Ulang tahun – tahun yang berulang

Made, Dadan, Heri, Tenny, Riski, Rini dan beberapa teman lainnya yang sedang berulang tahun bulan ini – termasuk saya he…he…., met memperingati hari lahir Temans.

Ucapan selamat pada peringatan hari lahir (birthday) biasanya adalah “Semoga panjang umur”. Padahal, kita semua tahu bahwa panjangnya usia kita telah ditentukan Tuhan. Tidak bisa diperpanjang dan tidak bisa diperpendek. Itu sudah menjadi menjadi suratan takdir seorang manusia. Detik demi detik yang berlalu, hari demi yang berjatuhan, tahun demi tahun yang berganti, sejatinya mengurang jatah waktu kita hidup di dunia fana ini.

Mungkin sudah saatnya kita dengan sadar mengganti ucapan selamat menjadi “Semoga rahmatNya menyertaimu di sisa waktumu”. Ucapan seperti ini bisa ditafsirkan dengan beragam sudut pandang. Terenyuh dan tergetar karena diberi doa agar Dia menyertainya terus, ada yang teriris sendu karena megingat sisa waktunya. Dan rasanya akan jarang ucapan seperti itu dimaknaii memberi restu untuk menikmati hidup dengan umur panjang. Sejatinya umur panjang di mata manusia belum tentu yang terbaik di mata Tuhan. Berapa banyak kakek-kakek berumur panjang yang menginginkan segera cepat menyusul pasangannya atau temannya yang sudah meninggal karena merasa kesepian di tengah keramaian, serta tidak bisa menerima perubahan jaman yang begitu dahsyat.

Ya Allah. Agung namaMu. Tidak ada kata yang pantas untuk menyamai kasihMu. Terima kasihku atas ijinMu menikmati dunia ini, jauh lebih kecil dibanding debu yang melayang di luasnya cakrawala rahmatMu.

Ya Tuhanku. Begitu kecil rasa syukur yang dipanjatkanku atas segala yang terjadi. Begitu naif hambaMu dalam menafsirkan kasihMu. Kali ini aku bersimpuh, bersujud, menghinakan diri di depanMu. Tak pantas aku memohon ampun karena dosa-dosaku, namun Kau Maha Pengampun.

Ya Allah. Ijinkan aku untuk sadar akan ke Maha Besar an Mu. Ajarkan aku memahami makna di balik apa yang terjadi selama ini.

Aku rasakan penderitaan sewaktu ragaku sakit, padahal sejatinya itu adalah jalan bagiku untuk berbahagia dan bersyukur pada saat aku sembuh.

Kebahagiaan yang aku rasakan melihat anakku tumbuh besar dan berprestasi, justru hanyalah sebuah ujian sejauh mana iklhasnya kita melepas benih cintaku dan istriku di kemudian hari. Baik itu melepas karena kehidupan baru (berkeluarga) atau melepas karena kehidupan abadi (kematian).

Curahan cinta terhadap istri yang cantik, hanyalah sebuah tahapan pembelajaran akan kesiapan kita mencintainya pada saat kecantikannya menurun dan hilang, berganti keriput.

Keriangan yang aku rasakan dengan harta yang berkecukupan, hanyalah sebuah cobaan dan pelajaran bagaimana kita bisa menghadapi kerserbakekurangan di kemudian hari.

Cag, 16-04-2009 6:41

“And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s