Speak up

Sifat atau sikap, kepribadian atau attitude seseorang acapkali bisa menjadi penghambat karier dan kehidupan. Attitude akan susah diubah apalagi jika sifat itu membuat nyaman berada di comfort zonenya. Karena susah sekali untuk keluar menerobos kekakuan dan stagnasi karena keterlenaan di comfort zone, umumnya berujung pada pasrah tanpa darah. Rela tanpa usaha. Kalah sebelum bertanding. “Kumeok memeh dipacok”. 

Beranikah kita mengaktualisasikan diri dan membela diri sendiri demi kemajuan pribadi? Masihkan kita melandaskan nasib kita kepada tindakan orang lain, sementara kita berdiam diri, nikmati kenyamanan yang tidak mau didobrak, meski hasilnya adalah stagnasi. Jika itu yang terjadi, NIKMATILAH dan jangan mengeluh.

Suatu kenyataan perih jika saya tahu bahwa saya sudah bekerja sepuluh tahun, namun tetap ditaruh di posisi Junior. Atau seberapa pedih hati saya memahami bahwa saya mampu melakukan kerjaan seorang analis sementara saya hanya mendapatkan kerjaan operator.

Perih dan pedih tidak akan berubah selama saya menikmatinya. Duka dan kecewa tidak akan berganti jika saya menikmati dikasihani.
It’s time for you to SPEAK UP. Bicaralah.

Proteslah terhadap supervisor jika posisi yang kamu dapat tidak sesuai dengan kualifikasi kamu. Tunjukan taringmu bahwa kamu tahu bahwa posisi yang ada tidak tepat buatmu. Hargai dirimu bahwa dirimu tidaklah rendah seperti yang mereka duga. Perlihatkan kemampuan lebih kamu sebagai bukti bahwa kamu kapabel dan mempunyai kapasitas mumpuni. Speak up. Jika tidak bicara, ada kalanya itu pertanda kamu menyetujui bahwa posisi itulah ternyata yang cocok buatmu. Tapi jangan bicara jika kamu hanya pintar bicara. Don’t speak up jika bicaramu tanpa dibuktikan dengan langkah nyata. Jika itu yang terjadi, kamu menghancurkan dirimu. Itulah yang disebut Jujur dan Berani.

Aktualisasi diri sangatlah penting untuk membuktikan bahwa kamu qualified. Buatlah komunikasi. Kemukakan gagasan. Tebarkanlah ide. Berilah solusi. Perlihatkanlah jika kamu menggunakan kepala – otak dan isinya – berpikirlah dan berpendapatlah. Seseorang tanpa pendapat dan pikiran tidak ubahnya seperti kerbau dicocok hidung. Manusia adalah manusia, bukan kerbau.

Anggaplah pendapat sebagai sebuah ijtihad, benar berpoin dua, salah masih punya poin satu. Karena sejatinya tidak ada pendapat yang salah, melainkan tidak tepat. Janganlah takut berpendapat. Jangan pedulikan orang yang marah jika kita berpendapat, itu pertanda dia tidak mengerti. Berpendapat malah akan memperkaya keputusan. Tentunya akan berbeda pula menyikapinya jika kemarahan timbul akibat cara penyampaian yang tidak tepat. Itu kasus yang berbeda.

Janganlah sungkan dan malu atau takut untuk berpendapat. Kenapa harus malu? Kenapa harus takut? Takutlah dan malulah jika kita membuat sesuatu kejahatan. Jangan mengumbar rasa takut dan malu sebelum sesuatu aktivitas dilakukan. Jangan jadikan takut dan malu sebagai alasan dan tameng untuk ketidakmauan mengubah diri dan mendobrak comfort zone.

Ayo kawan. Tunjukkan pada duniamu inilah dirimu. Saat yang tepat untuk mengaktualisasikan idiom: ‘Ini dadaku’.

Cag, 11 Juli 2009, 06:00am

Bahkan Allah pun tidak akan mengubah nasibmu hingga kamu berusaha mengubah nasibmu sendiri (QS 8.53)

One thought on “Speak up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s