naek angkot

Jika anda temanku seusia dengan saya, 39 tahun, coba lemparkan diri ke 30 tahun silam. Saat itu umumnya kita pergi bersekolah dengan berjalan kaki bersama sekawan sobat karib. Jarang sekali dijumpai orang tua yang mengantar jemput anaknya dengan mobil, paling banter antar jemput memakai becak. Anak yang cukup berada biasanya bangga bersekolah dengan sepedanya, apalagi sepeda BMX. Sedangkan anak yang lain cukup berani bersekolah naik angkot.

Sekarang mari kita tengok anak kita sendiri. Seumur-umur anakku hidup, dari lahir sampai sekarang di level SMP, tidak lepas dari mobil pribadi. Seiring dengan kemajuan jaman, mobil saat ini sudah bukan lagi kendaraan mewah kan. Mulai lahir, diimunisasi ke dokter sudah pakai mobil sendiri – si Kukut, Charade tahun 80an kecil tapi bandel. Usia TK antar jemput dari sekolah dengan mobil. Demikian juga sebagian besar usia SD diantar jemput mobil sekolahan, meski pada tahun terakhir – kelas enam, yang jadi supir antar jemput adalah ibunya sendiri, berhubung banyak jadwal pelajaran tambahan. Saya yakin, hal seperti ini dialami kebanyakan rekan-rekan lainnya terutama yang tinggal di kota seperti Jakarta atau Bandung.

Saya mendapati suatu pengalaman menarik sewaktu anak saya berusia TK atau SD tingkat awal. Berbeda dengan anak saya, saya termasuk orang yang menikmati kebersahajaan, termasuk terbiasa naik angkot. Suatu hari saya ajak anakku belanja di Griya Buah Batu naik angkot. Di luar dugaan, dia begitu antusias setelah ditawari naik angkot, padahal saya mengharapkan adanya penolakan, seperti yang akan dilakukan seorang anak yang terbiasa naik mobil pribadi. Sepanjang perjalanan tidak berhenti kepalanya hilir mudik melihat sekeliling. Pertanyaan juga mengalir deras khas anak kecil, yang kadang membuat penumpang lain tersenyum. Dan seperti melihat dunia baru, tidak henti-hentinya dia bertanya segala hal sepanjang perjalanan, tentang itu dan tentang ini.

Dan yang paling membuat dia bahagia ketika itu adalah jika dia duduk di kursi paling dekat dengan pintu, yang cenderung lebih berbahaya. Ada sinar kepuasan di wajahnya, sepertinya berkata: ‘Nih Yah, anak ayah sudah gede, sudah berani duduk di pinggir”. Sebagai orang tua tentunya saya perhatikan keamanannya, namun tidak ingin hal itu terlalu mengungkung dia. Pernah suatu kali saya sengaja duduk paling pinggir dan dia duduk di sebelahku agar dia tidak jatuh, eh malah dia pindah ke tempat duduk kecil yang biasanya dipakai buat abang kondektur. Dia dia hanya tertawa puas.

Hal lain yang membikin dia puas adalah jika dia duduk dimana jendela angkotnya yang dibuka lebar, yang kembali seperti sebuah pembuktian kalo dia kuat dan berani. Padahal sebagai ayahnya saya kuatir kalau dia mengeluarkan anggota badannya, atau anginnya terlalu besar sehingga membuat dia masuk angin dan sakit.

Suatu hal yang alami jika seorang anak kecil ingin diperlakukan sebagai orang gede. Demikian anakku saat itu. Dia sudah tidak ingin dipangku lagi – meskipun masih balita. Dia meminta haknya untuk mendapatkan tempat duduk sendiri, meskipun di dalam suatu sarana umum serupa angkot. Dan jika haknya dipenuhi, matanya sekali lagi berbinar, meskipun hanya dengan mendengar ayahnya bicara dengan supir angkot ketika turun membayar: “Dua Mang, ti Palasari”. Dua, artinya dia dianggap orang gede seperti ayahnya dan membayar dengan tarif orang gede. Dan dia akan tertawa bahagia jika dia diijinkan untuk memberikan ongkosnya kepada Mang Supir dengan tangannya sendiri.

Sepertinya banyak hal yang dipetik anakku sewaktu naik angkot itu. Bagaimana dia ikut bersenandung dengan pengamen di perempatan Buah Batu, dan meminta ayahnya agar dia saja yang memberikan uang receh kepada pengamen. Bagaimana juga saat dia bertanya kenapa ayahnya hanya memberikan uang sedikit sekali – cuma lima ratus rupiah – kepada pengemis sehat dan segar dengan busana dipaksakan miskin. Bagaimana juga dia mengkomunikasikan tanya dengan ayahnya di dalam angkot tanpa terlalu menarik perhatian, ketika dia kebingungan menebak orang yang duduk di depannya itu laki-laki atau peremouan. Peristiwa-peristiwa alamiah yang terjadi di dunia nyata dengan banyak pelajaran yang dipetik tanpa sadar, dan mudah-mudahan menambah kaya kemampuannya dalam mengolah emosi, empati dan kemampuan sosialnya.

Peristiwa seperti ini berulang beberapa kali, juga setelah dia mulai beranjak dari balita menjadi anak kecil. Perjalanannya sekarang beranjak cukup jauh, ke BSM atau ke Cigereleng. Semuanya dilakukan berdua dengan saya, ayahnya, sampai satu hari yang membuat saya tersenyum bangga.

Hari Rabu minggu ini, adalah hari pertama dia bersekolah resmi – setelah selesai MOS – di SMP. Dan itulah hari pertama dia naik angkot atas kemauan sendiri, tanpa ditemani ayahnya, dengan alasan sendiri pula. Tentunya dia melakukan hal itu tidak sendirian tetapi bersama teman-teman wanitanya di sekolah baru itu, yang Alhamdulillah sudah kami – ibu dan bapaknya – ketahui siapa mereka dan siapa orang tuanya.

Naik angkot bagi dia – yang terbiasa dengan antar jemput dan mobil, akan dirasakan berbeda dari anak penjaga kios roko yang sudah terbiasa melepaskan anak kelas tiga SDnya pergi sekolah sendiri dengan angkot. Silakan bagi mereka yang berpikir hal ini sebagai kampungan atau ndeso. Namun bagi saya – orang tuanya – ada kebanggaan – dan juga kekhawatiran sekaligus. Tapi setelah melihat gairah si anak, serta tahu dengan siapa dia bepergian, terus terang saya menjadi tenteram. Jika dulu saya pernah melihat iklan bayi “Eh, anakku sudah bisa berdiri sendiri”, sekarang saya mungkin berteriak “Eh, anakku sudah bisa naik angkot sendiri”.

Saya bangga dengan anakku sewaktu dia menjawab pertanyaan orang tua temannya – yang tidak mengijinkan anaknya naik angkot.
Ketika ditanya kenapa naik angkot, dia dengan santai, tanpa dibuat-buat menjawab: “kan belajar mandiri”. Jawaban yang indah, karena kemandirian memang perlu dipupuk dan dipelajari, sementara gengsi – yang tanpa sadar sering menjadi alasan – tidak perlu dipupuk dan dipelajari karena akan datang sendiri.

Ayo terus maju anakku. Kau bisa belajar banyak dari kehidupan, dan akan memperkaya harimu juga. Insya Allah, ayahmu akan terus menjaga agar keingintahuanmu tentang kemandirian, kebersahajaan dan kehidupan akan berjalan lancar dan aman. I’m proud of you.

Cag, 20 Juli 2009, 05:30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s