keep moving, man….

Saya setuju sekali dengan Kang Ischaq, yang notesnya atau resonansinya kali ini bertemakan tentang bergerak….

Kata itulah yang dalam minggu ini saya sering dengar. Kita ambil bahasa kerennya: ‘keep moving’.

Sambil menonton pertandingan bola basket antara Satria Muda Britama dan Aspac Jakarta yang seru (meskipun aku tidak hobi basket), seorang komentator berbicara bahwa kunci terobosan bola dan point adalah semua pemainnya keep moving.

Betul Kang Ischaq, melihat sejarah Total Football yang diceritakan, saya memahami bahwa perbedaan kentara indahnya total football dengan indonesian football adalah dalam kemampuan pemainnya keep moving. Saya setuju itu. Saya bukan penggila bola (sehingga tidak terlalu kecewa waktu ‘si Budi tidak bisa bermain bola karena bola lainnya keburu meletus’), tapi saya bisa melihat bagaimana pemain sekelas PSSI pun tidak keep moving. Jika bola tidak di kaki, pemain banyak diam. Bahkan jika bola sudah di kaki pun, kebanyakan pemain tidak melakukan penggiringan bola dengan gerakan cepat, tapi malah terpaku (istilah Sundanya: ngajanteng) melihat harus ditendang ke mana nih bola (alasannya matanya memang masih di kepala, tidak di kaki). Berbeda jauh dengan liga Inggris atau Italia. Bahkan lebih seru melihat pertandingan bola anak-anak MU (maksudnya kampung Mak Uneh…) kayaknya.

Dari sebuah artikel psikologi dan kesehatan memang terbukti bahwa badan yang terus beraktivitas dan keep moving akan mengurangi kemungkinan obesitas, dan obesitas berkaitan erat dengan penyakit (makanya Rif, gimana perutmu gak berbentuk one pack – bukan six pack obsesi semua pria – jika kamu malas, tidak keep moving, he…. he…. Bukan badan tegap bak juara L- Men yang didapat, malah badan sepert figur di film animasi Wall-E yang bulet yang didapat).

Demikian juga komentar pedas pembaca di Detik Forum tentang keengganan Mega-Pro datang ke KPU dan menolak keputusan dan ketetapan KPU. Komentarnya kebanyakan berisi kecaman karena menghambat kemajuan, dan menjadikan mandeg pemerintahah. Ya kesimpulannya jika Pemilu dianggap batal, tidak ada kemajuan, karena kita tidak keep moving.

Bahkan (maaf, ini untuk konsumsi dewasa) kita punya anak pun gara-gara keep moving …. (silakan dikembangkan tafsiran sendiri ya..).

Dan hari ini adalah hari tanpa televisi. Disarankan kepada masyarakat untuk mengganti acara nonton teve dengan tayangan tidak mendidik dengan acara yang membutuhkan bergerak, seperti mengunjungi perpustakaan, bermain bola, berenang dan lain-lain.

Juga jika diperhatikan, permainan anak-anak dahulu lebih bagus untuk anak-anak karena membutuhkan anak untuk terus bergerak. Contohnya adalah permainan gatrik, loncat tali, sorodot gaplok, boy-boyan, galahsin, sondah, kasti.

Keep moving atau tetaplah bergerak perlu juga diterapkan dalam arti lebih jauh, tidak diartikan melulu secara harfiah, physical. Terapkan saja sesuka hati, tapi tetap dalam koridor kebaikan seperti keep moving away from poverty line, iliteracy, bergerak mengikuti perkembangan teknologi etc. etc.

Bergerak bisa dilakukan ke segala arah. Depan, belakang, kiri, kanan, berputar atau tidak beraturan. Namun untuk kebaikan lakukanlah pergerakan ke depan, moving forward, karena bergerak ke belakang berarti kemunduran.

Lawan ‘bergerak’ adalah ‘diam’ atau istilah kerennya stagnan.

Coba rasakan seharian tidur di ranjang rumah sakit, tidak bergerak, kepala di atas bantal. Lama kelamaan kepala terasa pusing di bagian belakang.

Ingat-ingat saat kita mengikuti upacara bendera tiap hari senin, dengan memakai sepatu wajib hitam kaos kaki hitam, berdiri tegak mematung dalam waktu cukup lama tanpa bergerak. Beberapa siswi kemudian tumbang, pingsan.

Coba juga rasakan satu hari saja udara tidak bergerak, artinya tidak ada angin sama sekali, selain tidak nyaman, terasa ada waswas menyerang.

Silakan pikirkan apa juga jadinya jika kita diam tidak mengikuti perkembangan jaman, seperti jamannya komunis, kita seperti berada di abad yang lain.

Atau saat kita melihat orang yang butuh bantuan, dan tangan kita diam, tidak bergerak. Hanya memandang, seperti yang sering kita – termasuk saya juga – lakukan. Dimanakah nurani kita?

Bagaimana mangkelnya seorang istri jika melihat suaminya diam saja, tidak bergerak lincah mencari nafkah.

Dan kalau tidak ada gerakan, mana ada hukum Newton yang sangat berpengaruh itu.

Jadi, bergeraklah kawan. Keep moving, man. And keep moving to a positive side.

Cag, 26 Juli 2009, 08am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s