Yuk baca koran dan Qur’an

Pernahkah merasakan sehari tanpa koran? Mungkin pernah dan sering. Berhubung ada televisi dan internet, fungsi koran sebagai pembawa berita sudah sedikit demi sedikit tergerus dan tergantikan. Koran sudah tidak terlalu ditunggu lagi.

Fenomena seperti ini juga terjadi si mana-mana. Bahkan di Amerika Serikat saja, beberapa penerbitan besar sudah gulung tikar, tidak kuat mempertahankan oplahnya. Alhamdulillah di Indonesia, koran masih dilirik. Bahkan bagi pengguna kereta, koran adalah makanan sehari-hari.

Bagi saya koran memberikan suatu nuansa berbeda dibanding televisi dan internet. Nuansa lebih pribadi dan ada ikatan antara rasa ingin tahu dan menambah ilmu, berita dan pengetahuan dengan tekstur kertas koran, style tulisan, iklan dan penjual koran. Rasanya bagi saya ada yang terlewatkan jika sehari tidak baca koran. Apalagi sekarang koran menjadi sumber informasi utama bagi saya setelah saya kecewa dengan tayangan televisi yang penuh dengan kekerasan, kemewahan dan hujatan.

Hari itu saya kembali berkubang dengan rasa malu. Sepele titik awalnya. Hanya dengan sebuah kultum – kuliah tujuh menit, di mesjid Al Kautsar hari itu 1 Juni, telah membuat wajah saya memerah. Sudah sejauh manakah saya membaca dan ‘membaca’ Al-Qur’an? Sudahkah kita membaca Al-Qur’an dengan frekuensi yang sama dengan membaca koran?

Hampir tiap hari kita menyempatkan diri membaca koran, dalam segala kesempatan. Selagi santai menunggu jam kerja, sehabis sarapan, menunggu bis atau bahkan di dalam kereta kita menyempatkan diri membaca koran, dengan berbagai jenisnya. Koran politik, koran bola, koran olahraga, koran gossip, koran berkebun dan lain-lain.

Lalu kapan kita bisa melakukan hal sama dengan Al Qur’an, maksudnya membaca Al Qur’an di setiap kesempatan? Tidak munafik, saya pun masih harus terus belajar untuk itu. Padahal kalau membaca sebuah buku sambil berdiri di dalam gerbong kereta masih sempat, kenapa baca Al Qur’an malas-malasan. Itulah mungkin yang disebut dengan ujian dalam keimanan.

Al Qur’an adalah petunjuk bagi kehidupan dan pegangan muslim. Al Qur’an memang diturunkan dalm bahasa Arab. Namun Allah berbaik hati dengan makhluknya. Bahkan hanya dengan membaca saja, kita sudah mendapatkan kebaikan dan pahala. Apalagi dengan ‘membaca’ dan memahaminya.

Rasanya terlalu naif jika ada yang menggunakan alasan tidak bisa membaca Al Qur’an. So what? Hari gini gak berpikir cerdik, so what gitu loh.

Beribu alasan tidak bisa baca Al Qur’an adalah bukti kemalasan seorang manusia. Because what? Begitu banyak kemudahan yang diberikan oleh kemodernan dan pengetahuan manusia. Berbagai metode belajar membaca Qur’an telah tersedia, ada yang sistem kilat atau normal, persis seperti dahulu kita kirim pos, ada yang biasa, kilat ataupun kilat khusus. Apalagi jiga ditambah dengan kursus pribadi, menggunakan fasilitas video. Apalagi?

Jika kesulitan itu karena tekad dan menggunakan alasan bahwa tetap tidak bisa baca, kemudian ingatlah bahwa Rasulullah pun sewaktu turunnya wahyu pertama ‘Bacalah!’, beliau dalam kondisi tidak bisa membaca.

Okelah jika tetap keukeuh tidak bisa membaca Al Qur’an dengan segala alasan. Lakukanlah dengan ‘membaca’ dan memahaminya.

Itulah yang kemudian juga dirasakan sulit. ‘Membaca’ dan memahaminya. Hhhhmmm, manusia memang tidak mau bersusah payah. TERLALU (dengan logat Opa Irama, Republik Mimpi).

Alhamdulillah, begitu banyak terjemahan Al Qur’an di toko buku sekarang ini dan insya Allah kita bisa temukan di rak-rak buku yang mengaku muslim. Terjemahan tersebut banyak membantu kita untuk ‘membaca’ Al Qur’an. Tapi, dijamahkah buku terjemahan tersebut? Alhamdulillah jika itu yang terjadi, karena kebanyakannya malah hanya disentuh pada satu dua kesempatan. Disentuh pada saat ijab kabul sebagai mas kawin, atau sebagai cendera mata seperti pada saat pelepasan sarjana di Mesjid Salman.

Saya memahami hal itu, karena saya pun mengalami, bahwa bahasa yang dipakai dalam terjemahan Al Qur’an standar cenderung kaku, dan mudah membuat bosan dan capek, tanpa ada yang menempel di benak. Kesan yang didapat adalah seperti buku KUHP.

Namun, kenapa mesti berhenti di sini. Coba lebarkan pandangan ke sekeliling toko buku, dan telitilah di antara semua terjemahan tersebut, rasanya akan ada sebuah terjemahan yang lebih enak dibaca. Satu yang saya dapatkan adalah terjemahan dalam bahasa daerah. Coba deh beli dan baca, mungkin itu bisa menjadi daya tarik dari sebuah terjemahan, seperti yang saya alami.

Saya mendaptkan sebuah terjemahan Al Qur’an berbahasa Sunda karangan O Hashem. Sekali membacanya saya jadi tersentuh, karena terjemahan dengan bahasa sendiri seperti mendengarkan orang tua sendiri yang berpetuah. Apalagi bagi mereka yang sudah jarang mendengar bahasa daerahnya sendiri, dan membacanya pada saat sunyi di malam hari. Hati akan tergetar. Coba deh cari terjemahan bahasa lain dan rasakan bedanya (cie… kayak iklan saja).

Jika hal itu tidak menarik, mengapa tidak kita alihkan perhatian dari sebuah terjemahan
kepada sebuah tafsiran. Tafsir Al Qur’an cenderung lebih mudah difahami dibandingkan dengan terjemahan, sehingga lebih menarik untuk dibaca dan dimengerti. Banyak sekali buku-buku tafsir di toko buku, mulai dari yang berseri untuk konsumsi pesantren maupun tafsir kontemporer dengan bahasa sekarang. Tinggal dipilih-dipilih.

Yang mungkin belum atau jarang dimengerti adalah bahwa sesungguhnya membaca dan memahami Al Qur’an tidak harus melulu dibawakan secara formal, dalam bentuk terjemahan atau tafsiran. Namun kita bisa membaca per segmen dalam bentuk buku umum membahas satu topik.

Buku seperti La Tahzan-nya Aidh Al Qarni, atau Tazkiyatun Nafs-nya Said Hawwa atau Halal-haram-nya Yusuf Qardhawi bahkan Ihya Ulumuddin-nya Ghazali adalah buku yang enak dibaca dan pada dasarnya mengupas dan menafsirkan Al Qur’an (dan atau hadits). Bahkan buku agama karangan ulama dalam negeri poun sejatinya bisa dijadikan sarana untuk ‘membaca’ dan memahami Al Qur’an. Buku-buku seperti inilah yang wajarnya bisa dibawa ke mana mana dan dibaca pada saat kapan saja, persis seperti kita membaca koran.

Jadi kenapa kita tidak mulai membawa buku bacaan seperti itu ke mana-mana, sehingga kita bisa membaca dan memahami buku petunjuk Muslim – Al Qur’an, sambil mengisi waktu luang. Jika itupun tidak menarik, artinya belum tertanam minat baca di diri. Kembali istilah Opa Irama terngiang: TERLALU.

Lalu, sudah begitu sajakah?

Well. Only a stupid person who stop at this point atau orang yang sudah tidak mau dan tidak peduli dengan masa depan.

Banyak jalan ke Roma, apalagi jalan ke kebaikan. Teknologi telah begitu tinggi, jadi kenapa tidak memanfaatkannya.

Tidak bisa membaca Al Qur’an?
Bagaimana kalau cukup sekedar mendengarkan saja. Download free mp3 pengajian dsari internet, dan masukan ke iPod atau iPhone dan sejenisnya, dan dengarkan senandung untaian hikmah ilahi ke manapu kita pergi.

Malas bawa buku?
Kenapa tidak bawa ebook atau pdf file artikel agama yang berseliweran di dunia maya, dan simpan juga di dalam telepon genggam dan baca dimana senggang.

Malas buka Al Qur’an untuk mencari ayat yang dibutuhkan?
Kenapa tidak menggunakan spreadsheet Al Qur’an yang telah dibikin oleh seseorang yang begitu rajin, sehingga kita tinggal search saja dan cek dari Al Qur’an jika sudah ketemu. Saya mempunyai copy-nya jika ada yang menginginkan.

Malas membaca?
Ubahlah dengan menulis, kupaslah kehidupan. Karena dengan menulis akan menggugah gairah untuk membaca.

Jika malas melakukan semua kebaikan tersebut?
Periksa diri anda dan tujuan hidupnya.

Cag, 11 juni 2009, 4.30pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s