kuliner nostalgia

Sekali lagi saya nikmati sebuah pasar dadakan, pada hari Minggu ini di
Bandung. Tepatnya di tugu Bandung Lautan Api, Tegallega. Kali ini
kunjunganku ke deretan usaha kecil msyarakat tidak hanya untuk memahami
bagaimana masyarakat kecil berinisiatif bisnis, tapi juga sebagai suatu
perjalanan kuliner nostalgia. 

Ya, perjalanan kuliner, karena kali ini tujuan utamaku adalah mencari
makanan, berat atau ringan, termasuk cemilan, yang dulu pernah dan malah
sering menjadi kudapan utama.

‘Petualangan’ dimulai dengan memakai angkot – dulu mah disebutnya teh honda
pan – warna putih-kuning, jurusan Cikudapateuh-Leuwipanjang.  Turun di
perempatan PT INTI – masih dikenal juga sebagai PTT, cukup dengan membayar
Rp 1500, dari Palasari.

Mendekati kompleks Tegallega, saya sudah disambut penganan khas Bandung –
surabi (orang Sunda mah pake ‘u’, bukan ‘e’). Tinggalkanlah surabi rasa
keju, surabi kornet, surabi sosis dan berjenis surabi modern lainnya. Ini
asli surabi kampung, yang hanya mengenal dua jenis, oncom atau manis. Asli,
karena dibuat di atas pembakaran kayu bakar dan tempat dari tanah liat,
juga lengkap dengan asap ‘mulek’. Sudah mah rasanya enak, harganya juga
murah.

Surabi

Masuk ke pelataran kolam renang Tirtalega, tempat berenang sewaktu SD yang
masih tidak berubah, saya disambut musik disco pengantar ibu-ibu yang
sedang senam pagi dipimpin cowok kemayu. Sudah tidak ada lagi senam
kesegaran jasmani sekarang mah. Penyambutanku dilanjutkan dengan
berderetnya jongko penjual makanan, buah-buahan dan segala barang kebutuhan
rumah tangga.

Masuk ke pelataran inti tugu BLA, mulailah saya menyusuri lorong waktu dua
puluh atau tiga puluh tahun yang lalu.

Di sela-sela penjual barang, kudapati beberapa orang ibu penjual sate yang
sibuk mengipas dagangannya dengan kipas bambu (hihid), di atas alat
berbahan bakar arang. Sate itu kemudian disajikan di atas daun pisang
(pincuk) ditemani lontong. Dimakan selagi panas, ditemani asap pembakaran
sate, diiringi pengamen ibu-ibu yang memetik kecapi berlagu kawih sunda.
What a nice world.

kacapi

Kaki kembali melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di depan penjual
batu alam berbentuk lengkung – cowet. Di sana kudapati tiga buah pajangan
yang menarik perhatianku.

Pajangan pertama adalah kudapan ikan-ikan dan udang kecil-kecil yang
kayaknya digoreng tanpa minyak (disangray). Ada impun (ikan kecil), jaer
dan entah apa lagi namanya. Tekstur makanannya kasar, tapi crunchy
(ngerekes gituh). Enak buat cemilan, terasa banget suasana kampung di
lidah.

Pajangan kedua adalah sayuran bulat besar, dikelilingi kuah berwarna orange
menarik. Buntil. Terdiri dari helai-helai daun ketela yang disusun
menyelimuti parutan kelapa kemudian ditaburi petai selong (yang kecil-
kecil itu loh, gak bau, bisa dimakan langsung seperti cemilan).

buntil

Disebelahnya, terlihat dominan dengan warna kuah kuning menyegarkan, adalah
‘tutut’ atau istilah kerennya mini escargot. Weleh weleh. Jadi ingat waktu
kecil. Buat yang belum biasa, tutut dimakan dengan bantuan tusuk gigi untuk
mengeluarkan dagingnya. Untuk yang sudah biasa mah tinggal diisap
(‘dikecrok’) saja. Yang paling bisa dinikmati adalah jika bumbu yang
dipakainya bertakaran tepat. Hati-hati waktu memakannya, karena biasanya
ada yang terasa kasar pada dagingnya, dan terasa pahit. Untuk yang sudah
terbiasa mah, lidahnya sudah bisa membedakan dan memberi perintah untuk
membuang bagian tersebut.

tutut

Kontras dengan pajangan sebelumnya yang didominasi warna kuning kunyit dan
hijau daun, di pajangan ketiga dipenuhi warna merah cabe, pedas. Di situlah
saya serasa menjadi anak kecil delapan tahun, memakai celana pendek warna
abu-abu dan berkemeja putih, dengan rambut yang masih lebat dibelah
pinggir, dengan wajah lugu – innocent, berjongkok di depan penjual penganan
favorit anak-anak kala itu, mengantri nunggu teman lainnya yang mendapat
giliran lebih dulu. Itulah ‘kurupuk bondon’ (maaf), atau kerupuk ‘lada’
(pedas).

Kurupuk bondon

Entah kenapa disebut kerupuk ‘bondon’. Mungkin karena merah di mukanya
seperti wajah menor wanita nakal berbedak tebal, atau rasa pedasnya yang
membikin panas. Entahlah. Yang pasti sewaktu kecil, kita suka sekali makan
kerupuk berbungkus kecil-kecil itu. Tidak perlu sendok atau tisu atau alat
lainnya. Paling nikmat jika diambil langsung pakai tangan, dan bahkan bumbu
yang menempel di jaripun bisa sempat-sempatnya dijilat. Anak-anak saat itu
mana berpikir higienis terlalu dalam, bahkan makan kerupuk pun tidak cuci
tangan dulu sehabis maen ‘sorodot gaplok’ atau kasti / rounders.

Di luar penganan-penganan tersebut, terlihat mainan anak-anak yang dijajaka
seorang ’emang’, mobil-mobilan yang otomatis berbalik jika ketemu
penghalang. Duh, jadi inget jaman itu, di mana mobil-mobilan seperti itu
adalah barang mahal. Rasanya senang banget jika sudah dapt mainan seperti
itu, apalagi yang pakai track dan tombol (dulu belum ada remote, jadi
tombolnya pun pake kabel. Mainan ini sama populernya dengan kapal-kapalan
dari kaleng di atas air sebaskom yang bisa maju jika dinyalain lilin di
dalamnya. Sayangnya saya tidak menemukannya di sini.

Penganan lain yang saya temuin, dan bertahan dari gempuran jaman adalah
cilok – aci dicolok (makanan dari tepung kanji yang ditusuk). Makanan ini
memang tidak bergizi. Bagaimana bergizi jika isinya cuman tepung aci. Yang
penting pan enak. Sayangnya cilok yang dijual sudah disesuaikan dengan
selera modern, dengan memiliki aneka rasa. Jadinya rasa nostalgianya
berkurang deh.

cilok

Penganan selanjutnya juga sudah bertransformasi mengikuti waktu, dan
biasanya dijual menyertai martabak. Cakue dan odading. Saya beruntung
menemukan cakue dan odading rasa kampung. Lumayan lah.

Kalo penganan lainnya ini masih asli kayak dulu, hanya saja didagangkan
dengan dorongan, bukannya ditanggung. Itulah kue cubit.

Entahlah arti sebenarnya dari kue cubit. Cuman saya masih inget kalo dulu
kita makannya tidak digigit langsung, tapi dicubit (‘dipocel’)
sedikit-sedikit. Dan yang paling enak adalah jika kita minta kue yang
setengah matang, bawahnya kering tapi atasnya masih mentah. Enaaaak.

Penganan terakhir yang saya lihat dan beli adalah kacang rebus. Masih tetap
dijual dengan ditanggung, dan juga masih tetap dibungkus kertas bekas
berbentuk kerucut. Cukup seribu rupiah. Dua jenis kacang yang saat itu
dijual, kacang suuk (sudah biasa ditemui) dan kacang Bogor – yang lumayan
lama gak nemuin.

Selain penganan dan makanan tersebut, ternyata ada hal lain yang membuat
pikiran melayang ke masa silam. Saya juga menemukan dua aktivitas yang dari
dulu sampai sekarang masih bisa kita lihat.

Apa yang bisa ditebak? Sedang mengerubungi apakah orang-orang di foto itu.
Mereka bukan sedang melihat korban kejahatan, seperti sering terjadi pada
saat-saat ini. Ya, mereka sedang memperhatikan ‘tukang obat’, yang mulutnya
berbusa menarik perhatian orang yang lalu lalang. Barang yang
didagangkannya tidaklah seberapa, semacam obat panu, peninggi badan, obat
kuat (maaf) atau obat pembersih gigi. Tapi lihatlah kepiawaian dia dalam
menarik perhatian. Lihat juga ketegaran dia setelah kerumunan bubar,
sementara urat leher menegang kecapaian, tapi barang hanya sedikiut
terjual. Perhatikan juga tingkah polah ‘pemirsa’nya, ada yang takjub,
sinis, merasa lucu, heran, tertarik atau justru gak peduli.

Kerumunan lainnya membuatku heran sekaligus takjub. Heran, karena saya
pikir aktivitas seperti ini sudah lama pudar seiring meredupnya orde baru.
Aktivitas ini berupa penerangan pemerintah melalui mobil keliling. Takjub
karena masih ada semangat sebuah lembaga pemerintah untuk memanfaatkan
pertemuan informal dan santai dengan masyarakat tanpa bersikap menggurui.
Kali ini usaha tersebut milik Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah,
Provinsi Jawa Barat.

Selain menampilkan foto-foto sejarah, diputar juga sebuah filem – entah
dokumenter atau sejarah – dari sebuah teve di dalam mobil keliling itu.
Saya perhatikan juga ternyata banyak orang yang menonton dan
memperhatikannya. Satu acungan jempol buat pemerintah.

Perjalanan diakhiri secara manis dengan bayangan Hubdam dan pohon beringin
tua dan angkernya, serta melewati deretan penjual bungai-bunga bermacam
warna, indah sekali tertimpa sinar mentari, dan masih terlihat segar
terpercik embun pagi.

Dan mataku mengakhiri perjalanan nostalgiaku dengan
menatap sebuah kios yang mempunyai nama menarik, bahkan disertai alamat
email. Kios itu bernama: Dianaross putera.

Cag, 4 Juni 2009, 8:15pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s