Di mana Pikiran Rasional

Saat ini, SBY dan Budiono sudah dideklarasikan sebagai pasangan capres dan cawapres. Bagus juga jargonnya, SBY Berbudi. Pidato SBY mah normal saja, namun pidato Budiono menurut saya cukup bagus. Sekarang artinya pertarungan perebutan kursi presiden sudah dimulai dan pertarungan perebutan kursi legislatif usai sudah. Usai perebutan kursi legislatif tidak berarti tidak menyisakan tanda tanya tentang akan dibawa kemana lembaga legislatif Indonesia.

Di koran Tempo hari ini, saya menemukan satu artikel yang biasa saja namun menyisakan tanda tanya itu. Artikel berita itu – di halaman A15 – bertajuk “Boediono tidak hadir, Rapat DPR batal”. Rapat batal padahal telah hadir Menkeu Sri Mulyani dan Deputy Gubernur Miranda Gultom. Walah, tingkah apa lagi yang dilakukan oleh anggota DPR.

Beberapa waktu sebelumnya, insan Indonesia yang merasa sebagai “wakil rakyat” meminta para wakil ketua KPK untuk tidak melakukan suatu keputusan strategis setelah Ketuanya tidak ada. Suatu permintaan yang menurut saya, yang awan hukum, agak ganjil dikemukakan oleh sekelompok orang yang harusnya sadar hukum karena justru bertugas membuat hukum – legislasi. Bukankah sistem KPK -dilakukan secara presidium, sehingga kepemimpinan dilakukan bersama-sama. Bahkan jika pun bukan sistem presidium, dengan adanya empat orang wakil ketua, masa sih tidak punya kekuatan hukum untuk memutuskan sesuatu tindakan. Jangan-jangan benar apa yang berseliweran di milis-milis umum bahwa terdapat teori konspirasi di balik tidak adanya ketua KPK.

Belum habis satu masalah, apa yang diberitakan koran Tempo itu memperlihatkan suatu keburukan formalitas orang Indonesia di parlemen. Jika Gubernur BI tidak bisa datang, lalu buat apa ada Deputy Gubernur? Bukankah dia datang tidak hanya sebagai pembantu Gubernur, tetapi sebagai wakil dari Gubernur jika Gubernur berhalangan. Lagian Miranda bukan hanya Deputy Gubernur, tapi sudah Deputy Gubernur Senior. Apakah undang-undang mengharuskan demikian?

Masalah kedua adalah bahwa pertemuan itu dihadiri oleh Menteri Keuangan – yang nota bene perwakilan Pemerintah. Jika pertemuan dibatalkan hanya dengan alasan seperti ini, terpikirkah oleh “wakil rakyat” terhormat akan harga waktu yang dikorbankan seorang pejabat setingkat Menteri, membuang waktu begitu saja beberapa jam hanya untuk duduk dan kembali pulang ke kantor hanya karena pertemuan ditunda. Hal yang tidak bisa diterima oleh akal saya yang masih sehat.

Lalu apa yang terjadi sebaliknya, jika justru semua pejabat pemerintah yang diundang datang secara lengkap, namun sidang batal karena anggota dewan yang hadir sama sekali tidak memenuhi kuorum. Sudah bukan rahasia umum lagi, dan sering dilihat di koran-koran, sidang dewan hanya dihadiri beberapa anggota dewan saja – itupun sedang tidur pulas atau sedang baca koran.

Inilah menurut saya yang disebut tirani baru – anggota dewan sudah berperilaku seperti dewa. Memang perbedaan Dewan dan Dewa hanya dalam satu huruf, N, yang mungkin bisa ditafsirkan sebagai Nurani.

Pemaksaan kehendak tanpa disertai pikiran yang rasional. Egoisme partai – tapi menurut saya lebih tepat disebut egoisme personal – begitu menguasai tindakan. Aktivitas legislatif jadi seperti aktivitas seorang yang merajuk, marah, bertindak kekanak-kanakan. Jadi dimengerti kenapa Gus Dur saat itu menjuluki DPR sebagai Taman Kanak Kanak.

Di sinilah saya bertanya, di mana ya pikiran rasional anggota dewan legislatif kita ini? Rasanya mereka itu semua berpendidikan tinggi, tetapi kenapa langkah dan tindakannya banyak yang aneh-aneh ya? Jadi bertanya, apakah DPR = Di manakah Pikiran Rasional itu?

Sebagus apapun presiden yang terpilih nantinya, akan tidak banyak artinya jika dewan legislatif tidak menunjukan prestasi – ya setidaknya berpikir rasional. Mudah-mudahan saja pemilu eksekutif kali ini menghasilkan seorang pemimpin yang tegas, yang berani berhadapan dengan dewan legislatif dan memberdayakan dewan menjadi dewan yang akuntabel.

Sok ah SBY Berbudi, JK- Wiranto, Mega-Prabowo. Saatnya anda membuktikan.

Cag ah, 15-05-09, 9:13pm

Rifki

One thought on “Di mana Pikiran Rasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s