sendiri lagi

Sendiri
Kini aku sendiri lagi
Entah susah entah hati pedih
Tak peduli 

Ingat syair itu gak? Syair lagu yang dibawakan Bimbo. Dengan irama yang syahdu. Kita bisa rasakan kesendirian yang berbalut sepi. Alangkah sepinya hidup ini jika hidup fcsendiri. Itukah yang dirasakan para jomblo sejati? Entahlah, karena saya sudah lama melepas status jomblo – sorry ya. Tapi itulah yang akan dirasakan orang tua kita yang beranjak sepuh. Sendiri. Lagi.

Dengan mengambil standar usia Rasulullah, umumnya manusia bisa hidup sampai berusia 63 tahun. Beberapa orang diberi nikmat usia panjang, seperti halnya ayahku – 84 tahun – dan saudara-saudaranya, yang tertua dan masih hidup berusia 99 tahun. Rejeki usia panjang, yang harus patut disyukuri, tapi juga patut dijadikan perhatian anak-anak keturunannya. Adakah kita telah memberikan perhatian yang cukup untuk mereka?

Bersyukurlah dengan budaya kita yang masih begitu menjunjung tinggi rasa hormat kepada orang tua. Bukti dari rasa hormat itu adalah dengan mengajak orang tua tinggal serumah, sehingga bisa otomatis terawat. Umumnya orang tua mengikuti anak perempuan tertuanya. Menyerahkan orang tua ke pangkuan panti werda adalah simbol pembuangan, dan cermin anak durhaka, tidak tahu berterimakasih. Itu pandangan umum.

Namun cobalah sekali-kali berkunjung ke rumah paman-paman, uwa-uwa, bibi-bibi, kakek-nenek-buyut-baok-ude g-udeg-kakait siwur. Pokoknya orang tua yang sudah beranjak sepuh dan tinggal bersama seorang sanak keluarganya. Apakah mereka betul-betul mendapatkan perhatian, diperhatikan atau sederhana saja ditemani?

Suatu ketika saya mengunjungi kerabat yang mempunyai nenek yang cukup uzur, namun masih bisa berjalan, ingatan tajam, dan kesegaran jasmani. Setiap Lebaran, rumahnya dipastikan dipenuhi sanak family, berhubung beliau adalah orang yang paling tua. Tetangga tentunya ikut bergembira, karena melihat bahagianya sang nenek dikelilingi berpuluh atau ratus cucu dan buyut.

Lebaran beranjak, kehidupan normal berjalan. Dan sang nenek kembali dalam perhatian anak perempuannya, beserta cucunya. Perhatian yang patut diacungi jempol, simbol bakti anak kepada orang tuanya.

Kehidupan kembali normal, artinya semua anggota keluarga kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Anak dengan urusan dapur, ke pasar, tetangga atau bahkan mengantar suaminya atau anaknya ke dokter. Cucu atau buyut pun kembali sekolah. Sehingga tatkala seseorang kerabat berkunjung, dihadapkan pada suatu pemandangan terenyuh: sang nenek dengan badan yang sudah membungkuk membentuk sudut sembilan puluh derajat sempurna, berjalan menuju pintu dengan langkah sedikit demi sedikit seperti jalannya Semar, dan berusaha menjangkau kunci pintu. Sendiri. Meskipun hanya beberapa puluh menit (ternyata anaknya sedang ke rumah sakit setelah kena diare oparah). Sendiri. Sepi. Duh.

Kali yang lain, bertandang ke rumah kerabat yang lain, disambut pemandangan mengharukan. Kakek usia 85an sedang berjemur matahari sore di teras depan sambil mengisi TTS. Dengan senang hati dia menjawab bahwa kegiatan itu untuk mengisi waktu agar otak tidak kosong. Kita diajak masuk dan kembali trenyuh setelah menyadari bahwa anak-cucunya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, dan meninggalkannya sendirian, meskipun hanya beberapa puluh menit (‘gak apa apa, dia lagi ke depan ngebetulin knalpot motornya’ begitu katanya).

Semangat muda kembali muncul di balik ringkihnya badan tua tatkala dia bercerita pengalamannya sejak dari Holand Indlandsche School, bersaing dengan adiknya, masuk kerja pertama kali, sampai dengan masa perang dan balik mengungsi dari Sala ke Bandung berjalan kaki. Ingatannya sangat tajam sehingga ceritanya mengalir menarik di tengah kegembiraan ada seseorang yang bertanya dan mendengarkan, karena selama ini dia merasa sendiri. Ya. Tidak ada yang bertanya, mendengarkan dan membutuhkannya. Sendiri. Membuat sepi. Duh.

Kunjungan selanjutnya terlihat membahagiakan, karena orang tua yang kita kunjungi ditemani cucu dan mantunya, yang setia menemani. Apalagi setelah binar-binar kebanggaan muncul dari wajahnya yang keriput, setelah dengan ceria menceritakan keberhasilan anak cucunya yang meraih sarjana. Namun masa tuanya pun dilalui dengan sepi di satu saat, karena usia telah menggerogoti pendengarannya. Sunyi. Membuat rasa sendiri.

Ayahku termasuk orang tua yang beruntung menurutku – anaknya yang tidak peka dan sombong ini. Di senja usia 84 tahun, kami anaknya akan memastikan bahwa ada anak atau cucu atau mantu bersamanya, atau paling tidak akan mengetahui keberadaan dan kondisinya. Kami juga coba menjadi telinga di kala beliau ingin curhat, meskipun lebih banyak sebagai suatu ceramah panjang atau keluh kesah.

Untungnya kami mempunyai kakak-kakak perempuan yang punya perhatian, meski di satu saat ada sedikit komplain dengan isak tangis:’Papap itu susah, di kasih ini gak mau, di kasih itu gak mau. Diajak ngobrol malah marah. Semua keinginannya diikuti, tapi malah nangis. Bingung jadinya Teteh teh’. Padahal tangis ayahku itu adalah tangis kerinduan. Rindu akan segalanya yang telah meninggalkannya. Istrinya selama hampir lima puluh tahun. Teman sekantornya. Rekan tenisnya. Teman pengajiannya. Dan bahkan rindu akan jawaban sebuah tanya: ‘Kapan Papap nyusul Mamam? Papap sepi. Nyorangan (sendiri)’. Ya. Sepi. Sendiri. Duh

Sendiri dan sepi adalah kenyataan hidup seorang manusia berusia lanjut. Apapun yang telah dilakukan saudara-saudara kita yang merawat mereka adalah patut dipuji dan diikuti. Bakti ikhlas anak terhadap orang tua. Sebuah keikhlasan yang tinggi. Mereka memperlihatkan kesabaran yang diuji apakah mereka mengerti bagaimana orang tua kita dengan keikhlasan luar biasa mengasuh dan merawat kita tanpa komplain sejak kecil.

Sendiri dan sepi. Itulah mengapa kita butuh untuk memahami dan mengerti kebutuhan orang tua dalam mengatasi kesepian, bahkan jika apa yang dia inginkan adalah sesuatu yang tidak kita sukai, aneh dan menjemukan. Tapi apakah kita akan menolaknya untuk permintaan kecil itu dibandingkan dengan permintaan kita sejak kecil yang pasti mereka penuhi.

Sendiri dan sepi. Itu jugalah kenapa banyak juga orang tua yang lebih menginginkan tinggal di panti werdha, hanya demi mendpatkan seseorang yang mendengarkan, berceloteh dan mengatasi kesepian.

Sendiri dan sepi. Itulah yang akan kita alami nanti. Jadi, lakukanlah yang terbaik untuk orangtuamu yang lanjut usia sekarang, sehingga kita meletakkan dasar bagi anak kita untuk melakukan yang terbaik bagi kita di usia lanjut kita.

Cag, 03 Agustus 2009 09.30pm

Nenek pertama adalah Uwa Cicih Wiarsih, 99 tahun. Kakak tertua bapakku
Kakek kedua adalah Uwa Momo Warmo, 85 tahun. Kakak langsung ayahku, yang baru berusia 5 bulan ketika nenekku mengandung ayahku
Nenek ketiga adalah Bi Ai, 72 tahun. Adik perempuan langsung ayahku

Terima kasih kepada Teteh-Teteh atau kakak lainnya yang telah ikhlas menemani mereka setiap hari.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. QS 17.23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s