Manohara dan Manaharu – what a different story

Huebat. Seorang gadis cantik, anggun, muda, yang hidup di sebuah istana bak Cinderella, namun menemukan kenyataan sang Pangeran tidak ubahnya seperti Dracula, ternyata berhasil melepaskan diri dari kepungan para ponggawa kerajaan. Huebat. Oh Manohara. Halah.

Hebat benar efek sebuah pemberitaan. Bayangkan sebuah koran Tempo, yang suka dijadikan pegangan pegawai kantoran – terutama golongan Anker (Anak Kereta) – dengan rela hati menurunkan satu halaman artikel penuh tentang bebasnya Manohara. Di halaman depan lagi, dengan judul dahsyat – tidak
kalah dengan penyelamatan Woyla di Don Muang: ‘Manohara lolos berkat operasi bersama’.

Bayangkan juga semua saluran televisi dengan program gossip – mau yang berkesan murahan atau elit, mau yang dibawakan dengan serius dan mulut monyong setajam alat cukur atau yang dibawakan cengar-cengir ha-ha-hi-hi oleh pria gemulai temennya Emon atau sengaja dibuat gemulai biar ada job –
menampilkan breaking news: “Manohara bebas”.

Bahkan berita itu menenggelamkan kabar baik – yang sebenarnya gak ada yang istimewa – bersalamannya penghulu negeri di dua masa berbeda.

Siapa sih Manohara itu?
Mau dibilang kuperpun aku gak peduli, yang pasti aku gak kenal siapa dia (‘kenal’ dan ‘tahu’ itu beda kan).
Memang kenapa sih dia itu?
Disekap, tahu!!
Oh ya? Oleh siapa?
Suaminya. Kuper banget sih kamu!!
Oh… (perasaan sih saya gak kuper amat karena saya masih bisa ngebedain mana kekerasan, mana aturan dan mana permintaan suami terhadap istri). Tapi kenapa di televisi dia senyum-senyum mulu, kalo dia tertekan? Dan gemuk lagi.
Aah, sudahlah.

Terus terang saya terang-terangan terus. Politisasi pemberitaan kayaknya sedang terjadi nih.
Entah itu politisasi akibat memanasnya hubungan dengan Malaysia akibat pelanggaran batas wilayah Ambalat – yang ditanggapi adem saja seperti seorang tetangga melintas pagar rumah gara-gara jambu klutuknya nyasar ke halaman sebelah.
Entah politisasi akibat memanasnya perlombaan menuju puncak singgasana, sehingga penyelamat Manohara mendapat poin sebagai pahlawan dan kegagalannya dianggap menurunkan rating sepuluh poin.
Entah juga politisasi media televisi menarik perhatian pemirsa yang sudah mulai muak dengan sinetron dan hantu, serta mulai kebingungan membedakan misi sebuah televisi dalam hal ‘pendidikan’ dengan ‘pendidikan dangdut dan tahayul’.
Entah juga politisasi dalam menutupi aib yang telah dilakukan beberapa pihak, yang tersangkut ataupun tidak.
Entah juga politisasi moral, untuk menciptakan citra bahwa seks bebas sudah wajar, meskipun di negeri jiran yang kelihatan lebih agamis.
Entah jangan-jangan ada politisasi dimana Yahudi bermain (jauh banget ya Entah nya).
Entahlah.

Kita serahkan kepada kenyataan sejarah apa yang sedang terjadi. Selama tidak ada pemberitaan imbang (istilah tepat check and recheck sekarang jadi terlalu identik dengan program gossip), dan selain hati Manohara dan suaminya yang bicara (hati loh, bukan bibir), jangan harapkan ada jawaban yang benar. Buktinya di negara kita Manohara yang ‘menang’ sementara di negara jiran, dia justru
yang ‘kalah’.

Kalau benar dia teraniaya, saya sangat menyesal dan ikut bersimpati, dan berdoa mudah-mudahan dia diberi ketegaran dan dilepaskan dari mimpi buruknya.
Kalau tidak benar jika dia tidak teraniaya, saya juga sangat menyesal dan jadi berempati, dan berdoa mudah-mudahan dia dibukakan hati dan kejernihan pikiran serta dapat membedakan mana yang benar dan salah.

Nah, kalau Manaharu itu siapa?

Lah, gak usah dipikirin. Itu mah nama yang saya buat sendiri, dimirip-miripin dengan Manohara, biar terkesan puitis. ‘Dia’ atau tepatnya ‘mereka’ adalah orang yang jauuuuh lebih tepat dipolitisasi. Bahkan sudah masuk hukum halal dipolitisasi (eit, jangan berdalil Rif). Namun sayangnya tidak ada yang mau mempolitisasi. Ada dianggap tiada. Bahkan meminta rasa haru pun mana mau. Deudeuh teuing Manaharu.

Mereka secara jelas, terang, bulat-bulat dan nyata didepan mata telah terbukti dianiaya. Tapi media tidak melihat – dan tidak mau melihat – seseorang yang hitam, dekil, dusun, polos, kurus, cacat. Tidak aneh seorang berwajah biasa cacat karena teraniaya. Gak ada nilai jualnya. Beda dong dengan cewek cantik dan segar yang telah begitu teraniaya, memberikan konferensi pers dengan pipi segar dan kulit halus. Tinggi nih ratingnya.

Bandingkan penyambutan si cantik teraniaya di bandara, ditunggu kuli tinta dengan blitz menyala, sementara si lugu teraniaya dijemput di terminal tiga oleh ‘oknum’ serigala berbaju petugas jaga.

Bandingkan kisah heroik penyelamatan Manohara ‘berkat bantuan berbagai pihak, termasuk kepolisian dan imigrasi’ negara tetangga. Sementara seratus Manaharu si pahlawan devisa terkungkung di KBRI sebuah negara selama berbulan dan bertahun, ‘tanpa ada bantuan dari satu pihak pun, termasuk
kepolisian dan imigrasi’ negara itu.

Perbandingan yang super – meminjam istilah Mario Teguh. Dengan istilah saya – Perbandingan yang sadis.

Ya, nasib Tenaga Kerja Wanita adalah sebuah kenyataan buruk bagaimana kita abai terhadap sesama. Sepanjang negara ini mempunyai Menteri Tenaga Kerja, rasanya persoalan TKW teraniaya tidak pernah tuntas, atau bahkan mungkin tidak disentuh. Apakah tidak lebih bagus jika KPI (key performance
indicator) keberhasilan seorang Menteri Tenaga Kerja adalah keberhasilannya mengentaskan masalah TKW. Menaker tidak perlu sibuk mikirin membuka peluang kerja. Itu mah urusan presiden. Urus saja nasib tenaga kerja.

Praktisi hukum pun sepertinya tidak tertarik melakukan pembelaan secara optimal. Apakah karena tidak mengandung muatan politis atau tidak mendatangkan keuntungan besar – finansial maupun ketenaran. Who knows.

Sebenarnya inilah peluang sebuah partai bersih untuk memperlihatkan kebersihan hatinya dalam membela masyarakat teraniaya. Jangan pikirkan kepentingan politis, rating atau pamor. Lakukanlah kebaikan. Karena keuntungan akibat sebuah perilaku kebaikan akan kekal dikenang dan dengan
sendirinya akan diketahui umum. Insya Allah.

Cag, 1 Juni (hari lahir Pancasila yang mulai tidak dipedulikan). 9.30pm

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. ” (Q.S 49:12)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau (kalau tidak) hendaklah ia diam” (Mutafaq’alaih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s