Nikmat, bahagia dan gengsi

Sekedar sharing sedikit kebahagiaan.

Seperti biasanya, setiap jam makan siang saya pasti kebingungan menentukan pilihan makan siang dan di mana. Persis seperti bingungnya ibu rumah tangga menentukan menu masakan tiap pagi (bukan begitu ibu-ibu…..).

Hari itu saya putuskan saat itu makan siang di Pacific Palace (bukannya borju, cuman karena Pacific Palace kan depan kantor). Karena sendirian, maklum sudah jam 1:45 siang, saya pilih salah satu restoran sekenanya, yang gak usah saya sebut lah. Saya pesan satu menu yang terlihat dari gambarnya menggiurkan. Menu tersebut ada gambar koki di sebelahnya, tandanya bahwa makanan itu direkomendasikan oleh chef-nya. Saya percaya saja kalau makanan itu enak. Namanya chicken rise with cashew nut and pineaple. Emh… terbayang kelezatannya.

Sementara aku duduk sendirian, di sekelilingku ibu-ibu eksekutif (begitu kali mereka ingin dipanggil), dengan dandanan yang cukup menarik, dengan wajah yang halus seperti tidak pernah kena debu, berkumpul, bersantap sambil ha ha hi hi. Beberapa orang bapak-bapak juga terlihat di antaranya. Entah arisan, entah reuni, entah memang makan siang barengan.

Tiba saatnya makanan yang dipesan tersaji di depan mata. Kepalaku sedikit miring ke kiri. Dahiku berkerut. Betulkah ini pesananku? Seperti kurang yakin, saya lihat lagi, ternyata memang benar pesananku. Di benakku sudah ada tanya, ” hmmm… rasanya makanan ini biasa saja nih”. Bahkan sudah muncul satu asumsi, “… kok kayak seperti karage kesukaan anakku ya…”.

Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya terserah anda. Iklan sampo itu tidak mengena saat itu. Bagiku, “Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya nikmati saja”. Kesan pertama dari daftar menu, masakan yang dipesan begitu menggoda. Selanjutnya, dengan satu suapan ke mulutku …… ya nikmati saja. Jangan ditafsirkan bahwa masakannya tidak enak. Bukan itu intinya. Namun ekpektasi makan di restoran di mall sekelas ini terlalu tinggi jika dihadapkan dengan lezatnya masakan yang biasa-biasa saja.

Alhamdulillah ya Allah, aku telah diberi kesempatan mencicipi mahalnya makanan seharga Rp 40.000 dengan rasa yang normal-normal saja.

Sebentar. Itu bukan kebahagiannku yang ingin aku sharing.

Di sore harinya, setelah keluar keringat bermain tenis (setelah dua tahun gak pernah gerak badan), aku pulang naek kereta Ciujung jam 7.17 malam. Karena sudah bilang mau pulang malam, dan minta istriku gak masak, aku putuskan untuk makan di luar. Kembali lagi kepusikngan menentukan pilihan muncul lagi.

Setibanya di Stasiun Sudimara, saya lihat ada meja kecil di pelataran peron, tempat seorang ibu menjual makanan. Seorang bapak dengan baju lusuh sedang asyik menyantap makan malamnya. Ibu itu menjajakan makanan sekelas warung tegal. Dengan santai aku lihat masakan yang ada di lemari kaca kecil. Ada sayur sop, ikan goreng, ayam bumbu merah, telor dadar, tempe orek, tempe mendoan, sambel dan juga dua buah sayur kuah yang gak terlihat jelas. Di sebelahnya tergeletak piring-piring tersusun dan tempat nasi besar.

Saya pesan nasi separoh dengan menu tempe orek dan telur dadar plus sambel dan sedikit kuah. Separoh nasi putih – untuk ukuran konsumennya ibu itu – ternyata masih terlalu banyak bagiku. Saya minta dikurangi. Saya cicipi makanan ibu itu, sesuap demi sesuap. Manisnya tempe oreknya begitu nikmat. Telur dadarnya pun demikian. Dua menu sederhana tersebut ditutup dengan sajian paling fantastik bagiku saat itu – teh hangat tawar. Bagi ibu penjual, teh tersebut bukan teh yang istimewa. Namun bagiku, teh tersebut begitu membuatku bahagia.

Bayangkan pada saat mulut kita menikmati kelezatan manis-asemnya tempe orek, bercampur dengan pedasnya sambal, semuanya ditutup dengan segelas teh yang panasnya begitu pas. Tidak terlalu panas sampai harus ditiup atau melelehkan lidah. Dan tidak terlalu dingin. Begitu pas. Bagaimana nikmatnya mulut dan lidah beradu antara perasaan pedas dan panas. Mungkin kalau diistilahkan Mario Teguh, itulah teh hangat yang SUPER. Bagaimana tidak super, selama ini hanya istriku yang bisa membuat teh yang begitu pas panasnya.

Alhamdulillah ya Allah, pada hari yang sama aku juga telah diberi kesempatan mencicipi begitu nikmatnya sebuah makan malam yang begitu sederhana seharga Rp 4.000 disertai dengan compliment tulus penjualnya “Terima kasih Om”.

Ini mungkin rahasia Tuhan mengapa orang sederhana begitu bahagia, sedangkan orang kaya begitu tersiksa. Terima kasih Ya Allah, saya sdah disadarkan akan makna kenikmatan. Makan seharga empat ribu dengan kenikmatan melebihi makan seharga sepuluh kali lipat. Dan itu sudah cukup membuat saya bahagia.

Berikan aku kemampuan untuk sering melepaskan baju gengsi diri, karena dengan gengsi jarang ada orang yang mau berendah-rendah diri. Dengan gengsi saya tidak mungkin makan di warung tegal tersebut, dan akhirnya saya tidak bisa memahami arti kenikmatan dan kebahagiaan hakiki.

Berapa banyak seorang atasan yang tidak memiliki kesempatan tersebut. Karena gengsi, begitu menderitanya dia sampai belum tahu arti lezatnya gudeg bu Citro di pinggir jalan Pondok Pinang. Uang dan gengsi bisa membeli makanan mahal hotel berbintang, namun uang dan gengsi tidak bisa membeli kenikmatan dan kebahagiaan.

Berbahagialah orang yang tidak terkungkung oleh GENGSI.

Cag, 16=04-2009, 8.37pm

“Meskipun gengsi itu tidak enak dimakan, sering dalam hidup ini kita mati-matian memburunya. Demi gengsi orang bersedia melakukan apa saja, berapa pun besar ongkos dan risikonya. Banyak tindakan melawan hukum, tata susila dan moral, dilakukan demi mengejar gengsi”. (Mohammad Sobari – Kang Sejo Melihat Tuhan)

Mengenai kebahagian,

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentera. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka KEBAHAGIAAN dan tempat kembali yang baik” QS 13.28-29

Aristoteles berkata: “Happiness belongs to the self-sufficient”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s