Apalagi yang masih kau punya, Indonesia

Pernah beberapa saat lalu saya menulis status di facebook: “Malaysia yang bebal atau Indonesia yang bodoh?”. Hal itu berkaitan dengan berita di koran Tempo bahwa produk kerajinan Indonesia dibeli lalu dikemas dan diberi label produksi Malaysia. Malaysia jadi broker Indonesia rugi jutaan dolar. 6 Agustus 2009. 

Pagi ini statusku: ‘Rasa sayange sudah, batik sudah, angklung gampang, sipadan ligitan lewat. Sekarang apa ya yang awak bisa ambil? O ya, tari pendet.’

Apalagi sih yang Malaysia mauin?

Saya heran campur geram dengan ulah tingkah Malaysia.
…negara tetangga serumpun
terlihat begitu santun
kok ya bisa mencuri harta karun
dengan alasan sama dengan pantun
satu budaya turun temurun…

TERLALU. Melakukan suatu tindakan yang menyakitkan tetangganya, dilakukan dengan sadar atau tidak, tapi rasanya cukup jelas apa yang dilakukannya tidaklah benar.

Dari kacamata saya yang bukan penggiat seni, saya menemukan berbagai kejanggalan. Bukankah lagu Rasa Sayange berasal dari daerah Maluku? Bagaimana mungkin sebuah lagu itu diaku lagu daerah Malaysia padahal di Malaysia tidak ada suku yang satu ras dengan Maluku kan? Demikian juga dengan tari Pendet. Istilah Sunda mah ‘Jauh tanah ka langit’ untuk diaku sebagai tari tradisional Malaysia. Tari Pendet kan berkembang dari adat kebudayaan Hindu yang kemudian dikembangkan oleh seniman terkenal Bali. Ya, kalau ‘Serampang Dua Belas’ diaku mah masih agak logis lah. Tapi kalo Pendet diakui juga, it doesn’t make sense at all. Please deh.

Saya pribadi sebagai warga negara geremet dan marah. Sedikit demi sedikit, beberapa kekayaan kita diakui negara lain.

Mengenaskan melihat buah durian sekarang menjadi terkenal dari Singapura, setelah mereka katanya mendaftarkan hak patennya. Apalagi dengan membuat bangunan berbentuk buah durian dibelah, makin jelas saja terlihat jika Singapura berusaha keras meyakinkan dunia. Padahal kalau dilihat lahan yang ada di sana yang demikian kecil, kecil juga kemungkinan durian tumbuh lebat dan menjadi komoditi andalan. Siapa tahu durian yang ada justru datang dari Medan.

Hal yang sama terjadi pada bunga bangkai yang diklaim Malaysia. Namun sudahlah, itu menyangkut makhluk hidup ciptaan Tuhan.

Tapi berbeda statusnya jika yang berusaha diambil adalah produk yang dikembangkan oleh manusia Indonesia, budaya. Pantas lah jika kita meradang.

Sebenarnya kenapa ya ini bisa terjadi? Saya yakin masalahnya tidak complicated. Dimana sih letak complicatednya? Masalahnya cuman sepele, persis sama dengan masalah anak kecil yang menyerobot kelereng punya teman dekatnya. Yang terlihat complicated dan rumit adalah sikap si anak yang diambil kelerengnya, sungkan protes karena yang ambil teman sepermainan, yang akhirnya membuat teman itu terus saja mengambil hak si anak tanpa perlawanan. Seperti itu kan yang terjadi?

Satu sisi kita menyalahkan Malaysia yang berusaha menambah kekayaan budaya secara instan, dengan memanfaatkan kepandaian mencari celah kelemahan negara jirannya. Namun kita juga harusnya berkaca diri, semua hal ini juga terjadi akibat diri sendiri.

Memang benar untuk wilayah abu-abu kita harus hati-hati dan berdiskusi. Tapi yang sudah terang kenapa dibuat atau dianggap samar, seperti Pendet. Namun jangan juga lantas kita mengandalkan logika bahwa orang atau bule sudah tahu jika Pendet dari Bali, jadi gak usah diributkan. Logika yang harus dikaji karena belum tentu pikiran itu benar. Bahkan saya pernah mendengar jika banyak bule yang tahu Bali tapi tidak tahu Indonesia. Bisa-bisa memang Pendet tidak diaku Malaysia, karena tahu jika tari itu dari Bali, eh malah Malaysia mengaku Bali itu bagiannya. Di dunia yang gila ini apapun bisa terjadi kan.

Hemat saya, sekarang tinggalkanlah jargon menakutkan ‘NKRI harga mati’ – insya Allah sudah tidak banyak yang mikir mengubah NKRI. Jika negara atau pemerintah mati-matian mempertahankan NKRI tapi tanpa sadar melihat terjadinya disintegrasi bangsa yang digerogoti pelan-pelan, itu tidak ada artinya. Disintegrasi dalam bentuk formal: merdekanya Timor Timur akibat referendum, kalahnya Sipadan Ligitan. Belum lagi tergerusnya identitas budaya seperti yang terjadi.

Bolehlah kita mengubah sedikit pidato John F Kennedy, sekarang harusnya kita bertanya: Jangan tanyakan apa yang sudah kita lakukan buat negara, tapi apa yang telah pemerintah lakukan untuk menjaga keutuhan negara (budaya).

Mari kita sadarkan pemerintah untuk lebih profesional menjaga keutuhan negara dan budaya, jangan terlalu menyandarkan diri pada keikutsertaan masyarakat, karena di satu saat dan satu sisi kita membutuhkan daya tekan secara legal formal dari pemerintah. Kita bisa aktifkan saja yang sekarang sudah ada. Beri kriteria yang jelas sebagai tolok ukur keberhasilan pejabat, terutama di bidang budaya. Delegasikan hal-hal yang bisa dilakukan pejabat daerah sesuai kondisi daerah masing-masing. Lebarkan fungsi yang belum optimal atau tidak dijamah.

Contoh sederhana adalah bagaimana kita beri wewenang lebih Dinas Pariwisata Daerah untuk bertanggung jawab mengidentifikasi kebudayaan daerahnya masing-masing sekaligus mengamankan budaya-budaya tersebut dengan cara mendaftarkan hak patennya. Kalau perlu cantumkan itu dalam kriteria keberhasilan seorang Kepala Dinas (istilah kerennya Key Performance Indicator) sehingga bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan kepemimpinannya.

Janganlah semua ini dilakukan Depbudpar, terlalu luas itu dan nanti apa kerjanya Dinas Pariwisata Daerah. Depbudpar hanya memfasilitasi dan memberikan arahan dan guidance seperti ke mana harus mengurus hak paten dll. Task utama Depbudpar harusnya lebih di Public Relation.

Demikian juga pemetaan atau penjagaan pulau-pulau terluar, berikan wewenang lebih kepada kepala daerah dengan dibantu kodam atau komando angkatan laut terdekat. Jadikan juga keberhasilan identifikasi dan oengamanan pulau terluar sebagai indikator keberhasilan kepala daerah.

Entahlah, rasanya janggal jika kalangan atas tidak berpikir simple demikian. Mungkin harus ada political will dan keberanian lebih atau penyadaran lebih keras bahwa di pundak kitalah – pemerintah dan masyarakat – lestarinya budaya. Jangan sampai masyarakat sudah mempunyai kesadaran budaya yang baik, sementaraa political will pemerintah belum ada, tinggal tunggu saja suatu saat rumah makan padang atau warung tegal menjadi hak paten negara lain, dan kita harus memberi royalti kepadanya. Atau tunggu juga suatu saat tanpa sadar pulau singapura menyatu dengan pulau bintan akibat reklamasi yang tidak kita monitor, sehingga kemudian singapura mengklaim bintan adalah propinsi termudanya. Jangan-jangan pedagang serabi gulung tikar karena harus minta ijinb negara lain dulu ubtuk berdagang.

Mudah-mudahan pemerintah lama yang baru mempunyai itikad baik dan kemauan untuk lebih menyelamatkan Indonesia. Kita telah kehilangan beberapa puluh insan cemerlang yang meniti karier dan profesional di negara lain (lihat Koran Tempo edisi khusus kemerdekaan). Jangan samopai juga kita kehilangan budaya-budaya asli kita, yang bisa diartikan kehilangan identitas bangsa. Jangan sampai suatu saat bangsa lain menertawakan: “Apalagi yang masih kau punya, Indonesia”.

Cag, 24 – 08 – 09, ba’da dhuhur

Silakan digugel apa-apa saja budaya yang diklaim pihak luar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s