Suara Citarik

Alhamdulillah akhirnya keinginanku untuk mengadu nyali arung jeram di Citarik akhirnya kesampaian. Bersama dua puluh rekan Aurecon lainnya, kami bisa menikmati tantangan alam yang mengasyikkan. Meskipun di beberapa suasana, arung jeram terasa monoton dengan suasana nyaris sama dengan Jeram di Dufan, namun sebagian besar dari perjalanan sepanjang 8km di sungai begitu menarik.

Setelah sekitar tiga jam perjalanan yang melelahkan dari Jakarta, kami mulai aktivitas dengan pengenalan cara-cara mendaying yang benar dan pengenalan safety lainnya. Selanjutnya kami dibawa sekitar empat kilometer dari ke arah hulu sungai dengan mobil pik-ap. Dan dari sanalah dimulainya perjalanan berperahu, mendayung, bermain dengan arus untuk empat kilometer pertama.

Perjalanan di empat kilometer pertama ini umumnya tidak terlalu banyak jeram-jeram yang menyulitkan, sehingga frekuensi kami berteriak-teriak seru pun cukup sedikit. Dari lima perahu, sepertinya hanya satu perahu yang demikian ramainya dengan teriakan, tertawa dan bercanda. Perahu selebihnya, termasuk perahuku sepertinya datar-datar saja, entah karena belum ada tantangan, atau karena masih belum “tune-in” atau bahkan masih “sawan” (kaget).

Di paruh empat kilometer selanjutnya, karena alasan teknis, saya akhirnya disuruh pindah perahu, dan bergabung dengan lima rekan lainnya di perahu yang paling ramai. Ternyata pemandu di perahu ini cukup berhasil dalam komunikasi dengan rekan-rekan yang lain, diselingi kekocakan dan kejahilannya. Tidak salah jika rekan-rekan di perahu ini begitu memperlihatkan ekspresi yang meluap.

Dengan kekocakannya, pemandu berhasil membuat kita tertawa lepas. Dengan kepiawaiannya, dia menuntun kita untuk mengarahkan perahu ke arus-arus yang lebioh menantang, dan jika itu terjadi pastilah kita akan berteriak lepas. lepas sekali. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi semuanya berteriak.

Dengan teriakan lepas tersebut, seolah-olah beban-beban kita terlepas. Ya, “seolah-olah”, karena sejatinya beban tidak akan bisa lepas hanya dengan berteriak tanpa ada usaha. Namun setidaknya kita bisa meringankan emosi kita dengan berteriak.

Saking semangatnya berteriak, selesai mengarungi delapan kilometer, baru terasa kalau suara kita habis, dan ada sedikit rasa sakit jika berbicara. Waduh. Untung saya hanya seorang enjiner, yang tidak membutuhkan vokal yang bagus dalam bekerja. Bayangkan jika saya seorang penyanyi atau operator telepon, berabe itu.

Dalam perjalanan pulang, saya coba mengistirahatkan pita suara yang sudah terlalu lelah dengan tidak bicara, dan sambil menunggu kantuk yang tak kunjung datang, saya sapukan pandangan mata ke luar, mengamati sekelebatan wajah-wajah orang yang beraktivitas di pinggir jalan.

Satu penggalan peristiwa tertangkap mataku dalam hitungan detik, di daerah dekat Lido. Di mulut gang kecil, saya mendapati tiga orangremaja pria dan seorang remaja putri ayik berbincang bincang diselingi canda. Sebuah penggalan peristiwa yang biasa bukan? Namun bagi saya hal itu sudah cukup membuat saya malu terhadap keangkuhan diri. Ya, remaja-remaja tersebut berbincang bincang tidak dengan suaranya, namun dengan gerakan, baik itu gerakan wajah, gerakan tangan atau anggota tubuh lainnya. Betul, mereka tuna wicara dan tuna rungu.

Sebuah titik jauh di dalam dadaku tertohok dengan peristiwa itu. Saya malu dengan apa yang sedang terjadi. Di kala saya berfoya-foya mengumbar kata-kata dan mengobral suara di Citarik, di daerah Lido Tuhan langsung memberi peringatan agar saya sadar bahwa suara adalah karunia, dimana sebagian saudara kita justru begitu mendambakannya hanya untuksekedar berbicara (dan juga mendengar).

Saya kembali sadar, kita seringkali menyepelekan karunia Tuhan yang satu ini. Kita abai terhadap nikmat berupa suara. Berbicara dengan nada tinggi seorang atasan, berdiskusi dan berdebat sengit di kala meeting mingguan, gosip kiri-gosip kanan sesama karyawan, atau hardikan seorang ayah terhadap anaknya yang tanpa sengaja menggores mobil barunya, dan atau bentakan seorang ibu terhadap puterinya yang pulang terlalu malam. Bahkan perselisihan suami istri biasanya dengan diawali perbedaan persepsi dalam menafsirkan intonasi / tekanan dari suara pasangan – dan bukan dari arti ucapannya sendiri.

Andai saja kita bisa bersimpati terhadap mereka yang ditakdirkan mengalami kesulitan bicara dan mendengar, dan kita bersyukur atas nikmat Tuhan atas suara dan pendengaran, tentunya kita bisa membuat kehidupan lebih baik dan indah. Seorang atasan berbicara tertata dengan karyawan, seorang ayah dan ibu bercakap lembut dengan anak, dan suami-istri berkomunikasi dengan santun. Betapa besar pengaruh sebuah suara dalam kehidupan.

… maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan …

Cag, 06-04-09 11:04pm

Letakkan tangan kanan terbuka ke dagu atau mulut bawah. Kemudian lepaskan menjauh dagu dua atau tiga jengkal, diiringi dengan gerakan kepala ke kiri. Itulah “ucapan” terima kasih dalam bahasa isyarat.

Perlihatkan kepalan tangan kanan dengan jari kelingking lepas.
Dilanjutkan dengan kepalan tangan kanan dengan ibu jari dan telunjuk lepas membentuk huruf L.
Ditambah dengan kepalan tangan kanan dengan ibu jari dan kelingking lepas.
Itulah “kalimat” I love you dalam American Sign Laguage
Atau disederhanakan menjadi simbol metal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s