Indahkah Pemilu? Laporan akhir …

Pagi yang kembali segar. Jalananpun masih lembab. Namun rembulan yang berkurang lingkarnya, kini tidak merona lagi, tersaput kabut tipis. Bahkan mentari pun malu-malu bersinar di balik awan.

Masih dengan iringan kicauan burung dari atas pohon, suasana pagi di tempatku pada hari ini tidak seperti tiga hari yang lalu. Pembicaraan pagi hari sekarang dikuasai oleh rasa kecewa. Sebagian kekecewaan karena hasil pemilu untuk partai yang didukungnya tidak seperti yang diharapkan, sebagian lainnya mengelus dada dengan kekacauan penyelenggaraan pemilihan yang cenderung tidak profesional dan sisanya mengeluhkan kerumitan pemilihan yang membuat masyarakat tidak mengerti apa yang harus dan akan dilakukan.

Satu hal yang membuatku kecewa, dan kekecewaan masyarakat lainnya adalah hilangnya hak pilih. Mengapa pendataan pemilih kali ini begitu kacau? Kenapa setelah beberapa kali melakukan pemilihan umum, justru pada saat sepenting ini – di mana suara kita lebih menentukan – kita dipaksa golput. Dari status temanku di facebook terlihat kalau pemenang pemilu kali ini adalah golput, sekitar 40%. Gabungan golput karena pilihan politiknya sendiri maupun golput karena terpaksa.

Ramlan Surbakti – mantan wakil ketua KPU – di harian Republika hari ini berkomentar kalau KPU yang sekarang tidak ada kesinambungannya dengan KPU yang dulu. Ini berarti apa yang KPU sekarang kerjakan dimulai lagi dari nol, tidak meneruskan apa yang sudah baik dari kerjaan KPU sebelumnya. Bahkan menurut beliau, sewaktu pemilihan anggota KPU masa bakti sekarang, beliau dan Valina Singka tidak lulus fit proper test. Waduh, bagaimana ini bisa terjadi?

Meski terdapat kelemahan di sana dan di sini, termasuk nasibku yang tidak ada di dalam daftar pemilih, kita patut berbangga dengan proses pendidikan demokrasi yang sudah dan sedang kita jalani. Rakyat Indonesia sekarang sudah bisa berpikir dewasa. Jika kata demokrasi adalah sesuatu hal yang jadi acuan di dunia internasional, kita harusnya berbangga dan mempunyai kebanggaan diri yang besar. Kenyataan yang terjadi dengan jelas membuktikan kalau Indonesia sudah menjadi negara yang demokratis.

Kenyataan pertama: memilih atau tidak adalah pilihan politik warga negara. Bandingkan dengan beberapa negara lain dimana memilih adalah kewajiban (compulsory).

Kenyataan kedua: dengan prosentase 60% saja yang memilih, ini sudah menunjukan kesadaran dan partisipasi masyarakat yang tinggi. Kesadaran dari diri dan lingkungan, dan bukan karena paksaan.

Kenyataan ketiga: dengan populasi rakyat keempat terbanyak di dunia – di belakang Cina, India dan Amerika Serikat – Indonesia bisa disebut sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Bukankah Amerika dan India adalah negara demokrasi terbesar? Coba kita pandang dari sisi yang baru. Dalam pemilu kali ini, masyarakat Indonesia memilih langsung nama calon legislatif. Dan nanti pun, kita memilih Presiden secara langsung. Suara terbanyak adalah pemenang. Bandingkan dengan Amerika Serikat, dimana suara rakyat (popular vote) terbanyak belum tentu menjadi pemenang – kasus George W Bush vs Al Gore. Atau di India, dimana Perdana Menteri dipilih dari pemenang pemilu legislatif ( biasanya ketua umum partai pemenang). Persis seperti yang terjadi di Malaysia.

Kenyataan keempat: pemilu kali ini begitu damai. Tidak ada gejolak-gejolak yang membuat kita ketakutan untuk berpartisipasi. Riak-riak sedikit memang terjadi. Namun secara umum pemilu kali ini aman. Bandingkan dengan pemilu di Pakistan atau Bangladesh dimana sering calon legislatif dibunuh. Atau di Eropa mantan blok Timur, dimana calon legistlatif sering kali diculik. Atau di Thailand, dimana hasil pemillu didemonstrasi bergiliran.

Meskipun di sisi lain kita masih harus berusaha berubah menuju ke arah yang lebih baik, namun di sisi ini, boleh lah saya berbangga. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk membanggakan pemilu yang kita lakukan. Jadi yuk kita bangga dengan proses apa yang sedang terjadi. Kebanggaan yang bertanggung jawab, dengan tetap memberi dukungan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Untuk negara seusia 64 tahun, pencapaian ini adalah suatu hal yang luar biasa.

Cag, 12-04-09, 7:23am

“La patrie est aux lieux ou l’ame est enchainee” = Our country is that spot to which our heart is bound.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s