Berpikir positif di saat krisis

Krisis menghantam dunia, sepertinya sudah rutin, dan berulang dengan perioda ulang sepuluh tahunan. Ingatkah bahwa sepuluh tahun yang lalu kita dihantam krismon, yang rasanya belum hilang. Sekarang krisis juga melanda, lebih lengkap, tapi dasar ekonomi kita lebih kuat sekarang. Bahkan Jakarta Post edisi minggu lalu menurunkan artikel bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang punya pertahanan cukup dalam menghadapi krisis ini.

Namun demikian, tidak bisa dihindari jika pengaruh krisis akan terasa, dan pengertian dua pihak dalam sebuah perusahaan mutlak dibutuhkan. Tidak hanya sebuah pengertian, tapi juga pengorbanan. Pihak manajemen berkorban untuk rela mengeluarkan usaha dan cost berlebih untuk jangka waktu tertentu agar terhindari pehaka terhadap karyawan. Dan karyawan juga pastinya akan berkorban jika suatu saat kemungkinan buruk terjadi, entah dalam bentuk pengurangan waktu kerja, pengetatan biaya bahkan berujung pehaka.

Pengertian adalah satu kata yang penting saat ini. Dibutuhkan pengertian manajemen, agar semua yang diputuskan adalah yang terbaik tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga untuk karyawan. Juga dibutuhkan pengertian dari karyawan, bahwa yang akan diputuskan telah dipikirkan matang-matang, dan tidak hanya terbaik buat perusahaan, namun juga terbaik buat karyawan.

Nyata dari uraian di atas bahwa berpikir positif akan sangat bermanfaat untuk meloloskan diri dari krisis ini, dan mencapai win-win solution. Jika pikiran positif datang dari kedua belah pihak, memang akan tercipta sebuah sinergi yang indah di sebuah perusahaan, dan sinergi ini akan mengantarkan kepada atmosfer bekerja yang nyaman, dan semuanya bermuara kepada produktifitas yang tinggi dan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Namun demikian, pemikiran (mindset) positif tidak akan indah jika hanya dalam tataran wacana, instuksi dan perintah tanpa disertai dengan perilaku positif yang konkret.

Satu langkah yang sederhana bagi seorang pemimpin dalam berusaha bertindak dan berpikir positif adalah menempatkan karyawan sebagai mitra, dan bukan sebagai objek. Jika kita berhasil dalam tahapan ini, kita tentunya akan dengan tangan terbuka menerima pertanyaan, uneg-uneg, input keluhan dari mereka dengan baik dan menghindari pencitraan negatif sebagai provokator, biang rusuh, menentang atasan dan lain-lain.

Sebaliknya untuk karyawan, langkah sederhananya adalah menghargai pemimpin yang membuat keputusan yang terbaik, dan penghargaan tersebut bisa dibuktikan dalam menyampaikan pertanyaan, uneg-uneg, input dan keluhan mereka dengan bijak dan santun.

Semua yang tertera di atas seyogianya tidak akan berjalan lancar jika salah satu atau kedua belah pihak menghindari komunikasi. Komunikasi memang membutuhkan keberanian kedua belah pihak dalam mengerti, memahami dan menghargai posisi masing-masing. Penghindaran komunikasi sejatinya adalah sifat pengecut, dalam arti tidak jantan menerima sesuatu hal yang berbeda. Karena komunikasi akan memperlihatkan kualitas seseorang sebagai pemimpin yang baik atau bukan.

Kawan,

Marilah kita tanamkan pikiran dan perilaku positif secara sadar. “A positive attitude brings strengths, energy and initiative”

Dan iringilah pikiran dan perilaku postif itu dengan komunikasi. “The art of communication is the language of leadership”.

Cag, 27-04-2009, 9:02pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s