Tiga serangkai

Saya ingin bercerita mengenai tiga serangkai. Namun jangan terlalu cepat
berpikir bahwa saya akan bercerita mengenai tiga cewek manis bak Charlie’s
Angels. Yang akan saya ceritakan hanyalah tiga orang perempuan tangguh yang
meskipun bukan familyku tapi usahanya pernah memberikan andil dalam
kehidupanku. Mereka adalah Bi Diah, Bi Iron dan Bi Acih. 

Sudahlah, jangan ditertawakan nama-nama aneh berbau kampung seperti itu.
Nama-nama yang sangat umum pada jaman kemerdekaan (atau disebut jaman
‘bedil sundut’).

Mereka adalah tetanggaku sewaktu tinggal di Cigereleng. Mereka bertiga
adalah pedagang yang ulet, yang menghidupi keluarga dari dagangannya.

Gang Madurasa II, tempat dimana tinggal tiga serangkai itu

Bi Diah berjualan sayur di gang sempit, Gg Madurasa II. Orangnya sedikit
cerewet, khas seorang penjual sayur. Kata bapakku sih dulunya beliau adalah
pekerja kebun kakekku. Meskipun saat itu kita sudah jadi tetangga, dan
bukan jadi pekerja bapakku – mana bisa pegawai negeri biasa punya pegawai –
beliau suka memanggil kami dengan ucapan feodal bawahan kepada atasan:
Juragan atau Agan atau Aden. Sering kita bertanya kenapa dia tetap memakai panggilan itu,
tapi itulah beliau – dan orang tua jaman itu – yang masih memperlihatkan hormat kepada
anak turunan mantan majikan.

Sebagai anak bontot yang sering disuruh ibu dan kakak-kakak ke warungnya – poor me 😉 –
saya mendapatkan kesempatan mengenal beliau. Beliau adalah tipe pekerja
keras yang rasanya tidak mengenal kata sedih. Ceria selalu terlihat di
wajahnya, baik saat sedih atau gembira. Demikian juga dalam mengarungi
kehidupan dengan anaknya yang banyak. Tanpa lelah dan berkubang sedih, dia tetap saja menjalani kehidupan keras ini juga dengan kerja keras. Kerja keras dan keceriaan ini terlihat juga di diri anak-anaknya dulu. Saya mengenal beberapa orang anak-anaknya. Nama panggilan mereka lucu-lucu untuk ukuran jaman sekarang. Mereka yang kukenal adalah Endang, Iwa, Enay, Atay.

Pada saat kunjungan sewaktu munggah, saya sempat bertemu dengan Iwa. Saya
salut dengan keistiqamahan Iwa. Dulu sewaktu kecil dia adalah anak yang
baik sekali, penurut, dan sangat sopan. Kini pun setelah belasan tahun
tidak ketemu, dia tetap sangat santun dan baik. Saya dibawa bertemu dengan
Bi Diah. Tentunya dia tidak mengenalku lagi, karena aku yang dulu dia kenal
adalah anak kecil yang kurus. Sangat senang bertemu dengan Bi Diah, karena
dia masih ingat ibuku dan senang bertemu denganku.Tapi saya masih bisa menyaksikan keuletannya dalam mengarungi kehidupan. Tidak ada raut penyesalan di wajahnya bahwa sari kecil sampau tua begini kehidupannya hanya di gang sempit dan tetap bekerja di dapur dan berjualan – dengan keuntungan tidak seberapa.

Bi Iron adalah adik atau kakaknya Bi Diah. Saya tidak mengenal dia secara
personal. Tetapi kita saat itu akrab dengan hasil dagangannya saat itu berupa bakwan
dan kupat tahu. Sampai sekarang saya akui tidak ada yang bisa mengalahkan
bakwan atau bala-bala Bi Iron. Bakwannya agak gendut, dan jika dimakan
pakai nasi dan cabe rawit – seperti sering terjadi pada saat tanggal tua
ayahku dulu – alangkah nikmatnya. Apalagi jika dimakan dengan nasi yang masih mengepul. Di tengah himpitan kehidupan bapakku, menu nasi panas dengan bala-bala Bi Iron saja sudah menjadi suguhan yang begitu spektakuler. Saya begitu bangga dengan bala-bala Bi Iron sampai-sampai saya sering meneceritakannya kepada istriku – yang tentunya tidak mengenal dan bisa membayangkannya.

Selain bala-bala, Bi Iron terkenal juga dengan rarawuannya. Renyah dan
kerasa kacang kedelenya.

Menu selanjutnya yang tidak akan kulupa adalah kupat tahu Bi Iron yang lezat. Kami selalu membelinya beberapa bungkus dan dijadikan makanan utama dibagikan untuk tujuh orang anak. Wuah lezzat.
Kalau dibandingkan mungkin sama lezatnya dengan kupat tahu Mangunreja.

Di luar makanan ringan seperti itu yang selalu ada di benakku, satu hal lain yang selalu saya ingat dari Bi Iron yaitu dia agak galak, terutama terhadap seorang perempuan tetangga jauh satu gang. Sangat tidak tepat jika saya bilang otaknya terganggu. Mungkin lebih tepatnya dia tidak tahu sopan santun dan mengalami keterlambatan pengetahuan. hal paling lucu saat itu manakala Bi Iron marah besar karena perempuan itu membeli beberapa buah bala-bala – hanya dua tiga buah – namun dengan menggunakan uang nominal yang besar. Tentunya Bi Iron marah. Untuk seorang pedagang, itu sama artinya hanya untuk menukarkan uang. Yang membuat sangat marah – dibuktikan dengan ucapan kecerewetan khas ibu-ibu pedangan dengan sampiing batik dan baju brukat yang sering dipakai – adalah karena perempuan itu setelah tahu tidak ada kembalian, ternyata mengembalikan bala-bala itu – bergabung dengan bala-bala lainnya – padahal bala-bala itu telah masuk ke dalam mulutnya. Heheh… kocak banget kalo mengingatnya.

Perempuan terakhir adalah Bi Acih, perempuan paling tua. Dia dulu berjualan
berkeliling, cuman keburu tua jadinya berjualan di gang sempit itu. Rumahnya yang kecil – menyatu antara hawu (dapur), kios, ruang tamu dan ruang tidur, berdinding bilik. Jualan
Bi Acih adalah tutut yang sangat sedap (kerennya mah escargot), noga kacang
dan rujak hiris (susah diindonesiannya). Saya paling sering jajan ke warung
Bi Acih yang sangat sederhana, terutama untuk beli noga kacang. Noganya spesial, manis dan kandungan kacangnya pas, berbentuk jajaran genjang seukuran kartu nama. Saya yakin Bi Acih tidak memakai bahan-bahan kimia tambahan, hanya kacang dan gula kawung kualitas bagus. Saya sangat suka dengan noga kacang yang tebal, sehingga ada perjuangan di gigi ini. Bangga rasanya makan noga kacang di depan bapakku, sambil memperdengarkan kerekes suara gigi memecah noga tersebut. Maklum, bapakku adalah orang yang sangat jarang makan jajanan – sehingga giginya tidak terlalu kuat, makanya kita pesan noga special yang sangat tipis buatnya. Ya, sebagai anak kecil, istilah sunda mah apa yang saya lakukan hanya untuk melelewe – halah ngalelewe diinonesiain – atau mengolok-olok bapakku. Dasar budak leutik

Bi Acih saat itu masih mempunyai suami, namanya Mang Kemed. Kita sewaktu
anak-anak suka takut sama Mang Kemed. Selain galak, beliau ke mana-mana selalu
bawa bedog dan belati. Maklum dia mempunyai pekerjaan sampingan penyembelih
ayam. Jadi dulu kalau ada yang mau menyembelih ayam, kita anak-anak suka datang berrombongan
menemui Mang Kemed sambil menggendong ayam jago. Setelah ketemu, kita
lihat dia komat-kamit, baca-baca – entah apa yang dibaca, kemudian gali
lubang kecil buat darah dari leher ayam.

Itulah tiga serangkai ibu-ibu pedagang yang akrab denganku, penghuni gang
kecil itu. Bi Iron, Bi Acih dan Mang Kemed sekarang sudah berpulang, tinggal Bi Diah
yang masih hidup dan tetap sibuk di dapur bersama anak-cucu-buyut.

Nuhun Bibi-Bibi Emang semua. Saya tidak akan melupakan jasa semuanya berupa
jualannya yang akrab di mulut kita-kita semua. Semoga amal ibadah semuanya
diterima Allah.

Cag, 23-08-09: 05:25pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s