Repetition – recitation – pengulangan: efek negatif pengulangan oleh media

Mengasyikan membaca tulisan Anand Krisna di harian Kompas edisi Sabtu, 15
Agustus mengenai manipulasi pikiran. Yang paling menarik dari tulisannya
adalah mengenai ‘pengulangan’. 

Banyak hal positif yang didapat dari sebuah aktivitas berbentuk pengulangan
atau repetition atau recitation. Mungkin kita ingat sewaktu sekolah, kita
harus menghapal ketika mengadapi ujian atau ulangan. Menghapal adalah
aktivitas berbentuk pengulangan bukan? Seorang karateka akan mencapai sabuk
hitam setelah meretas jalan setapak demi setapak berbentuk latihan
pengulangan jurus-jurus. Sekelompok musisi seprofesional macam Vienna
Philharmonic Orchestra pun memerlukan pengulangan untuk tercapainya
kesempurnaan konser klasiknya, persis seperti kelompok angklung Mang Ujo
berlatih dengan pengulangan untuk membawakan lagu klasik Ein Klein
Nachmuzik. Demikian pula pengulangan yang dilakukan anak TK untuk memulai
membaca: Ini Budi, sama persisnya dengan pengulangan membaca Al Fatihah
biar hapal. Dan bagaimana mempunyai perut six pack jika kita tidak
melakukan pengulangan olah raga, tertutama sit up (hmmm… obsesi yang tak
kesampaian).

Selain hal positif yang ingin dicapai secara sadar dengan pengulangan,
pengulangan juga bisa dilakukan secara intensif meskipun hal positifnya
tidak secara terang terlihat. Itulah pengulangan secara spiritual yang
dilakukan umat-umat beragama yang saleh. Zikir adalah salah satu contohnya.
Sepertinya aktivitas pengulangan spiritual juga dilakukan oleh penganut
agama lainnya yang saleh. Penganut Nasrani pun rasanya mengenal pengulangan
terlihat dengan adanya rosario, penganut Yahudi mengulang bacaan di Tembok
Ratapan, dan umat Budha juga melakukan pengulangan memutar benda seperti
roda, seperti terlihat di film-film Shaolin.

Di balik segala hal positif, Allah memberikan keseimbangan berupa hasil
negatif dari pengulangan, bukan untuk mencelakakan makhluknya, namun agar
makhluknya berpikir. Patut disadari bahwa pengulangan-pengulangan bisa
dilakukan tanpa sadar baik oleh diri sendiri maupun oleh orang (atau pihak)
lain yang justru memberikan efek negatif dan bahkan merusak. Salah satu
contoh jelas adalah pengulangan yang dilakukan oleh media, baik dengan
disadari (dalam arti direncanakan) maupun tidak. Pengulangan seperti ini
akan bisa mengubah persepsi dan tanpa sadar menanamkan dan mengubah alam
bawah sadar.

Simak penampilan pembawa-pembawa acara di televisi. Sadarkah kita bahwa
sekarang sedang terjadi pengaburan norma dan etika dengan menggunakan cara
pengulangan di media terutama televisi.

Bagaimana kita melihat seorang pembawa acara pria, seperti Ruben Onsu, Dave
Hendrik, Olga Syahputra, berperilaku kemayu layaknya perempuan. Bahkan
seorang Ivan Gunawan, yang sebenarnya punya modal menjadi cowok jantan
karena berbadan besar, berpenampilan begitu feminin, cantik, baik hanya
bermodalkan bermakeup saja, atau seringnya berdandan lengkap dengan gaun
perempuan. Untuk lebih menambah daya tarik, atau apalah namanya, bahkan
sering dia memanggil dirinya dengan panggilan ‘mama’, ‘madame’ atau
‘tante’ atau panggilan female lainnya.

Penampilan banci (maaf jika terlalu kasar, karena rasanya tidak ada lagi
istilah yang lebih halus untuk itu) tersebut berulang terus menerus, dengan
berbagai perubahan gaya, baik makin seperti perempuan asli maupun makin
jelas bancinya. Terus dan terus berulang. Sehingga pada satu titik akan
terjadi masa dimana tidak ada lagi yang menganggap bahwa perilaku itu
adalah tidak alamiah (istilah seriusnya fitrah, gak enak lah jika dipakai
istilah ‘menyimpang’). Suatu saat banyak orang menganggap hal itu adalah
sesuatu yang normal. Entahlah kalau itu benar tujuan sebenarnya dari
mereka, yang berarti tujuan mereka berhasil. Padahal jelas dari segi norma
dan kaidah kemasyarakatan, apatah lagi norma agama, bahwa seorang laki-laki
dan perumpuan mempunyai kodrat sendiri. Pada tataran pengertian, dia
berhasil memberikan informasi bahwa ada satu kelompok orang yang feminin.
Tapi dari tataran normatif pendidikan, itu sama dengan meracuni. Dengan
pengulangan-pengulangan tersebut, norma menjadi berubah, dan jangan
salahkan pada suatu saat (atau mungkin sudah terjadi) banyak anak lelaki
tanggung yang belum akil balig meminta untuk berdandan seperi Mama Ivan,
menjadi banci, bahkan dengan alasan untuk menjadi terkenal.

Coba sekali waktu perhatikan lagi televisi anda sepanjang hari. Perhatikan
satu saja saluran televisi, berapa lama slot waktu disediakan untuk
bergosip? Berapa kali sehari program gosip tersebut ditayangkan? Bagaimana
dengan saluran televisi yang lain? Bisa-bisa kalau diperhatikan, dari satu
saluran ke saluran televisi lain, seharian penuh kita bisa mendapatkan
acara gosip, FULL time.

Apa sih yang dibicarakan? Semua berkaitan dengan membuka aib orang.
Seakan-akan aib adalah sesuatu yang begitu nikmat diseksamai, tidak peduli
apakah subyek yang dibicarakan berkenan atau tidak, dan tidak peduli jika
beritanya valid atau tidak, nyata atau rekaan. Tidak juga peduli jika orang
yang dibicarakannya merasa malu, tertekan, hancur. Tidak juga peduli sanak
famili, keluarga yang digosipkan terpuruk dan terhinakan. Dan pembicaraan
dan pemvisualan yang berulang akan membuat image jelek tertanam dalam. Dan
stigma jelek dan kotorpun tertancap di dahinya dibawa kemanapun dia pergi.

Itu dari sisi orang yang terbuka aibnya. Namun yang menderita adalah kita,
penonton yang digiring kepada satu sisi neraka – membicarakan orang, gossip
atau ghibah. Tanpa dirasa norma sudah mulai terurai, aib sudah tidak perlu
lagi dijaga, dan bahkan sepertinya lebih bagus untuk diumbar. Jika aib yang
terumbar begitu nikmat disaksikan dan lambat-lambat aib berbentuk dosa
sudah terfahami dan ditoleransi, tidak ada lagi istilah tabu dan tidak
tabu, urat malu sudah hilang, dan norma benar dan salah akan menjadi kabur.

Hal yang segendang sepenarian juga bisa dilihat dari tayangan ‘pertunjukan
nyata’ atau reality show, entah berbentuk Termehek-mehek atau dibungkus
istilah agama, Realigi. Apa yang didapat dari program televisi seperti itu?
Awalnya mungkin program itu menarik, seperti mempertemukan orangtua dan
anaknya yang terpisah. Namun lama kelamaan, sepertinya program tersebut
bergeser menjadi program pembuka aib dan program pelatihan pelampiasan
amarah dan kekerasan.

Silakan coba membuat survey sedikit saja. Untuk satu slot program tersebut,
coba identifikasi berapa puluh kali terlontar ucapan-ucapan kasar atau
berapa banyak perilaku-perilaku merusak ditonjolkan (ya simpelnya berapa
kali kita melihat bola mata yang mau meloncat dari tempatnya – melotot –
baik serius atau dipaksakan).

Apa yang ada di benak jika kita dengan sadar melihat tayangan seorang
remaja perempuan didorong sampai jatuh oleh seorang laki-laki kekar yang
diaku sebagai bapaknya? Atau seorang anak perempuan baru dewasa
mencak-mencak sambil berteriak dan mengacungkan telunjuknya seperti wayang
Dawala kepada perempuan berangkat tua yang mengaku sebagai ibunya? Atau
seorang cewek menampar pacarnya yang ketahuan selingkuh – atau sebaliknya
cowok menonjok pacar ceweknya yang juga ketahuan selingkuh? Coba apa yang
ada di benak banyak pemirsa televisi sekarang? ‘Ah cuek aja tuh, seru
lageee….’ mungkin begitu sepertinya jawaban banyak orang.

Sama sebangun dengan reality show, atau bahkan lebih ‘menohok’ adalah
pengulangan dalam sebuah ‘atraksi’ sinetron. Ya disebut ‘atraksi’ (serapan dari ‘attract’ = menarik perhatian), karena sepertinya segala hal dilakukan sebuah sinetron untuk menarik perhatian
(dalam bentuk rating). Tidaklah terlalu dipedulikan kerealistisan adegan.
Logis atu tidak adalah nomor dua (atau tiga atau nomor ke sekian).

Waduh hebat euy, seorang anak muda banget, 20 tahunan, sudah duduk di kursi
direktur perusahaan, memakai mobil mentereng, rumah mewah, istri cantik,
hobi ke mall dengan dandanan yang selalu rapi. Logis? Entahlah, kalaupun
betul ada yang seperti itu, mungkin probabilitasnya satu diantara berapa
juta orang. Pengulangan kondisi seperti ini menggiring benak kepada asumsi
muda berhasil itu gampang.

Adegan dilanjutkan dengan cowok tersebut mempunyai saudara perempuan, dua
orang yang culas terhadap istrinya. Keculasan terlihat dengan delikan
matanya yang dipaksain – kayaknya sehabis shooting pemainnya harus langsung
diurut urat matanya saking kecapekan melotot mata seperti mau keluar – dan
raut mukanya yang dijudes-judesin. Sepertinya keculasan tersebut
mengadaptasi perilaku dua saudara Cinderella.

Kemudian mereka bersepakat mencelakakan istri saudaranya dengan meracun
minuman. Dengan sangat kentara bagaimana mereka melaksanakan rencana
tersebut, bagaimana cara meraciknya, kemudian meneteskan ke dalam
minumannya. Atau dalam skala lebih berbahaya buat penonton, bagaimana
mereka menculik dengan memakai saputangan yang dibius, kemudian megikatnya.
Setelah si sandera sadar, mereka kemudian dengan bahagia tertawa lebar –
mungkin biar seperti tertawa bahagianya nenek sihir di filem snow white.
Kemudian mereka dengan enaknya menyiksa – secara jelas divisualkan – baik
melalui tindakan atau perkataan, penistaan.

Aku MUAK sekali. Jika action tersebut hanya ada dalam satu scene, mungkin
masih ditoleri, meskipun harusnya act tersebut bisa dismarkan jika
sutradaranya smart dan punya sense yang bagus. Dengan pengulangan, sadarkah
kalau mereka sedang mengajarkan terjadinya VERBAL & PHYSICAL ABUSE. Itulah
mungkin sebabnya kenapa sering terjadi penganiayaan atau kekerasan dalam
rumah tangga.

Jika penistaan tersebut belum dirasakan cukup, untuk lebih serunya
sinetron, mulailah dilakukan penistaan terhadap anak kecil, dijadikanlah
anaknya sebagai sandera. Mulutnya dibekap, diculik dan dianiaya. Waduh
hebat benar sinetron kita. Benar-benar mendidik – mendidik jadi orang
JAHAT.

Di mana letak didikan kebaikan jika pada satu scene seorang nenek yang
culas dan galak, malah menghardik cucunya yang berperan baik sedang memberi
makan anak pembantunya yang kelaparan. Untuk lebih mendramatisir suasana,
cucunya yang sedang berprilaku baik malah dijewer telinganya dan piring
yang dipegang anak pembantunya direbut dan dilemparkan. Apa itu artinya?
TONTONAN SAMPAH. Dan sampah akan sangat terasa jika kita melihatnya
berulang-ulang.

Silakan baca sebuah blog dengan salah satu tulisannya berjudul Gerakan Anti Sinetron Indonesia: http://kampungmadura.com/g erakan-anti-sinetron-indon esia.html. Silakan juga bergabung dengan grup fesbuk Anti Sinetron http://www.facebook.com/gr oups.php?ref=sb#/group.php?gid=72961340335

Sajian televisi dalam bentuk reportase berita pun tidak kalah juga dalam
memberi andil perubahan norma dan etika, dengan memanfaatkan kemerdekaan
pers dan pengulangan berita.

Coba deh diperhatikan berita kriminal yang subur selama ini, seorang
jambret tertangkap basah dan beramai-ramai dihakimi massa secara brutal dan
secara jelas divisualkan. Tidak ada sama sekali pemberitahuan jika tayangan
tersebut tidak bagus untuk anak-anak. Lebih lengkap lagi jika sang polisi
yang ada pun sudah tidak bisa disegani lagi dan tidak bisa melakukan
apa-apa. Benak kembali digiring untuk memahami bahwa sekarang hukum
sepertinya tidak berjalan, image polisi terdegradasi – setelah mencapai
kesuksesan lain – masyarakat bisa main hakim sendiri.

Penayangan visual korban kejahatan secara jelas pun akan berdampak tidak
bagus bagi anak-anak. Darah sepertinya sesuatu hal yang lumrah lagi.
Hal-hal seperti ini dilakukan berulang sehingga saya kadang merasa dunia
kita adalah dunia kekerasan dan kekacauan.

Bahkan sebuah berita politik pun jika diulang-ulang, selain membosankan
juga membawa efek memudarnya batas benar dan salah, jujur dan bathil.

Sebuah image akan dengan mudah sekali diatur dengan
pengulangan-pengulangan. Coba deh buktikan dengan bagaimana stigma muslim
sebagai teroris diulang-ulang media terutama media Barat. Sebuah ledakan
kecil ditengarai dilakukan ‘Moslem Teroris’. Ledakan atau bom besar
apalagi. Sementara jika terjadi serewntetan pemboman di luar itu tidak
menyebut identitas agama. Coba perhatikan pertikaian Katolik-Protestan di
Irlandia. Bom meledak di mana-manapun tidak pernah menyebut ‘Christian
Terorist’ atau ‘Protestan Terorist’. Atau pertikaian Hindu di India tidak
juga menyebut ‘Hindu Terorist’. Bahkan pengebom gedubg FBI dulu, jika tidak
beraliran agama, juga tidak disebut ‘Atheis Terorist’ atau ‘American
Teroris’. Dan stigma-stigma akan mudah dihapal jika beritanya diputar terus
menerus. Ketidakadilan media jelas terlihat. Padahal tidak ada hubungannya
teroris dengan agama. Orang yang masih berpikiran ada hubungannya, rasanya
telah terkontaminasi media.

Silakan gabung dengan grup fesbuk: STOP MENGHUBUNGKAN/MENGIDENTIKAN ISLAM DENGAN TERORISME di http://www.facebook.com/groups.php?ref=sb#/group.php?gid=118803358128

Peristwa terkini bisa diambil contoh deh. Pengeboman Temanggung. Pemunculan
cowok berjenggot, bergamis, celana panjang di atas mata kaki, teroris,
pengeboman, istri bercadar, berulang lagi dan lagi dan lagi, persis iklan
energiser. Lambat laun ada suatu ketakutan terbentuk di masyarakat terhadap
perempuan dan laki-laki yang berdandan seperti itu. Masya Allah.

Kita sekarang berada bukan di jaman batu. Jaman industrial sudah lewat
demikian juga jaman teknologi sebentar lagi lewat. Kita sekarang berada di
jaman informasi. Mereka yang menguasai dan berhasil memanfaatkan informasi
akan berhasil menguasai dunia. Tidak mudah mengubah keyakinan dan budaya
seseorang, baik dengan kekerasan maupun pemaksaan. Tapi keyakinan dan
kebudayaan akan mudah berubah jika dilakukan tanpa terasa, pelan-pelan, setahap demi
setahap, langsung ke dalam rumah masing-masing, dan berulang terus menerus.

Bentengi diri dan keluarga dari intruder-intruder jahat dalam bentuk
tayangan informasi dan hiburan. Pilahlah dan saringlah dengan bijak. Dan
jika perlu, boikotlah, ya BOIKOT tayangan tidak mendidik. Tidak ada alasan
untuk takut memboikot tayangan tidak mendidik, jika itu demi menjaga
mental, moral, pola pikir anak cucu keturunan kita penerus generasi bangsa.

Cag, awal puasa, 14:30 pm

One thought on “Repetition – recitation – pengulangan: efek negatif pengulangan oleh media

  1. Saya setuju dengan Anda… program-program televisi sungguh tidak ramah untuk keluarga. Saya bersyukur sekarang sudah tidak tertarik dan tidak berminat sama sekali dengan sinetron di negeri ini… mengerikan!. jujur dulu saya mengikuti beberapa judul sinetron negeri ini…tapi lama-kalamaan saya tersadar…bahwa tayangan ini tidak sehat!!! dari kata-kata para pemainnya, alur ceritanya, mengerikan! tidak bermutu hanya mengejar rating tidak memperhatikan kualitas. Dari judulnya…berbau agama, tapi isinya…banyak umpatan, saling ejek….mengerikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s