Situ Gintung dan pelajaran kematian

Hati begitu tersayat, air mata sudah siap menitik, namun nalar masih enggan menerima apa yang terjadi. Bagaimana mungkin ini terjadi? Sebuah kebodohan besarkah atau kelalaian yang keterlaluankah?

Terperanjat dan sedih. Selama beberapa tahun, Situ Gintung menjadi daerah yang begitu akrab, karena hampir tiap hari dilewati bis yang membawaku ke kantor. Sekali dua bahkan saya menikmati keindahan danau di tengah padat kota sambil bersantap masakan Sunda di rumah makan terdekat. Namun sekarang semua lenyap. Air danau surut, dan lenyap. Nyawa manusia pun melayang, dan lenyap. Dan itu terjadi di Situ Gintung, yang begitu dekat. Sedekat itu juga kematian menanti kita.

Kuasa Tuhan berkata. Apa yang terjadi terjadilah. Manusia tidak punya daya apa-apa.

Kita jarang melihat seorang pria tegap berpenampilan pejabat meraung-raung menangis. Perpisahan dengan seluruh kekayaan dunia: anak-anak, istri dan harta lah yang membuatnya. Bukan dirinya yang mati – yang berpisah dengan mereka, namun mereka lah yang meninggalkan dia.

Di tengah keangkuhan kota yang mencerabut rasa kasih dan kedekatan anak – ibu, seorang perempuan meraung-raung bahagia, setelah menemukan anaknya – yang selama ini mungkin ditelantarkan kesibukan – selamat meski tanpa daya berada di ruang perawatan intensif.

Seorang pria muda duduk termenung, menerawang jauh dan terguncang setelah dirinya tidak kuat dan lepas pegangannya dari istrinya yang mengandung anak pertamanya. Buah cinta – istri – dan buah hati – anak – yang dinanti-nantikan semenjak dia dewasa, meninggalkannya lagi ke kesendirian.

Dan sebuah keluarga mensyukuri keselamatan mereka semua, meski semua harta yang dikumpulkan dengan keringat dan air mata bercucuran bertahun-tahun lenyap dalam hitungan detik dan menit.

Dalam bencana di manapun, mungkin juga terjadi di Situ Gintung, kita melihat kejadian-kejadian seperti ini. Semua kenikmatan dunia bisa lenyap dalam sekejap jika Tuhan berkehendak.

Itulah makna bahwa jika kita mencintai sesuatu, cintailah sesuatu itu dengan wajar, agar suatu saat rasa cinta itu tercerabut, kita tidak menderita dibuatnya.

Anak-anakmu adalah titipan Tuhan untuk dididik dan dibimbing serta menjadi pembawa bahagia keluarga. Namun mereka bukanlah milikmu. Mereka adalah kepunyaan Tuhanmu, juga seperti dirimu sendiri. Sehingga jika mereka pergi meninggalkanmu, mereka kembali kepada yang berhak atas diri mereka. Kamu harus iklhas melepasnya, seperti juga kamu ikhlas menerimanya.

Belajar lah dari guru sekolahmu sewaktu kecil, yang mengajarkan doa sederhana: Ya Tuhanku, dengan namaMu aku hidup dan dengan namaMu aku mati. Karena sejatinya tidur adalah kematian kecil dan kita ikhlas menerima kematian kecil tersebut.

Hartamu adalah rejeki kasih sayang Tuhan, yang telah diupayakan olehmu sendiri. Carilah kekayaanmu sesukamu, namun cintailah sewajarnya, karena kita hidup hanya mengembara. Sedekahkan kelebihan rejekimu, ikhlaskan sebagian hartamu. Belajarlah mengasihi saudara yang tidak mampu, karena sejatinya itu berarti mengasihi diri sendiri. Bukankah pendidikan keikhlasan seperti itu begitu berarti pada saat musibah datang, sehingga kita tidak hanyut dalam penyesalan. Dan itu berarti mengasihi diri.

Cag, 03-04-09, 1:20pm

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar (Al Anfal 28)

…dan jadilah anak turunan akhirat dan jangan menjadi anak turunan dunia, karena sekarang kesempatan beramal tanpa ada hisab dan besok hanya ada hisab sementara tidak ada kesempatan beramal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s