2

Apa yang ada di benak anda jika melihat angka 2? SBY-Budiono kan, yang menang Pemilu berdasarkan Quick Count karena bernomor dua yang sering dibaca sebagi Victory (kemenangan) jika dua jari diacungkan. Itu pasti yang ada di benak kita sekarang.

Namun yang saya maksud adalah angka dua, sebagai angka, tanpa penafsiran lain. Angka dua adalah angka kecil, yang terlalu tanggung untuk dinanti tapi cepat dihindari. Tanggung, karena mana ada seorang anak bercita-cita menjadi juara dua. Atau bahkan mana ada sebuah iklan kecap nomor dua. Semua ingin menjadi nomor satu, karena nomor dua adalah nomor kecil tidak sempurna. Angka satulah angka kecil sempurna.

Namun angka dua pasti ingin dihindari jika berhubungan dengan nilai sebuah pelajaran. Dewasa ini anak-anak sudah terlalu pintar sehingga jarang kita mendapatkan seorang anak dengan nilai ulangan 2 dari 10 (atau sebaliknya, pelajarannya terlalu ringan). Padahal dahulu di jaman papah mamahnya, di kala tidak ada bimbel dan les serta betul-betul berdasarkan kepandaian dan kerajinan anak, nilai kecil seperti itu jamak terjadi pada anak yang malas dan nakal (tapi karena supel Alhamdulillah umumnya berhasil di kehidupan).

Memang angka dua adalah angka yang sangat kecil. Demikian juga dengan suhu dua derajat, adalah kecil. Namun angka kecil itu dibuat Allah menjadi besar efeknya sehingga kita mau tak mau harus bertakbir akan keagungannya.

Suhu tubuh normal manusia adalah di sekitar 35 atau 36 derajat Celcius. Pada suhu normal ini, kondisi badan terasa enak. Bekerja normal, ada tenaga di saat dibutuhkan, ada lelah jika terlalu dipaksa. Makan terasa enak dan nikmat, porsi sedikit menjadi lapar porsi besar kekenyangan. Minum rasanya segar, air bening tidak berasa, air teh tercium aromanya. Udara luar masih bisa dinikmati, gerah berpeluh keringat, bau tapi membuat segar. Panas masih dinikmati dan dihalau dengan usaha sedikit mengipas-ngipasin badan, sementara udara dingin malam berAC bisa dinikmati dengan selimut.

Namun dua derajat saja suhu tubuh Allah naikkan, semuanya berubah. Jangankan dua derajat, 1.5 derajat saja suhu badan meninggi, kegelisahan, keluh kesah mulai muncul. Apalagi yang dialami seorang rekan dengan suhu mendekati 40. Timbullah apa yang disebut badan panas, atau populer disebut deman, fever dalam bahasa Inggris, tapi saya suka menyebutnya dengan meriang.

Badan panas membuat segala hal yang enak-enak menghilang. Gak pakai baju hangat badan berasa dingin, pakai jacket terasa gerah dan dingin campur aduk. Duduk di ruangan berAC kedinginan campur panas, diam di ruang biasa gerah campur menggigil. Ditidurin kepala terasa berat pusing, dibikin beraktivitas memang bawaannya lemas, ngantuk dan pengen tidur. Dibawa kerja, otak mana jalan.

Suhu badan naek, ternyata berpengaruh langsung kepada mulut dan perut. Air liur dan lidah menjadi kebingungan menerjemahkan rasa. Serasa tersengat hawa panas tubuh menyebabkan hilangnya memori, lidah hanya mengenal satu jenis rasa tambahan: pahit. Gule kakap ikan dan rendang: rasa gurih dan pahit. Sayur lodeh dengan tahu tempe: rasa segar dan pahit. Gepuk sapi dengan sayur pare pun memiliki rasa tambahab sama: pahit. Pepaya matang dan salak mentah berasa sama pahit nya. Mangga mentah : pahit? Ah, bohong kalau terasa pahit, setidaknya rasa asam menyengat masih kentara.

Bagaimana dengan minuman? Ya Allah, ternyata minuman yang tidak punya rasa, air bening dan tawar, sekarang jadi memiliki rasa entah apa, antara pahit, manis, asem campur aduk. Hilang rasa tawarnya. Hilang tawar dan timbul ‘rasa’ artinya hilang eksistensi air sebagai penawar dahaga. Saat ini baru kita sadari, tawar sebagai bentuk tidak adanya rasa atau rasa=nol, ternyata begitu berarti. Seperti halnya terdampar di lautan luas dengan air dimana-mana, kita tetap menanti rasa nol, air tawar. Masya Allah.

Itu semua baru dari segi rasa. Bagaimana juga dengan selera? Wah, naeknya suhu ternyata menguapkan selera juga. Seperti halnya istri yang mengidam, keinginan makan begitu besar, tapi sesuap makanan masuk mulutpun sudah beruntung. Di sinilah kita akan kelaparan di depan meja penuh makanan (karenanya sering-seringlah bersedekah). Keinginan sembuh dengan banyak makan bertolak belakang dengan perasaan mual tidak keruan. Dorongan makanan dan minuman dari luar dilawan oleh dorongan muntah dari dalam. Makan tidak masuk, muntah tidak bisa, akhirnya jalan lain terjadi diare. Lengkaplah sudah, dengan diare ambruklah badan lebih jauh.

Ya Allah, sungguh agung namaMu, sehingga sebuah angka dua derajat yang begitu kecil tak berarti, memberikan pengaruh yang sudah cukup membuat menderita. Apakah mungkin seperti ini yang akan atau sedang terjadi dengan duniaku – bumi – earth ketika suhu badannya pun meningkat dua reajat celcius? Akankah bumi menjadi ‘meriang’, dan kita manusia sebagai penghuni tubuhnya akan kehilangan rasa dan selera, rasa dan selera kemanusiaan? Apakah itu yang terjadi ketika suhu bumi sudah meningkat dua derajat, bahkan manusiapun sudah tidak bisa berpikir lagi tentang penurun panas suhu bumi? Tapi kenapa manusia masih berselera untuk menyantap hutan-hutan di jantung bumi dengan lahapnya? Mungkin itulah kenapa begitu banyak wahyuMu agar manusia tidak melakukan kerusakan di muka bumi.

Ya Allah, siramilah kami dengan rejeki kesadaran bahwa kami adalah bagian dari sebagian umat yang mengetahui dan berakal, sehingga kami bisa menjaga bumi ini untuk anak cucu keturunan kami. Yah, setidaknya dari dalam lingkungan terkecil dulu – rumah tangga. Sehingga, setidaknya kami bisa memulai apa yang orang-orang besar omongkan di sana – menurunkan suhu bumi sebesar dua derajat celcius. Bismillah.

Cag, 12 Juli 2009, 12:30am

Janganlah terlalu berpolemik apakah memang begitu besar efek dari global warming atau global warming hanya sebagai ‘gombal maning’. Lakukanlah sesuatu sebisa kita agar bumi tidak ‘meriang’. Sedikit yang kita lakukan akan berarti banyak untuk bumi kita, termasuk mengurangi suhu bumi dua derajat seperti yang dicanangkan oleh negara G8 di L’Aquilla Italia kemarin (Kompas, 11 Juli 2008).

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. QS 7.56

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui. QS 7.182

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? QS 55.13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s