Sinusoidal

Masih ingat gak pelajaran trigonometri di SMP atau SMA, dimana diajarin rumus sinus, cosinus dan tange. Juga diajarin grafik sinusoidal yang seperti sebuah gelombang. Peletak dasar ilmu trigonometri sepengetahuan saya adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khuwarizmi.

Saya tidak membicarakan matematika, yang sepertinya rumit. Saya hanya sedang memaknai apa yang saya pikirkan hari ini, bahwa irama kehidupan adalah seperti sebuah gelombang, atau lebih ilmiahnya seperti sebuah grafik sinusoidal.Saya cenderung tidak menggunakan pembandingan seperti roda, ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah, karena keberadaan sebuah roda yang di bawah bisa dikonotasikan selalu teirinjak dan hina.

Grafik sinusoidal lebih fair dan netral mencerminkan sebuah perjalanan, kadang mengalami puncak (di sin 90 =1) atau mengalami palung ( di sin 270 = -1). Kadang berada di atas, kadang berada di bawah. Suatu saat bahagia, di lain saat menderita. Ada kalanya tertawa dan adakalanya menangis. Tertimpa sakit dan tertimpa sembuh. Seperti juga hal nya krisis ekonomi, ekonomi membaik tiap 10 tahunan, dan memburuk juga tiap sepuluh tahunan.

Coba bermain dengan ingatan, kapankah kita begitu semangat nonton di bioskop, dan kemudian hilang semangat tersebut. Bagi yang tidak suka menonton, coba ingat-ingat pernahkan merasakan suatu saat yang begitu bersemangat membaca buku sampai dengan sekian belas buku dilahap dalam satu minggu, dan minggu berselang sentuhan itu hilang dan tidak ada keinginan untuk melakukannya lagi.

Keimanan kita juga demikian. Iman mengalami pasang dan surut, naik dan turun, bergelombang, persis grafik sinusoidal. Tidak usah jauh-jauh mencari contohnya. Silakan amati keimanan diri sendiri. Dan tidak usah malu untuk mengakui, bahwa keimanan semua manusia pada dasarnya sinusoidal. Kita tidak sekelas Rasulullah. Kita manusia biasa. Yang membedakan antara yang kuat imannya dan yang biasa-biasa saja, adalah kadar penurunan dan kenaikan keimanan tersebut.

Sadar diri saya utarakan kalau saya malu dengan komentar anak saya, sewaktu dia dengan bergurau: “Ah, Ayah mah kalau lagi pengen ke mesjid solat subuh paling tahan satu bulan, setelah itu pleng beberapa bulan belang bentong, baru rajin ke mesjid lagi sebulan kemudian”. Pernahkah anda mendapatkan komentar “menyakitkan” seperti itu dari anak atau istri anda? Sengaja memberi tanda kutip, karena komentar tersebut begitu menohok, dan menyakitkan bagi orang sadar, tapi komentar itu benar apa adanya dan begitu bernilai.

Tidak dipungkiri, bagi saya manusia yang sedang, masih dan selalu terus memperkuat keimanan, sejatinya komentar tersebut adalah suatu cambuk atas ketidak-konsistenan saya dalam salah satu cabang beribah. Memang di kala saya lagi sedang “sadar” atau sedang “beriman”, saya berusaha rajin ke mesjid. Solat subuh di mesjid deket rumah, solat dzuhur dan asar di mesjid sebelah kantor. Bahkan diusahakan mengejar kereta jam 5.15 dari palmerah agar bisa ikutan solat maghrib dan isya di mesjid dekat rumah.

Bahkan dalam kondisi di sinus 90 derajat ini, saya dengan bimbingan Allah bisa dengan mudah bangun malam mengerjakan salat tahajud, atau datang kantor pagi hari menyempatkan salat duha, atau bahkan betul-betul melonggarkan waktu sekitar dzuhur dan asar dari segala aktivitas meeting. Selain itu, segala gerak langkah saya serasa begitu mudah, semua masalah rasanya terasa enteng karena ada saja solusinya, dan wajah saya serasa tambah segar dan berseri. Indah nian hidup ini.

Namun di kala puncak positif terlewati, dan kemalasan mulai menguasai, dimulailah perjalanan ke arah sinus 270 derajat. Di kala pagi menjelang, adzan berkumandang, dengan malas selimut dibuka, tapi mata tetap ditutup. Jangankan solat tahajud, solat subuh pun harus dibangunkan istri. Sesampainya di kantor, solat duha masih sempet dilakukan, namun selepas salam langsung cabut tanpa sempat dzikir. Adzan dzuhur tetap di depan komputer, hanya untuk mencek facebook dulu. Alasan lainnya cukup bagus, biar berjamaah di kantor. Ada saja alasannya.

Adzan asar masih di dalam meeting, dan baru selesai jam lima. Terburu buru solat asar, tanpa dzikir langsung cabut agartidak ketinggalan kereta jam 5.15, tetap dari Palmerah. Tujuannya sekarang berbeda, hanya ngin agar cepat sampai di rumah. Sesampainya di rumah berbarengan adzan maghrib, terlewatilah solat di masjid hanya karena alasan lapar. Dan mulailah segala masalah timbul dan terasa sebagai suatu hal yang negatif. Pusing kerjaan gak beres-beres, badan capek, konsentrasi hilang, mudah marah. Serasa hidup ini begitu penuh masalah. Dan wajahku pun tanpa senyum. Duh.

Itulah suatu kondisi manusia standar – dalam hal beribadah, yang bisa diterapkan juga dalam hal keimanan, yang Alhamdulillah masih dilindungi Allah, sehingga pada saat berada dalam kondisi keimanan yang menurun, masih diberikan suatu keteguhan hati sehingga terhindar dari perangkap syetan apapun bentuknya.

Namun, seyogyanya kita harus berusaha berubah menjadi lebih baik, dengan meningkatkan keteguhan hati dan sikap istiqamah, sehingga magnitude perubahan antara saat di puncak positif dan di lembah negatif keimanan tidak terlalu besar. Dengan tetap berperilaku baik dan berusaha menjadi orang baik, insya Allah akan membuat kita lebih teguh dalam keimanan. Karena sekali lagi kebaikan akan mendatangkan kebaikan, bagi diri sendiri dan bagi lingkungan.

Cag, 29-04-2009, 8:25pm

“Sesungguhnya orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan (amal shaleh), mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya,…” QS 10.9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s