Laskar Pelangi

Akhirnya kesampaian nonton Laskar Pelangi, setelah dulu gak sempat nonton di bioskop.

Hari ini saya nonton dari DVD yang asli (he … ), dan puas juga dengan isinya. Saya pikir filem ini ajang akting tiga orang, karena saya lihat mereka bermain alami dan begitu bagus, Pak Harfan, Bu Mus dan Lintang. Saya pikir Cut Mini bermain begitu bagus, dari awal sampai akhir. Saya kagum terutama waktu Pak Harfan meninggal, bagaimana permainan Cut Mini sangat alami.

Ikranagara juga maen bagus ya. Ada satu adegan yang menurut saya penting, yaitu sewaktu Pak Harfan bercerita apa artinya jumlah, dan yang penting adalah keimanan. Beliau bercerita dengan latar belakang sekolah yang disangga dua batang pohon. Begitu puitis dan berisi. Saya akui, keunggulan filem ini dari segi fotografi.

Selain ketiga artis tersebut, penampilan sejenak yang saya puji adalah istrinya Pak Harfan, kalau gak salah diperankan oleh Jajang C Noor. Alami banget. Pemeran Harun dan A-ling pun pas banget.

Namun demikian, saya rasa sosok Ikal, Bapaknya dan Ibunya Ikal agak terlalu berbeda dengan di bukunya. Saya mengharapkan bapaknya Ikal yang lebih kurus, pipi tidak terlalu berisi, dan pendiemnya terlihat. Juga ibunya Ikal rasanya terlalu cerewet. Ikal sendiri sepertinya agak terlihat bermain tidak lepas.

Ada sedikit kekurangan menurut saya, yaitu kostum dan makeup. Di beberapa segmen terliha makeup dan kostum kurang alami. Seperti pada saat diceritakan Lintang banting tulang, dan wajahnya belepotan debu / kapur putih, yang sepintas seperti tidak terlalu natural dihubungkan dengan bagian badan yang lain yang cenderung agak bersih. Juga sewaktu laskar pelangi berkumpul mendengarkan cerita nabi nuh, baju putihnya terlalu putih.

Kelemahan film yang diangkat dari sebuah novel adalah ekpektasi penonton yang terlalu tinggi, sehingga sebuah film sering dianggap mengecewakan dan tidak lebih baik dibanding novel. Ini hal yang wajar, karena pada saat membca novel, imajinasi kita melayang jauh, dan melayang bebas sesuai dengan penafsiran dan kehendak pembacanya. Sementara dalam sebuah filem, imajinasinya telah diterjemahkan dalam bentuk fotogafi, yang muncul dalam hitungan detik, sehingga tidak semenarik imajinasi di buku.

Kesan seperti ini mudah dipahami jika melihat adegan karnaval – menari sambil menggaruk-garuk badan di mana kita akan kesulitan menangkap kesan yang sama seperti di dalam buku. Atau bagaimana menghebohkannya Lintang berpapasan dengan buaya dan keluar seorang Bapak (lupa namanya) yang bisa membuat takut si buaya. Tapi, sutradara menurut saya berhasil membawa kesan yang sama di saat Ikal membeli kapur dan melihat tangan Aling yang indah.

Salut atas filem ini, karena memberi nafas dan udara yang baru buat perfileman Indonesia yang terlalu penuh oleh nuansa mistik, misteri dan hantu. Filem ini juga sangat bagus dalam memberikan penyadaran bahwa terjadi ketimpangan yang besar antara golongan kaya dan miskin. Hal yang terpenting yang dibawa oleh filem ini adalah bahwa pendidikan adalah begitu penting artinya untuk orang kecil, sehingga segala upaya fisik dilakukan, namun kadang hal itu kalah oleh kebutuhan hidup.

Cag, 26-04-2009, 5:22pm

“Janganlah pernah menyerah. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyanya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” (Pak Harfan di depan Laskar Pelangi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s