kulit bakar bom

‘Haram jadah siah maehan nu teu tuah teu dosa. Teu eucreug pagawean teh. Nanahoanan. Belegug kacida. Hayang paeh mah paeh we sorangan, ulah mamawa batur’ Begitu mungkin umpatan emosi berbahasa Sunda yang tepat menyikapi ledakan bom di dua hotel hari ini.

Beberapa insan melepas nyawa – termasuk satu orang yang kutahu dan satu orang yang kukenal. TERLALU. Berpuluh raga meregang derita. TERLALU. Dan Budi pun tidak jadi bermain bola. Aaaargh, SUNGGUH TERLALU.

Jika ini bermotif bisnis: BIADAB. Jika ini bermotif politis: BIADAB. Jika ini bermotif teror: SUNGGUH BIADAB. Jiak ini bermotif agama: JANGAN KAITKAN TERORIS DENGAN AGAMA. Apapun motifnya, jangan telusuri jejak agama pelakunya, karena apapun agamanya, sejatinya agama telah dibajak. Karenanya pelakunya adalah orang yang tak beragama sebab orang yang biadab adalah orang yang tidak beragama.

Bagi jiwa yang terbang ke alam sana: Rest in Peace or Innalillahi wa inna Ilaihi rajiun. Bagi yang kehilangan Budi yang tidak bisa bermain bola: Peace men. Dan bagi raga yang menderita luka: hanya teriring doa “Ya Ilahi, andai aku bisa meminta, berilah ketegaran, kesabaran dan kesembuhan buat mereka. Namun Kau yang Maha Kuasa dan Maha Tahu, kuserahkan yang terbaik menurutMU dan atas rahmatMu bagi mereka”.

Terbayang penderitaan korban yang cedera terutama akibat luka bakar. Masya Allah. Saya bersimpati dan sedikit memahami apa yang diderita, karena saya pernah mengalami kejadian yang mirip dengan skala yang jauuuuh lebih kecil, minggu lalu. Hanya sekejap saja kulit betisku terkena panas knalpot motor orang, sudah cukup membuatku berserah diri. Ya, sekejap saja, kurang dari satu detik, karena dengan refleks saya langsung hindari sumber panas. Dan itu hanya akibat panasnya tembaga, bukan terpapar jilatan atau bara api beratus derajat dengan hitungan beberapa detik.

Sakitnya kulit akibat panasnya knalpot berbeda dengan sakit luka tergores. Perasaan meradang, menyebar ke semua permukaan kulit yang lain. Sentuhan sedikit pada daerah luka, sudah cukup untuk membuat kita berteriak kecil.

Beberapa saat kemudian kulit menggelembung, dan luka akan terisi air berkuman – nanah, yang harus ditunggu beberapa hari untuk sekedar kempes. Setelah pecah, mulailah tubuh menganyam kulit baru sebagai pengganti. Saat itulah terasa kuasa Allah, karena kulit original didesain amat agung, mempunyai fleksibilitas atau kelenturan tiada tara. Sementara kulit penutup baru menjadikan permukaan flat – kencang dengan fleksibilitas yang kecil, sehingga akan terasa sakit jika mendapat sedikit tarikan akibat gerakan tubuh normal sekalipun.

Proses penyembuhan kulit yang terkena luka bakar memakan waktu lama dan menyakitkan. Dalam seminggu setelah terkena panas knalpot, saya masih suka merasa kesakitan jika harus menekuk kaki sewaktu sujud, dan lebih menyakitkan pada saat duduk tahiyat. Bahkan luka ana terasa perih jika terkena sentuhan celana panjang.

Dan perjuangan sembuhpun, akan berujung kesembuhan dengan suatu cacat di tubuh, karena bekas luka bakar akan tampak terus di tubuh.

Saya berempati dengan korban yang selamat tapi mengalami luka bakar. Mereka sekarang dalam penderitaan, dengan kadar derita yang jauh lebih besar daripada derita terpapar panas knalpot. Sekedar untuk melepas pakaian dari tubuh yang terbakar saja merupakan siksaan tambahan. Belum cacat permanen seperti jari tangan sudah tidak bisa menekuk lagi, atau leher yang sudah tidak bisa menengok sempurna, atau wajah yang tidak akan pernah mulus lagi. Dan yang menyedihkan adalah berkurangnya fungsi sensivitas rasa bagian kulit yang cacat. Satu yang saya ingin Allah limpahkan secara lebih untuk mereka adalah ketegaran disertai kesabaran.

Ya Allah, dalam kondisi seperti ini, saya memohon lindunganMu dari kejahatan manusia. Iringi permohonan lindunganMu dengan permohongan kesadaran bersyukur atas nikmatMu yang sering kami lupakan, termasuk nikmat memiliki kulit dengan fungsi sempurna.

Cag, 18 Juli 2009, 09:30am

Camkan ini sekali lagi, jangan sangkutpautkan ledakan bom dengan agama. Karena semua agama tidak pernah mengajarkan kekerasan. Yang berpikiran peristiwa ini karena doktrin agama harus berkaca dan memahami agama tersebut terlebih dahulu.

Sebagai orang yang berpikir simpel, saya tadinya mau langsung oleskan odol atau mentega ke luka bakar saya sebelum dicegah anakku – yang bangga jadi PMR. Memangnya gigi pakai odol segala. Atau roti, kok dikasih mentega. Mengenai luka bakar, silakan akses lukabakar.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s