Analis politik

Pemilihan atau pencontrengan telah selesai kemarin. Hasil hitung cepat sudah diumumkan sore harinya. Yang sementara menang berusaha santun, demikian juga yang sementara kalah berusaha lapang dada. Komplain mulai diinventarisasi, mulai dari yang paling remeh temeh – namun porsinya besar – sampai paling besar – namun porsinya remeh temeh.

Saat inilah televisi dan politisi panen, dengan tajuk pembahasan atau analisa hasil Pemilu. Pembawa acara – yang merasa pinter berdebat sampai yang tidak bisa membedakan mana pidato biasa dan pidato kemenangan juga ikutan panen. Adapun beberapa kalangan menjelma menjadi analis politik, dengan mengatasnamakan sebuah organisasi yang baru terdengar.

Saya menyimak juga sebuah pembacaraan antara beberapa analis:

SBY pantas menang, karena dia disokong partai-partai besar, semacam PKS, PKB atau PAN. Padahal partai-partai tersebut setidaknya bisa mengajukan calonnya sendiri.

Agak bingung jika JK suaranya jeblok. Sepertinya suara partai Golkar terpecah. Harus diadakan munas itu. Coba kalo mengusung Sri Sultan, suaranya pasti cukup signifikan, meski mungkin tidak bisa atau belum bisa menyaingi SBY.

Mega memang sudah diduga, karena berat di Prabowo. Mungkin juga faktor pembawaan yang agak emosional memberi peranan yang tidak sedikit.

Kalimat-kalimat di atas mungkin akan mirip dengan analisa seorang politikus. Tapi itulah percakapan yang saya dengar antara seorang penjual mi baso – yang tadi saya santap – dengan penjual somay dan temannya di dekat stasiun kereta Palmerah.

Sebuah kesimpulan bermata dua muncul di benak saya. Pertama: ternyata rakyat jelata – masyarakat biasa ternyata sudah melek politik, sehingga bisa melakukan sebuah analisa politik sambil lalu. Dan kedua: ternyata analisa politiknya seorang pakar yang sering didengar di televisi tidak memberikan pandangan berbeda dengan pikiran masyarakat umum. Jadi di mana kepakarannya?

Saya masih memikirkan hal itu. Apa benar kesimpulan sederhana seperti itu. Semakin dipikirkan semakin merasa bodoh saya, atau merasa bodoh karena dibodohi.

Cag, 9 July 2009, 07:15pm

What you say is what you are.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s