Sebuah kebaikan saat hujan di jalan mutiara

Sepenggal peristiwa biasa akan terasa menyentuh dan mengandung pelajaran jika kita bisa memaknainya.

Saat itu hujan turun deras sekali. Bandung sedang terkena hujan lebat dalam beberapa hari terakhir. Aku dan istriku sedang berada di toko makanan kecil langganan, memilih makanan ringan / kue-kue yang mau saya beli buat cemilan.

Hujan teramat deras. Tiga buah motor berhenti di depan warung itu (tepatnya berbentuk rumah biasa, dengan halaman cukup untuk satu mobil). Ketiga pengemudi motor, anak-anak muda, turun dan kemudian berbicara santun dengan pemilik toko: ‘Maaf bu, ikut numpang berteduh’. Ibu pemilik toko pun menjawab dengan ramah:’Mangga…’ (bs sunda: silakan).

Tidak cukup di situ saja, pemilik toko kemudian memberikan beberapa kursi plastik untuk mereka duduki, sambil kemudian mengajak mereka mengobrol ngaler ngidul. Jelas terlihat bahwa mereka tidak saling mengenal sebelumnya, dan pengemudi motor pun tidak pernah berbelanja di sana. Jelas juga kelihatan bahwa pemilik toko mengajak ngobrol dengan lepas, tanpa sungkan atau mengharapkan mereka berbelanja.

Saat itu lewat juga seorang pedagang mie kocok keliling. Usianya sudah cukup tua. Ditemani payung kecil, dia terlihat kerepotan mendorong gerobaknya di tengah guyuran hujan deras. Saya hanya bergumam sendiri: ‘sudah lah Pak, mampir di sini dulu, seperti yang lain, menunggu hujan lebat berhenti. Insya Allah, rejeki mah gak ke mana mana’. Bukan karena gumamanku dia pun akhirnya mampir. Saya yakin mau tidak mau dia harus mampir karena memang hujan demikian lebatnya.

Di sanalah turunnya berkah dan hikmah hujan bagi manusia. Dengan disatukan oleh hujan, beberapa orang anak manusia yang tidak saling mengenal kemudian berkomunikasi dengan indahnya. Dan kondisi in pula yang melatari terjadinya taburan rejeki di antara mereka.

Diterpa angin dingin dan hujan, ketiga pemuda yang menunggu pun akhirnya memesan mie kocok kepada pak tua tersebut. Bagi pak tua, itu adalah sebuah rejeki langsung, rejeki yang belum tentu dia dapat jika dia terus berkeliling selagi hujan. Sedangkan bagi pemuda tersebut, mereka mendapatkan kehangatan badan dan tenaga. Keduanya sama-sama beruntung.

Lalu, apa keberuntungan yang didapatkan pemilik toko, yang ramah memberikan kursi dan beranda rumahnya untuk berteduh bagi orang yang tidak dikenalnya? Tidak ada?

Ya, saat itu memang pemilik rumah tidak mendapatkan apa-apa, dan saya melihat hal itu. Namun percayalah, tindakan kebaikan tidaklah mungkin sia-sia. Dan rejeki tidaklah selalu datang pada saat yang ditunggu. Serta kebaikan tidaklah selalu berbalas langsung, kadang diturunkan pada saat itu juga dan kadang diturunkan pada saat lain yang dibutuhkan.

Hidup tidaklah seperti sebuah sinetron, di mana kebaikan sepertinya akan selalu diganjar pahala langsung persis seperti membeli deterjen berhadiah gelas. Tidak adanya balasan dari kebaikan saat itu tidak berarti kebaikan tidak berbalas. Kebaikan pasti berbalas.

Manusia berbudi pasti mengerti akan arti kebaikan, dan mereka akan membalasnya jika kebaikan itu menimpa dirinya. Apatah lagi Allah, Tuhan segala makhluk. Dia Maha Mengerti akan artinya kebaikan seorang manusia, dan juga Maha Pemberi Rejeki. Karena dengan Maha Mengetahuinya, Dia lebih tahu kapan seorang manusia membutuhkan rejeki tersebut. Give it in the right time, gitu kali istilahnya.

Mungkin kita bisa berandai-andai. Si pemilik toko saat itu tidak mendapatkan keuntungan apa-apa akibat kebaikannya, karena mungkin saat itu dia sedang menikmati keberhasilan akan jerih payahnya sendiri. Dan jika rejeki pahala akibat kebaikannya diberikan saat itu juga, mungkin dia tidak akan menganggap besar arti rejeki itu.

Namun jika rejeki tersebut diberikan pada saat yang tepat dan dibutuhkan, tentunya dia menganggap rejeki itu sesuatu yang besar dan sangat berarti. Dan jika hal itu diiringi dengan sebentuk syukur, maka sebuah kebaikan lainnya akan terjadi. Kebaikan berbuah kebaikan.

Jadi percayalah, kebaikan tidaklah sia-sia. Dan janganlah mengharapkan datangnya pahala, karena Tuhan tahu yang terbaik bagi makhluknya. Lakukanlah kebaikan dengan ikhlas. Karena kebaikan akan mendatangkan kebaikan.

Cag, 6 Juni 2009, 9.15pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s