar Dia membimbingmu. Jika kebalikannya yang terjadi dan itu yang terbaik menurutNya, mohonlah agar Dia menuntunmu.

Kawan,

Bersyukurlah dengan apa yang telah terjadi dibalik ini.

Dalam sakitmu kau bisa curahkan waktumu dan kau limpahkan cintamu untuk anak istri dan keluargamu. Dalam penderitaanmu kau pusatkan hatimu kepada Tuhanmu sepenuh hati, sehingga kau rasakan arti kehadiranNya.

Sementara kita yang merasa sehat, terlalu sombong dan abai akan hal-hal seperti itu.

Tidak ada waktu untuk keluarga, apatah lagi untuk Tuhannya. Bagai seorang durjana sok kuasa yang merasa akan hidup selamanya. Padahal jiwa dan raga hanya Dia yang punya. Jika Dia berkehendak, adakalanya yang sehat akan menghadapNya pertama, mungkin karena celaka.

Kawan,

Ingatlah akan Tuhanmu dan aku ingat akan Tuhanku. Karena bila kita mendekat kepadaNya sejengkal, Dia lebih mendekat kepada kita sehasta. Jika kita mendekat kepadaNya sehasta, Dia lebih mendekat ke-pada kita sedepa. Jika kita mendekat kepadaNya dengan berjalan, maka Dia akan mendekat kepada kita dengan berlari.

Banyak jalan untuk mendekati Tuhan, tetapi jalan yang paling dekat adalah dengan membahagiakan orang lain di sekitarmu. Dan makhluk yang dicintai Tuhannya adalah mereka yang paling berguna bagi seluruh anggota keluarganya dan sekelilingnya dan sering memasukkan rasa bahagia kepada mereka.

Cag, 14-03-09, 8.54pm

Ukuran jaman dulu:
hasta: ukuran dari telapak tangan hingga siku – sekitar 45 cm
depa: ukuran dengan kedua lengan terbentang – sekitar 180 cm
musti: ukuran kepalan tangan dengan jempol terangkat – sekitar 15 cm-17,5 cm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s