Hand to mouth – sebuah pertimbangan di kala krisis

Sepanjang perjalanan ke Bandung hari Sabu kemarin, saya sempat mendengarkan sebuah lagu yang dibawakan oleh George Michael, dari album Faith – yang dulu terkenal di tahun 88an, berjudul “Hand to mouth”. Saya suka melodi dan musiknya, meskipun saya gak paham syairnya.

Sore ini saya google syair lagu tersebut, dan untungnya syairnya bernuansa netral, di tengah kekhawatiran berbau sex – seperti identik dengan segala macam yang menyangkut George Michael. Lagu ini bercerita mengenai orang miskin, yang sampai harus menjadi pelacur hanya sekedar untuk makan.

“Hand to mouth” juga adalah sebuah istilah yang baru saya mengerti sewaktu saya ingin sharing cerita dengan rekan-rekan sekantor sewaktu saya bertugas di Brisbane, bahwa pekerjaan dan pendapatan buat orang Indonesia masih berfungsi untuk mengisi perut. Seorang rekan kemudian memberi tahu bahwa istilah yang tepat dalam bahasa Inggris adalah “hand to mouth”.

Kenyataan ini sering saya kemukakan kepada rekan-rekan di Australia, karena apa yang terjadi di Indonesia terasa jauh sekali berbeda dengan apa yang mereka alami. Di Australia, berhubung ekonominya berjalan maju dan populasi rakyatnya cenderung sedikit di tengah luas negara yang besar, maka perhatian pemerintah terhadap rakyatnya begitu tinggi.

Pertama menginjakkan kaki di Brisbane beberapa tahun yang lalu, saya dibuat kaget mendengar seorang drafter senior (juru gambar) satu team sedang cuti panjang tiga bulan. Pertanyaan dasar saya langsung muncul di benak, apa gak mikirin makan dan kehidupan atau masa depan? Apalagi setelah mengetahui lebih jelas bahwa tujuan dia adalah berlibur keliling Eropa dan Amerika. Busyet.

Fenomena seperti ini jamak terjadi di masyarakat Australia, utamanya para pekerja. Bahkan saya sempat iseng-iseng bercanda dengan supir taksi yang sudah berumur sudah pergi ke mana saja pikniknya? Pernah ada seorang supir taksi yang bercerita bahwa dia bisa dibilang sudah pernah keliling dunia mengunjungi kota-kota besarnya. Keraguan saya bahwa dia membual hilang setelah dengan semangat dia bercerita tentang kota-kota tersebut termasuk dengan hal-hal khusus dan menarik dari tempat-tempat itu. Meskipun saya gak pernah keliling dunia, dengan pengetahuan umum saya mengenai geografi dan antropologi – itulah hasil dari gemar membaca – saya tahu bahwa apa yang diceritakannya adalah benar.

Selain itu, satu hal yang sangat berbeda adalah bahwa di Australia, terdapat suatu social net – jaringan sosial yang bagus, khas negara maju. Di sini, seorang yang tidak punya pekerjaan atau sudah tua renta akan ditanggung oleh negara. Dan tunjangannya pun bisa dibilang wah untuk ukuran orang Indonesia.

Saya pernah mengunjungi seorang sahabat dekat, kelahiran NTT, yang mantan istrinya sudah menjadi Permanent Resident di Brisbane, namun tidak bekerja dan tidak mempunyai penghasilan. Sewaktu saya diajak berkunjung menengok anaknya – yang ikut mantan istrinya – saya hanya membayangkan sebuah flat kumuh seperti di Tanah Abang. Tapi saya dibuat super kaget setelah melihat tunjangan dari negara buat mereka. Rumahnya / flatnya begitu asri, dua lantai, luasnya lebih dari 90m2, dengan teve flat, shower, electronic devices et. Pokoknya lengkap. Dengan melihat seperti itu, saya percaya sewaktu dia bilang kalo beberapa gelandangan yang terlihat berkeliaran di City adalah orang yang super bodoh (istilah kasarnya mah bego banget), atau karena tunjangannya habis untuk beli minuman (another good example why we do not drink alcohol).

Kenyataan itulah yang saya kemukakan kepada beberapa atasan saya, bahwa di Indonesia, semua penghasilan masih diutamakan untuk kehidupan sehari-hari – yang istilahnya hand to mouth, apa yang diterima tangan (penghasilan), akan masuk ke mulut (makan). Masa tua hanya mengandalkan sisa dari penghasilan tiap bulan itupun kadang-kadang tarik-menarik dengan keperluan refreshing – jalan-jalan. Belum biaya pendidikan – yang meskipun untuk sekolah negeri sudah mulai gratis – tetapi tetap ada pungutan ituh inih. Mengandalkan tunjangan sosial dari pemerintah? Please deh, kapan akan terealisasi sebuah social net, jika bahkan untuk urusan Bantuan Tunai Langsung saja – yang nyata-nyata buat orang yang tidak berpunya – masih dikorupsi.

Sempat terjadi diskusi yang panas sewaktu membahas dampak resesi ekonomi terhadap situasi perusahaan, di mana banyak perusahaan telah melakukan pehaka terhadap karyawannya, dan naga-naganya pehaka pun yang akan terjadi di perusahaanku. Pehaka di Brisbane adalah sesuatu yang sangat mudah, hari ini memberikan surat keputusan seseorang dipehaka, dan besoknya sudah mulai tidak bekerja lagi. Tapi ini tidak bisa diterapkan begitu saja di Indonesia, salah satu alasannya adalah “Hand to Mouth” itu. Jika mereka dipehaka hari ini, mereka bisa mengajukan klaim tunjangan social net ke pemerintah, sedangkan jika itu terjadi di sini, kita sepertinya menghentikan pasokan kehidupan tehadap karyawan kita – meskipun rejeki adalah urusan Allah dan datang dari arah tidak terduga.

Di sinilah pentingnya sinergi, komunikasi dan kebersamaan antara manajemen perusahaan dan komite perwakilan karyawan. Jika manajemen perusahaan bisa menempatkan pehaka sebagai langkah terakhir, pastinya terdapat beberapa alternatif lain yang bisa dilakukan – dan alternatif yang bagus kadang datang dari komite perwakilan karyawan. Beberapa alternatif yang bisa dicoba adalah pengurangan jam kerja, pengurangan gaji, pensiun dini. Jika alternatif tersebut dikomunikasikan dan didiskusikan kedua belah pihak, dengan tetap mengutamakan nalar dan objektivitas, insya Allah apa yang akan diputuskan merupakan sesuatu win-win solution. Jika kedua belah pihak menempatkan semua masalah pada tempatnya, dan tidak memaksakan kehendak serta ber-positive tihinking ke dua belah pihak, insya Allah keputusan akan membahagiakan semuanya.

Tentunya, terlalu ideal jika semua berlangsung cepat dan tanpa adanya gejolak. Tapi dengan komunikasi yang baik dan lancar, dan menempatkan karyawan sebagai bagian dari team, dan pengertian dari kedua belah pihak (pengertian dalam bahasa saya adalah positif thinking), insya Allah masalah bisa sedikit demi sedikit diatasi. Tentunya apa yang telah diputuskan belum tentu berlaku sepanjang waktu, dan disinilah pentingnya review berkala tentang apa yang telah diputuskan. Di kala perubahan yang cepat di suasana krisis ini, penyesuaian keputusan haruslah diterapkan.

Think wise and positive, think and act quick, and make right decision.

Cag, 18-05-09, 7:33am

Rifki

Menarik untuk sedikit mencukil beberapa comment beberapa sahabat terhadap Notesnya Kang (eh, Mas) Tegoeh Soeprijadi mengenai “Filosofi Donat”nya Joe Saunders, CEO Visa Inc:

“…Seorang teman pernah mengatakan, dalam keadaan normal, secara umum sulit sekali untuk mencapai sukses dengan cepat. Tapi dalam keadaan krisis, banyak orang berhasil menemukan momentum untuk mencapai sukses dengan melejit. Jadi katanya, dalam setiap krisis selalu ada peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai mimpi… ” – Taqyuddin Kadir

“Dalam kondisi pressure, membuat orang lebih kreatif dalam berpikir, lebih cerdik, lebih agresif untuk bisa keluar dari tekanan dan mencari peluang meraih kesuksesan, sehingga membangkitkan kepercayaan diri untuk lebih sukses lagi. Jangan pernah mau terjebak dalam lubang yang kosong”. – Ichwan Fachrian

“dimana ada kesulitan, disitu tercipta peluang kreatifitas”. – Rudi Gunawan

dan komentar saya yang membosankan dan terlalu general he… he ….

“Yang penting, keep positive thinking lah” – Rifki Feriandi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s