Insya Allah

“Ini panggilan layar terakhir dan saya akan ketemu Anda Juli”, kata Michael Jackson bulan Maret lalu di depan para penggemar…. (Kompas, 27 Juni). Dan kemarin, 26 Juni, ucapan dia sama sekali tidak terbukti, karena dia sama sekali tidak akan pernah bertemu lagi dengan penggemarnya, seperti yang dia ucapkan.

Itulah ajal, tidak seorangpun yang tahu – sejenius apapun orang itu. Hanya Allah lah yang tahu, karena Dia adalah khalik (pencipta) dan yang lainnya adalah makhluk (yang diciptakan).

Farah Fawsett meninggal setelah tiga tahun berjuang melawan kanker, sementara seorang Leni Darlina, kakakku tersayang, meninggal hanya tiga bulan setelah divonis dengan penyakit yang kanker.

Kita tidak tahu apakah menit, jam, hari, minggu, bulan atau tahun selanjutnya kita masih hidup. Apapun yang kita lakukan, badan sehat, pikiran segar, sarana peralatan lengkap, jiwa pun semangat, namun satu lagi yang harus kita persiapkan, yaitu kita harus ikhlas dan pasrah akan ketentuanNya, karena siapa tahu kecelakaan menimpa kita karena faktor luar yang tidak siap.

Di sinilah makna pentingnya kata Insya Allah – jika Allah menghendaki. Jika Allah menghendaki, apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan jika Allah menghendaki, apa yang sempurna di mata manusia sehingga berpikir mustahil sesuatu yang jelek terjadi, namun di mata Allah yang sempurna itu tidaklah ada artinya. Jika Allah menghendaki berarti Allah memberikan yang terbaik bagi kita, karena Dia lah yang paling mengetahui yang terbaik bagi makhluknya, bahkan jika itu ditafsirkan makhluknya sebagai sesuatu yang buruk. Suatu kesuksesan yang terjadi karena Allah menghendaki dan itu yang terbaik bagi manusia, dan suatu kegagalan yang terjadipun karena Allah menghendaki karena itu yang terbaik menurut Allah yang memiliki diri kita.

Yok kita biasakan berhati-hati dalam berucap kata, dan mulai melandaskan suatu keinginan dengan Insya Allah. Mengucap Insya Allah di kala membuat janji dan mengucap Insya Allah di kala berkata-kata yang membutuhkan sebuah pemenuhan. Tidak perlu melulu dengan kata Insya Allah, yang nota bene diucapkan dan disarankan diucapkan orang Islam, ucapkanlah dalam bahasamu sesuai keprcayaanmu ‘Jika Tuhan menghendaki’ atau sejenisnya.

Namun lakukan pembiasaan diri mengucap Insya Allah seperti ini secara sadar diri dan konsisten. Pada saat-saat ini, sering kita mendengar pertanyaan lanjutan terhadap seseorang yang mengucap Insya Allah: “jangan Insya Allah, tapi pasti kamu datang kan? Blang pasti ya”. Atau “ah, insya Allah mulu, kapan penuhi janjinya”.

Mari kita kembalikan makna Insya Allah kepada makna sebenarnya. Namun jangan membuat suatu keburukan lain dengan mencatut nama Allah. Jika kemungkinan terbesar adalah tidak bisa memenuhi suatu permintaan, jangan memberanikan diri memberi janji, terus terang saja menolaknya dengan bijak “wah, maaf banget, saya gak bisa datang nih”, atau “bos, gak mungki kekejar targetnya meski lembur 24 jam pun”. Mari kita biasakan mengucap Insya Allah hanya jika kita sebagai manusia mempunyai keyakinan besar bisa memenuhinya.

Cag, 27 Juni 2009, 09.30am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s