Hari Pendidikan Nasional ya hari ini?

Sudah lama banget gak ngapalin kalo tanggal 2 Mei adalah hari pendidikan nasional. Sadarnya pun karena tanpa sengaja tadi pagi lewat di alun-alun kecamatan Pamulang, dilaksanakan upacara bendera, lengkap dengan guru-guru berbaju korpri dan anak-anak berpaduan suara. Jadi ingat masa sekolah dulu.

Di luar seremoni upacara, sebenarnya apa sih makna hari pendidikan nasional? Sepertinya gak ada artinya sama sekali. Pemerintah sebagai pembina, guru sebagai pelaksana dan orang tua dan siswa sebagai penderita (?) semuanya tidak berada dalam satu kesatuan utuh dan saling melengkapi. Semuanya berjalan sendiri-sendiri.

Coba lihat ujian nasional. Pemerintah dengan guru pun tidak sepaham. Pemerintah berpikiran jika ujian nasional itu sangat penting sebagai tolok ukur kelulusan, sementara guru berpikiran jika tolok ukur yang dipakai tidak hanya dari berdasarkan hasil beberapa jam ujian. Lalu, siswa dan orang tua lah yang menjadi korban. Kentara sekali jika siswa dan orang tua tidak mempunyai kekuatan penekan untuk ikut merumuskan kebijakan pendidikan nasional, dan hanya pasrah dengan apa yang terjadi.

Coba juga lihat kurikulum pelajaran kita, begitu luas dan padat. Satu hal yang harus selalu disyukurin oleh masyarakat Indonesia adalah mereka memiliki siswa-siswa sangat hebat, yang tahan banting, dan mampu menerima beban yang begitu berat – hanya untuk belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Silakan bandingkan dengan kurikulum pelajaran di luar negeri, semisal di Australia. Jika siswa Australia melakukan homestay di sekolah Indonesia, yang bukan sekolah internasional, saya yakin mereka akan menggelepar karena beban yang berat.

Ada IPS, ada IPA, ada matematika, ada geografi, ada sejarah, ada ini dan ada itu. Bahkan kebanyakan dari pelajaran tersebut hanya diajarkan sampai tingkat hafalan saja, tidak terlalu banyak yang diambil inti dari sesuatu yang diajarkan. Silakan ingat-ingat lagi, kita masih hapal kapan perang Dipenogoro itu, siapa penemu Tanjung Harapan, dibuang ke mana Bung Karno sebelum proklamasi. Tapi silakan tanya apa arti dan makna dari Perang Dipenogoro itu, apa hikmah penemuan Tanjung Harapan yang bisa kita teladani, dan apa arti pengasingan Bung Karno ke Rengasdengklok.

Sekali lagi, kita harus puji anak-anak kita, karena mereka begitu tabah dalam menerima beban pendidikan yang berat. Dan sesuatu yang hebat sekali (outstanding achievement) jika sekian orang dari mereka (delapan ya?) mendapatkan medali emas dalam sebuah kompetisi internasional di Polandia (kalo gak salah). Bravo.

Namun demikian, coba juga teliti dan pelajari apa hasil yang didapat siswa-siswa kita dulu (contohnya kita sendiri) dalam kehidupan, apakah mereka survive dan berhasil dalam pekerjaan? Saya merasakan ada yang kurang dari pendidikan kita, yang baru terasa setelah kita menjalani kehidupan sebagai seorang dewasa. Kita tidak diajarkan bagaimana memaknai sebuah permasalah, tidak daiajarkan bagaimana berkomunikasi yang baik dan efektif ( baik tulisan maupun lisan), dan kita tidak diajarkan untuk mempunyai dignity.

Coba juga lihat apa yang terjadi sekarang. Siapa yang paling banyak memberi pengaruh terhadap siswa-siswa kita? Bukan guru. Bukan orang tua. Tapi lingkungan dan …. televisi. Adakah sajian-sajian di televisi memberi pendidikan kepada anak-anak kita?

Silakan kita coba belajar menganalisa sendiri (sesuatu yang jarang kita lakukan kan, menganalisa): dalam satu hari, di slot prime time atau waktu utama, jam 4 sore sampe 9 malam, ada berapa sinetron atau acara yang muncul, dan buat persentase berapa persen acara tersebut yang mendidik. Coba dilakukan terhadap tiap saluran.

Coba juga ditulis apa yang sinetron atau acara lain sajikan selama ini.

Kemewahan, hidup enteng, keberhasilan dalam waktu singkat (pemain sinetron baru berusia 20 tahunan berperan menjadi direktur sebuah perusahaan)
Pengolahan emosi – marah (temasuk reality show)
Penekanan dan penistaan (bulying)
Intimidasi dan autoritarian (lihat seorang ibu menyewa bodyguard menculik menantu, dan dibius dengan menggunakan saputangan)
Mengumbar kejahatan (termasuk berita khusus kejahatan dibalut lucu, atau sinetron yangmemperlihatkan cara memberi racun di makanan yang sedang dimasak)
Mengumbar dan membuka aib orang di muka umum
Kejahilan yang membahayakan.

Coba analisa apa segi positif dari tayangan di atas. Coba analisa dengan nalar dan sanubari, apakah tayangan tersebut layak untuk disajikan? Coba teliti, apakah yang sudah pemerintah lakukan dalam hal ini. Coba cari informasi apakah pengaduan dari Komite Penyiaran sudah ditindaklanjuti. Coba … coba …. apa lagi yang harus dicoba, coba?

Coba juga kita beralih kepada permainan anak-anak kita, masih mendidik kah? Apakah play station dengan game perang, war, combat dan sejenisnya memang dibutuhkan? Jika ada sesuatu yang bisa diambil maknanya, apakah persentasenya jauh lebih besar dibanding kejelekannya? Apakah permainan itu hanya memuaskan satu sisi dari emosi, tapi tidak terhadap kebutuhan lainnya semisal sosialisi dan gerak tubuh. Mohon dimaklumi, saya orang berpandangan jadul, yang tidak mengijinkan anak bermain play station.

Coba … coba …. apa lagi yang harus dicoba, coba?

Ada, satu yang perlu dicoba. Lakukan pemboikotan pribadi dan terseleksi terhadap tayangan dan permaian yang tidak mendidik.

Kita jangan menunggu dan menyandarkan nasib kita dan keluarga kita kepada pemerintah (orang lain). Jika orang lain tidak melakukan sesuatu, kitalah yang harus melakukan sesuatu. Kita bukan lagi seorang inlander dan sudah bukan orang yang terjajah lagi. Please deh, jadul banget jika masih bermental begitu. Sebagai seorang modern, kita harus berpikir yang terbaik bagi keturunan kita.

Cag, 02-05-09

Rifki

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” QS 13.11

“Allah sekali kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubag apa yang ada pada diri mereka sendiri, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” QS 8.53

Setiap daripada kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimipinnya (kalo gak salah dari HR Bukhari dan Muslim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s