Love you Mam, Love you Honey!!!

Hari Selasa, jam delapan pagi: “Pengen asinan Bogor. Sekarang!”
Besoknya, lewat sms, jam dua siang: “Kalo ada permen jahe, beli ya Yah.”

Mungkin bagi yang sudah beristri dan beranak – maksudnya punya anak he… he…., pernah mengalami dan melayani keinginan istri yang sedang hamil. Permintaan yang kadang aneh. Permintaan seperti: “Pengen kepala kakap Padang. Sekarang!” kok seperti permintaan orang yang kesurupan: ‘menta surutu!!!’, permintaan yang harus langsung diturutin.

Lepaskanlah semua ego seorang Mars dulu. Kita mencoba memahami sebuah Venus. Tempatkan diri kita sebagai seorang suami yang baik – syukur-syukur kalau sudah, pura-pura saja jika belum. Sempatkan pikiran menerawang ke masa istri kita mengandung anak kita, darah daging kita. Kalau tidak sempat mengalaminya, pura-pura saja.

Siapa yang mau diberi rasa mual tiap hari, berturut-turut selama bulan-bulan pertama kehamilan, bahkan ada yang mencapai tiga bulan. Rasakan bagaimana mualnya naek Kora-kora di Dufan, sekali naek saja tidak mau diulangi kedua kali. Rasakan juga bagaimana mualnya naek fery Merak-Bakauheni, yang membuat pucat. Dan coba rasakan semua jenis mual dicoba tiap hari. Itu mungkin tidak seberapa dengan yang dirasakan istriku sekarang.

Tegakah kita yang biasanya hampir tiap minggu makan di luar – mengikuti wisata kuliner, sekarang jangankan makan di luar, pergi ke gerbang depan naik mobil saja sudah muntah? Tegakah kita makan nikmat di depannya, sementara dia tidak bisa makan enak. Dua-tiga suap sudah muntah, dan kalaupun tidak langsung muntah, setelah setengah hari berlalu, muntah besar. Tegakah kita mendengar seorang istri bertanya dengan memelas: ‘Yah, lapar’, sementara di meja makan semua makanan yang dulu disukainya tidak ada yang disentuh.

Aku mengelus dada waktu melihat dia kesulitan tidur, sementara kita sepulang kantor langsung tertidur kecapekan. Tidur yang begitu nyenyak dulu dia rasakan, serasa menjauh, dan sebuah perjuangan berat dilakukan hanya untuk tidur.

Adilkah kita yang telah menikmati indahnya malam berdua-bersama, tapi tidak merasakan sengsaranya bersama: ‘Coba deh Ayah alami mualnya sebentaaar saja, biar adil’. Memang kita masih bisa beralasan kalau kita mencari nafkah sebagai bentuk pengorbanan. Tapi fairkah jika kita diijinkan untuk maen tenis sampai malam, sementara di rumah istri yang kesulitan tidur sedang menanti elusan suami yanh setidaknya bisa mempercepat tidur.

Cobalah pahami itu. Pakailah semuanya: otak, rasa, jiwa. Singkirkan dulu kebencian karena dia tidak secantik yang kita mau, atau dia menjengkelkan atau cerewwt dan lain-lainnya. Perhatikan satu hal ini saja. Tidak terlalu jauh dulu. Lihatlah awal-awal masa kehamilannya. Kehamilan darah dagingmu. Meskipun ditakdirkan sebagai seorang Mars yang berlogika, seharusnya kita tambah sayang terhadap istri kita. Begitu menderitanya dia. Istriku, I love you sayang. Mari, kita – para suami – ucapkan hal itu sekali lagi kepada istri kita. Ucapan dan ungkapan tulus atas pengorbanannya. I will always love you more, honey. Namun jika hal di atas tidak menggetarkan jiwanya, hal yang pantas jika kita berkata ‘TERLALU’.

Itulah pengorbanan istrimu. Apatah lagi pengorbanan ibumu – yang diakumulasikan dari sejak mengandung sampai akil balig. Pantas dan sangat pantas jika Rasulullah berkata yang patut dihormati adalah ibumu …. ibumu … ibumu…. Dan jika hal ini tidak menggugah hatimu untuk hormat dan berbakti kepada ibumu, itu ‘SUNGGUH TERLALU’.

Mam, I love you so much. I really miss you.

Cag, 30 Juni 2009, 11:30 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s