Jabatan

Kalau kita perhatikan di tengah hiruk pikuk pemilu dan kampanye, banyak sekali pamflet, banner dan sejenisnya bertaburan di dinding-dinding fasilitas umum, di jalan raya atau bahkan di body angkot menjual nama dan kesiapan caleg untuk menduduki kursi legislatif. Menarik dilihat begitu antusiasnya beberapa bagian masyarakat untuk menjadi seorang “wakil rakyat”.

Namun kenapa ya di benak saya, hanya ada satu tipe caleg yaitu caleg yang hanya mencari kursi / jabatan / posisi. Memang sih sekarang sudah lumayan juga legislator yang bersih, tetapi kesan kuat lebih banyak ke arahnegatif.

Tipe caleg seperti ini kan cenderung melakukan segala cara untuk mencapai hasil yang dimaksud. Tidak berarti segala cara yang dilakukan selalu berkonotasi negatif, tetapi sangat terlihat kalau orang ini begitu menginginkan posisi atau jabatan. Uang digelontorkan, ngutang sana ngutang sini tidak melihat kemampuan diri, obral janji dan harta dengan istilah amal, kirim karpet ke mesjid, kirim karaoke set buat karang taruna, kirim televisi ke pos ojek.

Di kala hasilnya tidak seperti yang diharapkan, luapan emosi menekan nalar, jiwa dan raga. Bagaimana bisa dimengerti nalar, seorang caleg yang gagal kemudian membokir jalan utama di desanya dan menggali parit melintang. Jiwa tertekan, depresi menghantam, dan para suster dan dokter di rumah sakit jiwa pun dengan sabar siap menjadi teman. Badan tak kuat menerima beban, jantung terkejut tiba-tiba, ambruk, tersungkur dan kepala tunduk mencium tanah.

Dan jika hasilnya sesuai harapan, maka kerjanya tidak sesuai dengan yang dia janjikan. Yang terlihat adalah berbagai kebodohan: tidur di waktu sidang, menitip daftar hadir rapat, rapat kerja di hotel berbintang lima dengan lima milyar uang di tangan, studi banding pembuatan tahu ke Cina, memetakan pengaruh harga busana di butik Plaza Senayan terhadap inflasi nasional dan konsolidasi partai ke daerah terpencil dengan menggunakan Volvo terbaru lengkap dengan supir berkemeja safari ……

Apakah yang dicari? Undang undang (UU) adalah produk legislator, tapi tipe ini bahkan mengharapkan UUD – dalam arti Ujung-Ujungnya Duit.

Apakah orang sekarang sudah gila jabatan ya? Apakah mereka tidak tahu kalau jabatan, posisi atau kedudukan itu adalah sebuah amanah, tanggung jawab. Dan sebuah tanggung jawab akan diminta di hari akhir. Tingkah yang bijak jika mendapatkan jabatan atau posisi tidak hanya mengucap syukur, tetapi beristigfar. Mengucap syukur bukan karena mendapat durian runtuh, tetapi bersyukur karena dipercaya. Beristigfar – mohon perlindungan, karena amanah yang begitu besar.

Bahkan selevel sayidina Abu Bakar pun tidak mau menerima langsung tongkat kepemimpinan selepas Rasulullah karena tahu bahwa jabatan yang akan diembannya begitu berat tanggung jawabnya. Karena satu dari tujuh amal yang langsung masuk neraka tanpa dihisab adalah seorang pemimpin yang zalim.

Cag, 15-04-09, 5:19pm

Ya Allah, jika kedudukan ini menjadi rahmat tidak hanya bagiku namun bagi sekelilingku, berkahilah langkahku. Dan jika jabatan ini membuat aku berpaling dariMu dan dari kesejahteraan sekelilingku, cambuklah aku dengan peringatanMu. Dan jika posisi ini terlalu berat bagiku di mataMu, bimbinglah aku.

“tunjukilah aku jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

“…ya Allah, tunjukilah yang benar itu benar dan berilah saya kekuatan untuk mengikutinya. dan tunjukilah yang salah itu salah dan berilah saya kekuatan untuk menjauhinya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s