Tatapan seorang pria

Aku rebahkan pantatku di atas sebuah bangku di mall, hari itu. Setelah menemani istiku berkeliling, akhirnya kutemukan juga sebuah oase untuk mengistirahatkan kaki yang pegal.

Saya duduk di sebelah istriku yang sama sama kelelahan. Pada saat itu saya merasa ada seseorang di belakangku yang memperhatikanku. Sepertinya gerak-gerikku tidak lepas dari perhatiannya. Aku rasakan itu. Sekejap terlihat dengan ujung mataku, dia sepertinya menoleh kepadaku.

Dengan penasaran aku membalikan badan dan menghadapnya. Di seberang sana, sekitar lima meter dari tempatku duduk, di atas bangku kayu yang serupa, duduk seorang cowok menghadapku. Disebelahnya, duduk seorang wanita yang hanya terlihat punggungnya membelakangiku, dengan postur tubuh seperti istriku. Mungkin istrinya. Cowok itu berparas ganteng, terlihat seperti cowok baik-baik. Usianya sepertinya lebih muda dariku dengan postur tubuh yang juga tidak berbeda denganku agak lebih langsing. Dia kemudian tersenyum kepadaku. Waduh. Apa artinya itu.

Aku tahu, beberapa cewek kadang memberikan senyuman padaku atau membalas senyum ramahku. Tapi senyuman seorang cowok? Tidak hanya senyuman, namun juga tatapan. Sebuah tatapan yang penuh menyelidik, menilai dan mengagumi, seperti juga yang sedang aku lakukan, menyelidik dan menilai.

Dia berpakaian rapi, berkemeja lengan panjang kotak-kotak, dengan lengannya digulung sampai siku. Rambutnya tidak terlalu rapi, model jadul – agak BF – ‘beulah finggir’ (dibelah pinggir). Meski tidak sekeren Ello, untuk ukuran usianya, dia masih terbilang tampan.

Kaget karena terlalu banyak memperhatikan cowok itu, aku sengaja menengok istriku yang sedang asyik menulis sms. Aku takut istriku mempunyai persepsi lain jika melihatku balas menatap cowok itu. Dan mungkin karena kaget, cowok itupun tersadar dan juga melihat istrinya.

Setelah melihat istrinya asyik dengan handphonenya, dia kemudian kembali tersenyum dan menatapku. Anehnya, aku membalas senyuman dan tatapannya. What’s the matter with me? Apakah aku sedang mengaguminya juga. Jangan-jangan aku….

Aku segera tersadar dan tertampar sewaktu istriku dan istri cowok itu, yang sama sama memakai pakaian warna hijau lembut, berdiri pada saat yang persis bersamaan. Aku tatap cowok itu sekali lagi, dan dia menatapku juga. Aku beranikan memberikan senyumku, dia membalas senyumku juga. Dan tatkala aku berdiri dan memegang tangan istriku dan mengelus rambut istriku untuk memberi isyarat bahwa saya sudah beristri, dia juga melakukan hal yang sama. Dan setelah aku lihat wajah istrinya yang adalah wajah istriku, aku tersadar bahwa aku …… sedang menatap cermin……

Cag, 29 Mei 2009, 07.30 am

Mengambil ide dari status FBnya Endriawan dua hari yang lalu.

Narsis: tindakan seseorang dimana ia sangat mencintai dirinya sendiri …. (Wikipedia)

Narcissus: dewa mitologi Yunani yang tampan, anak dewa sungai, Cephissus, yang dikutuk dewi Nemessis supaya mengagumi dan jatuh cinta kepada bayangannya sendiri

Narcism: the attribute of the human psyche characterised by admiration of oneself but within normal limits (the free dictionary by farlex)

One thought on “Tatapan seorang pria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s