Dunia Pertemanan Facebook – What You Say Is What You Are

Masih ingatkah kita dengan pelajaran computer tahap awal, sebelum adanya Microsoft Word yang canggih ini. Saat itu kita sering menemukan istilah WYSIWYG – What you see is what you get. Saya suka sekali istilah ini, karena bisa dimirpkan macam-macam tergantung keperluan.

What you say is what you are: Apa yang kamu ungkapkan mencerminkan dirimu sebenarnya. Hal ini erat kaitannya dengan image, dan image berpengaruh pada persepsi, sedangkan persepsi menentukan dan membimbing pendapat seseorang mengenai karakter kita.

Facebook adalah sarana yang begitu mudah, murah, terbuka dan interaktif. Di dalam facebook, apa yang kita utarakan – dalam bentuk tulisan ataupun visual – akan dengan mudah diperhatikan – “dibaca” atau “dilihat” – oleh orang lain, baik yang menjadi temannya (friends) atau bukan. Orang yang tidak kita kenalpun akan mudah “melihat” kita jika sebuah “tag” sudah muncul.

Selain “melihat” kita, semua aktivitas kita pun – tentunya yang secara sadar kita nyatakan dalam bentuk tulisan di dalam facebook – akan dengan mudah diketahui orang. Semua sajian-sajaian “data” tersebut amatlah cukup untuk membentuk persepsi dan citra diri. Tiga contoh bisa saya kemukakan.

Contoh pertama dalam bentuk “tulisan”. Umumnya kolom status dalam facebook memperlihatkan deskripsi singkat tentang aktivitas apa yang sedang kita lakukan. Sekarang hal tersebut sudah berubah menjadi ungkapan tentang “apa yang kamu pikirkan”. Namun demikian sebenarnya segala hal apapun bisa diungkapkan dalam kolom status, termasuk jika ingin sedikit “berpidato”.

Saya menemukan seorang rekan saya, sadar aatu tidak, memanfaatkan fasilitas kolom status tersebut sebagai ajang pelampiasan unek-unek di hatinya. Dan suatu saat, entah karena depresi yangsedang memuncak, atau kekecewaan yang menumpuk, atau perasaan putus cinta yang tidak terkendali, atau apalah, dia tumpahkan unek-uneknya dalam bentuk ucapan-ucapan kotor disertai sumpah serapah dan segala macam jenis nama hewan di kebun binatang.

Pada satu titik, dia merasa lega, karena berhasil mengeluarkan segala gundah di hatinya, dan bahkan mendapatkan kesejukan baru dari komentar-komentar temannya yang masuk. Namun di balik itu, sebenarnya dia sedang memperlihatkan kelemahan dirinya kepada semua orang, dan dia sedang berjudi dengan citra diri. Dan itulah yang terjadi. Citra dirinya di mata saya jadi rusak.

Dan karena saya tidak setuju dengan langkah yang dia ambil, saya justru yang mengambil langkah: delete him from my friend list. Mungkin langkah tersebut terlalu ekstrem, but I do what I wanna do. Lagipula, apalah artinya saya, seorang friend of friend, kawan dari temannya, yang hanya menjadi pajangan di friend list-nya. Bisa dibayangkan jika apa yang saya pikirkan ternyata ada pula pada temannya yang lain – begitu besarnya pengaruh sebuah ucapan.

Contoh kedua dalam bentuk visual. Seperti yang umum diketahui, sebuah foto bercerita ribuan kali lebih banyak dibandingkan sebuah tulisan. Dari sebuah foto, kita bisa melihat karakter atau kepribadian seseorang.

Apa yang ada di benak kita setelah melihat foto seorang teman yang sedang duduk, dengan papan nama dan jabatan mentereng di meja, dikelilingi sepuluh perempuan cantik berbalut busana seksi, sedang meniup lilin ulang tahun? Oh, dia sudah jadi bos nih, dan jadi cowok metropolis. Borju banget, padahal dulunya alim. Kenapa ya?

Foto satunya lagi memperlihatkan teman yang lain yang sedang berada di kampung yang asri, bercengkerama dengan neneknya dan saudara-saudaranya yang berwajah dusun, sementara dia berpembawaan kota namun berpakaian sederhana juga dan terlihat bijaksana. Oh, dia sudah sukses dan tidak lupa akan asalnya. Baik banget ya.

Sementara foto yang lain memperlihatkan seorang teman berpose yang berlainan bersama pasangannya atau anak-anaknya, dengan latar belakang berbeda-beda, mulai dari situs tujuh kejaiban dunia, lobi hotel-hotel bintang tujuh (eh, paling banyak enam ya?), piramida beneran di Mesir atau piramida bohongan di Vegas atau Perancis. Oh, dia sudah kaya, dan mainannya …. luar negeri man.

Contoh ketiga dalam bentuk “aktivitas”. Dengan format facebook lama ataupun baru, aktivitas seseorang bisa dilihat orang lain dengan mudah.

Dalam beberapa hari belakangan ini, saya melihat aktivitas seorang rekan yang men-share link seorang artis bule pujaannya yang sempat dijumpainya di pentas seni di Jakarta (norak ya, disebut pentas seni, Java Jazz atuh) dalam bentuk youtube, atau format lainnya. Oh, dia fans berat artis itu ya.

Kawan yang lain mengirimkan banyak catatan atau link bahkan analisa mengenai pertandingan Manchaster United, lengkap dengan foto nonton barengnya. Oh, dia gila bola banget.

Seorang teman dekat lainnya saya jumpai sedang mengirimkan pempek Palembang kepada pacarnya, atau mengirimkan seikat bunga berwarna Merah jambu disertai bantal mungil berbentuk hati. Waduh, dia sedang jatuh cinta…. Lagi?

Atau karib lama saya “.. sent a beautiful babe to …” rekannya yang lain, lengkap dengan foto seorang perempuan / artis seksi berbodi aduhai dan hanya berbalut busana seadanya. “What? Why? Masa sih, dia kan orangnya baik dulunya? Dia sukanya yang beginian ya?”

So, be careful and be wise. Cause, what you say is really what you are.

Cag, 01-04-09, 6:42pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s