Tol

Hari ini nemuin suatu peristiwa memalukan, masuk tol tanpa bawa ambil tiket
akhirnya didenda.

Pagi itu, tanpa direncanakan saya pergi ke Bandung melalui tol Simatupang.
Jam menunjukkan pukul lima lebih, ba’da subuh ketika saya memulai
perjalanan. Saya putar lagu apa saja yang saya bawa, termasuk lagu favorite
Matt Bianco. Entah karena perjalanannya begitu lancar atau karena melamun,
pada saat melewati gerbang masuk jalan tol Cikampek, saya kebablasan. Saya
memang melihat gerbang dengan lampu kuning kedap kedip. Namun karena tidak
ada papan penghalang, tidak seperti semua pintu masuk tol di dalam kota
Jakarta atau Bandung, saya tidak menduga bahwa gerbang itu adalah tempat
mengambil tiket. Kembali pikiran yang baru tersadar dari lamunan berpikir
bahwa kemungkinan gerbang masuknya ada di depan. Asumsi-asumsi ternyata
kadang kadang muncul sebagai penghibur kesalahan yang dilakukan, dan itulah
yang terjadi. Bablas sampai ke tol Padaleunyi saya jalan tanpa tiket masuk.

Saya tidak terlalu ambil pusing. Saya toh sudah melakukan kesalahan,
meskipun hati kecil berbisik bahwa itu bukan kesalahan, tapi kelalaian. Ah
di mata hukum mah sama salahnya. Hukum alam, kalau membuat kesalahan pasti
ada konsekuensinya, dalam hal ini denda. Dan saya sempat melihat juga di
spanduk bahwa denda tidak membawa tiket adalah dua kali ongkos terjauh. Ya
sudah lah.

Sesampainya di ujung jalan tol Cileunyi, saya kemukakan kepada penjaga
gerbang bahwa saya gak bawa tiket. Karena malu dengan nama Rifki yang
berarti gentleman, saya pun sok bersikap jentelmen (atau polos kaleee)
mengakui kalo saya lupa bawa tiket, mungkin ngelamun. Abang petugas
kemudian menginformasikan bahwa dendanya sebesar dua kali jarak terjauh,
atau Rp 81ribu.

Well, saya siap untuk bayar, sewaktu otak saya langsung memproses nada
bicara si Abang yang mengandung suatu intonasi yang lain, nada ajakan atau
tawaran, bukan ajakan informasi atau perintah. Tapi saya harus tetap
berpositif thinking dong, seperti yang selalu saya omongkan. Saya langsung
saja bilang akan bayar – dengan nada seperti berwibawa (halah, jaim
gitu…).

Di sinilah kita belajar membaca raut muka. Sepertinya ada raut sedikit
kecewa terlintas di wajahnya. Tapi, dia juga bersikap tegas (atau jaim juga
kali), dengan menerima dan memprosesnya sambil kemudian memberikan uang
kembalian.

Wait a minute, pikirku. Mana struk bukti pembayarannya? Saya berani bayar
denda kalau itu semua masuk ke kas pemerintah. Lha kalo tidak mengeluarkan
struk, uang itu masuk kantong dong. Korupsi itu, korupsi (pakai gaya bicara
pengamat politik). Dengan tetap menjaga kesantunan, meskipun hati sudah
panas dibodohin begini, saya tanya mana struk bukti bayarnya. Jawabannya
cukup mengejutkan karena dia harus mengambil struknya di kantor yang
berjarak kurang lebih 100m – dan bukannya siap di tiap gerbang. What!!!
Dengan kalem, dia mempersilakan saya untuk menepi dan menunggu suruhannya
mengambil struk itu. Ya ampun.

Bisa dibayangkan kan jiga orang yang didenda adalah orang yang sedang dalam
kondisi terburu-buru, atau orang yang tidak sabaran. Tentunya dia akan
langsung tancap gas, tanpa memperdulikan sebuah struk selharga 81 rebu.
Padahal kalau dipikir pikir, justru itulah peluang sebuah korupsi terbuka.
Jika kita benar-benar mengabaikan sebuah struk dendaan, uang sebesar itu
langsung masuk kantong pribadi, dan tidak masuk kas negara. Jika saja di
tiap gerbang tol, ada tiga atau empat kasus seperti ini, dan orang tidak
sabar untuk menunggu datangnya bukti denda, berapa besar uang yang
diikhlaskan untuk dijkorupsi. Mungkin dalam bentuk nominalnya tidak
signifikan, tetapi itu artinya kita membiarkan sesuatu yang salah tetap
berlangsung dan tidak berusaha mencegahnya.

Secarik kertas berharga Rp81 rupiah

Jadi pertanyaan, apakah memang praktek seperti itu yang justru diharapkan?
Apakah itu artinya sudah sedari awal penerapan undang undangnya sudah
diselewengken? Orang yang berpikir normal pasti berpendapat “kenapa tidak
disiapkan struk denda di tiap gerbang? Simpel kan”. Atau memang benar
adanya sebuah anekdot yang berbunyi “kalau bisa dipersulit kenapa
dipermudah”.

Waduh, kalau itu yang terjadi, kapan negara kita mau bangkit…..

Cag, 19-05-09, 07.15 pm

“Allah melaknat penyuap dan yang menerima suap dalam hukum.” (Riwayat Ahmad, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s