Hikmah dua peristiwa – bagian 2

Memang benar bahwa di balik segala sesuatu pasti ada arti, tinggal pintar-pintarnya kita mengambil hikmah. Hari ini pun saya mencoba menelaah hikmah apa yang saya jalani sepanjang hari, tepatnya dua aktivitas.

Aktivitas kedua, di sore hari adalah mengantar anak dan istri ke dokter. Hari ini kami mendapat peringatan dari Allah berupa sakitnya anakku dan istriku secara bersamaan. Saya mengantarnya ke klinik di dekat rumah – dan diperiksa oleh dokter umum – Dr Rodiah (eh, “d”-nya hurup kecil ya : dr).

Setelah menunggu beberapa menit, kami kemudian bertemu dengan bu dokter, dengan perawakan hampir sama dengan istriku, dengan wajah yang menyenangkan dan awet muda (saya kaget waktu dia memberitahukan usianya, hamppir sepuluh tua lebih tua dari yang saya bayangkan).

Anakku mendapat kesempatan pertama diperiksa disusul istriku. Beliau melakukan pengecekan temperatur, tekanan darah dan lain-lain secara teliti, dan tidak terburu-buru. Dia banyak sekali bertanya dan menggali informasi mengenai apa yang terjadi dan segala pertanyaan yang bisa memberikan petunjuk berlebih untuk diagnosanya. Yang saya sukai adalah cara dia berkomunikasi yang enak, tidak kaku dan mengalir, sehingga membuat saya dan anak-istriku pun relaks dalam memberikan informasi.

Setelah selesai pengecekan, dia kembali ke belakang meja dan mulai menulis semua observasinya. Di sini saya mendapatkan sesuatu input yang menarik. Dengan mengesampingkan segala formalitas, dia melakukan komunikasi yang begitu lancar dan menarik dan menempatkan kami di sana bukan hanya sebagai pasien, tetapi juga sebagai teman cerita. Pada satu sisi dia menempatkan diri sebagai telinga, yang dengan telaten mendengarkan apa yang kami tanyakan dan ceritakan. Di lain waktu dia menempatkan diri sebagai seseorang yang menumpahkan cerita, sharing pengalaman, yang saya nilai sangat bagus untuk menambah pengetahuan pasien.

Tidak ada kesan pada saat itu kalau bu dokter dikejar-kejar waktu karena pasien yang berjibun, dan tidak ada kesan juga kalau beliau melakukannya mengejar target pasien. Saya menangkap kesan bahwa beliau mencurahkan waktu untuk pasien dengan profesional, jika untuk memeriksa satu pasien dengan satu penyakit membutuhkan waktu lebih banyak, kenapa harus diperpendek. Begitu juga dalam cara beliau memperlakukan pasien, beliau mengajak ngobrol pasien dengan hati, dan tidak jaim. Dia tidak sungkan-sungkan menceritakan pengalamannya sewaktu berobat ke dokter ahli obstetri karena menderita penyakit serviks, menunggu dari jam empat sore dan baru dipanggil jam sebelas malam – ditemani suaminya yang juga dokter, yang terpaksa cuti praktek demi menemani istrinya. Beliau juga ceritakan pentingnya pencegahan dengan cara menceritakan pengalamannya kenapa sampai mendapatkan penyakit itu – karena dia lebih mendulukan anaknya dan berpikir orang dewasa lebih kuat – dan efeknya dari segi finansial.

Apa yang saya dapatkan dari satu jam lebih berkonsultasi dengan beliau. Mungkin saya bisa bilang, inilah dokter yang mengerti profesi dokter. Seperti inilah dokter yang dibutuhkan masyarakat. Saya berhadapan dengan dokter yang juga seorang manusia yang memahami bagaimana memperlakukan seorang pasien – seorang yang bukan hanya punya raga tapi juga jiwa dan emosi.

Kalau dirangkum dalam bentuk daftar, inilah yang dokter Rodiah lakukan dan banyak dokter-dokter lain tidak lakukan – bahkan dokter sekaliber spesialis ahli dengan titel mentereng dan karya tulis ilmiah yang menjadi rujukan banyak dokter:
– tidak terkungkung waktu dalam pemeriksaan pasien
– tidak mengutamakan banyaknya pasien, sehingga hanya membatasi praktek selama dua jam saja
– tidak mendikte pasien dan menganggap pasien tidak mengerti sama sekali
– memberikan pertanyaan terbuka – bukan pertanyaan dengan jawaban ya dan tidak – untuk menggali informasi lebih banyak
– berkomunikasi dengan baik (ini yang menurut saya paling penting)
– tidak jaim – dokter juga manusia yang membutuhkan orang lain, dan dokter juga bisa sakit (seperti halnya seorang insinyur sipil yang jarang mendesain rumah tinggalnya)
– mau menjadi pendengar

Bukti yang bisa saya ceritakan bahwa beliau adalah dokter yang lebih menekankan pendidikan kesehatan bagi masyarakat daripada sekedar mengobati penyakit – entah dokter itu sadar atau tidak – adalah:
– ternyata imunisasi itu penting, bukan hanya untuk anak-anak, orang dewasa pun seharusnya mendapatkan imunisasi demi menjaga kesehatan
– pentingnya seorang perempuan untuk memeriksakan kesehatannya sebelum terkena kanker serviks
– pentingnya menjaga dan pemeriksaan kesehatan – meskipun dengan biaya yang cukup mahal – dibandingkan dengan pengobatan – yang memakan biaya yang jauh lebih mahal.

Kalau diambil moral dari pengalaman di atas, masyarakat membutuhkan seorang dokter yang profesional dan juga bekerja dengan hati, dan mengedepankan pendidikan kesehatan untuk masyarakat.

Cag, 27-03-09, 10:05 pm

Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, terutama kepada rekan yang berprofesi dokter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s