Lessons Learnt – Weakness 2

Sekelumit pendapat saya tentang SWOT enjineer Indonesia berdasarkan pengamatan pribadi selama 15 tahun berkecimpung di dunia konsultasi engineering.

Kurang ide – pendapat

Apakah yang sebenarnya terjadi adalah kurang ide atau sebenarnya punya ide tapi tidak mampu mengkomunikasikan ide tersebut? Apapun itu, di mata orang lain – secara sederhana hal itu bisa disimpulkan sebagai kurangnya inisatif.

Mengemukakan ide atau pendapat adalah penting karena itu bisa dijadikan petunjuk bahwa kita menggunakan pikiran kita dan terlibat secara penuh terhadap apa yang sedang kita kerjakan. Dengan berpendapat, kita seara langsung terlibat dalam memperkaya proyek dimana kita terlibat.

Bisa dibayangkan jika kita mempunyai bawahan yang mengerjakan dan menyetujui apapun yang kita minta, baik permintaan itu benar atau salah, tanpa dipikir lebih dalam. Istilahnya seperti Yes Man gitu. Sekali dua kali memang menyenangkan mempunyai staff seperti itu. Namun jika kejadian seperti itu terjadi berulang kali, pada suatu saat kita akan berpikir lain lagi, “Nih anak sebenarnya ngerti gak sih….”

Alangkah indahnya jika dalam sebuah rapat internal suatu proyek, setiap orang mengemukakan pendapat dan idenya masing-masing, baik itu pendapat yang begitu lengkap dan detail maupun pendapat yang dangkal namun sangat dibutuhkan – tentunya dikemukana dengan bijak. Manusia mempunyai keterbatasan pemikiran, dan tiap orang memiliki pemikiran masing-masing, dan tiap orang pun akan melihat dari sudut yang berbeda-beda. Jika kita menggabungkan – lebih tepat mensinergikan – semua pendapat tersebut, Insya Allah kita bisa melihat hasil yang jauh lebih memuaskan.

Saya berpikir bahwa seorang atasan akan sangat berterima kasih atas ide dan pendapat seorang rekan kerja kita, meskipun pendapat atau ide yang dilontarkan berseberangan dengan idenya. Perkara pendapat kita betul atau salah, itu urusan lain. Perkara apakah atasan kita setuju atau tidak juga itu urusan lain lagi. Setidaknya kita tidak hanya membeo, tapi sudah punya pendapat sendiri. Jika pendapat atau initiatif kita diterima, kita pasti akan merasakan bahwa hasil jerih payah kita akan lebih dihargai. Setelah initiatif kita diterima dan dihargai, Insya Allah initatif kita akan terus berkembang dan kita bisa memberikan kemampuan kita lebih banyak terhadap proyek yang sedang kita tangani. Jika pendapat kita tidak diterima pun, setidaknya kita sudah mengembangkan sebuah potensi diri, dalam bentuk mengemukakan pendapat.

Apakah mungkin karena kultur kita yang tidak membiasakan bertanya menjadi sebab susahnya berpendapat? Atau “Ah, itu semua tidak benar, buktinya begitu banyak politisi atau aktivis yang pintar berkoar-koar mengemukakan pendapat?” Entahlah, tapi kelemahan seperti ini banyak ditemukan di lingkungan kerjaan.

Cag, 24/03/09 9:45am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s