menepis air

tatkala butir-butir air menyatu
membentuk garis-garis hujan
dan garis-garis itu turun berjamaah
ke muka bumi, berdempetan
bercengkerama dengan tiupan angin
membentuk badai, topan, taifun
atau hujan lebat

di bawah hitungan jam
gatot subroto tergenang
semanggi tercekik
pohon bertumbangan
kereta putus kabel mengular
mobil-mobil berdempetan juga mengular

resah, keluh, amarah, peluh
bergerombol di kepala, hati dan mulut
umpat dan serapah siap-siap meloncat
tatkala sadar di bawah sana dan di sebelah sana
ya di bawah jembatan
dan di tepi rel kereta
satu keluarga gubug reot
dengan lelah
dengan lusuh
dengan peluh
pasrah dengan usaha
sekedar menyibak hujan
menepis air

Mereka tersiram badai dan kita kering di balik rimbunnya gedung
Mereka berpeluh keringat menyibak petaka dan kita asyik bersendawa kenyang di balik kemudi
Lantas kenapa mereka pasrah
sedang kita mengumpat menantang Tuhan?

Manusia memang tidak pernah puas
Lihatlah ke bawah
Pandanglah ke sekeliling
Dan berlajarlah dari kearifan orang lain

Cag, 21-04-09, 12malem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s