jadilah pahlawan tanpa tanda jasa untuk pahlawan tanpa tanda jasa kita

Dahulu kita sering mendengar ungkapan guru: pahlawan tanpa tanda jasa. Rasanya ungkapan tersebut hanya dianggap sebatas ungkapan saja. Kita sebagai murid rasa rasanya ikut-ikutan tidak memberi tanda jasa dan melupakan begitu saja jerih payah didikannya. Entahlah. Saya sendiri merasakan kalau kita hanya paham ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa tanpa melakukan sesuatupun.

Seiring dengan berjamurnya reuni, proposal berdarma bakti pun bermunculan. Hampir semuanya berkutat di sekitar materi, dalam arti mengumpulkan sejumlah dana untuk kemudian diserahkan kepada guru-guru yang membutuhkan, atau dalam bentuk penghargaan lain, bahkan sampai dalam bentuk hadiah umroh. Suatu langkah yang sangat bagus, apalagi berhubungan dengan guru-guru kita yang sudah beranjak tua dan sakit-sakitan.

Namun hari ini saya belajar begitu banyak dari ketulusan seorang murid dalam memberikan perhatian kepada gurunya. Ketulusan dan perhatian yang sangat besar dan saya anggap luar biasa.

Bagaimana tidak luar biasa? Bagaimana seorang murid dengan tangan terbuka dan bahkan meminta seorang gurunya yang terkena stroke dan bertempat tinggal di Bogor untuk pindah sementara ke rumahnya di Jakarta dan menjalani perawatan alternatif.

Tindakan tersebut tentulah bukan tindakan yang mudah. Jangankan orang lain yang tidak ada hubungan keluarga, bahkan dikunjungi mertua menginap saja umumnya sudah cukup menjadi pemantik masalah sampai terjadi kobaran pertengkaran. Sedangkan beliau tidak saja di’kunjungi’ oleh satu orang saja, namun dua orang: sang guru dan anaknya yang setia mengurusnya (satu orang lagi yang saya kagumi, wujud bakti terhadap orang tua).

Dua orang luar yang diterima olehnya, dan oleh istrinya – subhanallah, disediakan satu kamar untuk gurunya, dan diperhatikan kondisi kesehatannya. Bukankah itu sebuah perhatian yang luar biasa dari seorang murid kepada gurunya. Wuih…, rasanya saya ingin mengikuti jejaknya.

Terima kasih Pak Sujana Sulaiman, alumni SMA4, yang telah dengan keikhlasan luar biasa membantu perawatan guru kita yang terkena stroke, Pak Kurnia Sastrawinata – guru melukis. Alhamdulillah pada saat saya menjenguknya, Pak Kurnia telah menunjukan perubahan ke arah kesembuhan, meskipun terlihat masih lemah. Menurut keterangan puteranya, kondisi Pak Kurnia berangsur membaik, masih bisa berjalan, meskipun ketika dijenguk terlihat lemah sekali dalam tidurnya. Namun dengan usia sekitar 73 tahun, beliau masih menunjukan ingatan yang luar biasa, termasuk ketika saya bawa bicara tentang pertemuannya dengan almarhum ibuku yang juga teman masa kecilnya.

Terima kasih Pak Sujana. Bapak telah membuka mata kita dan mengetuk hati kita untuk lebih memikirkan guru-guru yang justru telah membuka hati kita dengan pengetahuan. Dan perhatian yang Bapak curahkan jelas berkata bahwa perhatian dalam bentuk tindakan akan jauh lebih bermanfaat sebagai tanda jasa kepada pahlawan kita – para guru.

Dengan menyesuaikan keadaan dan kondisi kehidupan masing-masing, mari kita ikuti langkah Pak Sujana, paling tidak kita mengetahui keberadaan dan kondisi kehidupan dan kesehatan guru kita. Dan jadilah the real pahlawan tanpa tanda jasa buat pahlawan tanpa tanda jasa kita

Cag, 27 Juli 2009, 07.00pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s