Forever grow up

Saya pernah mendengar lagu yang dibawakan Alphaville(?) berjudul ‘Forever
Young’ yang membawa bayangan saya kepada Michael Jackson (MJ). Sosok MJ
yang kontroversial dengan begitu banyak operasi di wajahnya, bahkan sampai
menghilangkan kantong mata, dan perubahan warna kulit demi mendambakan
‘forever young’ membuat saya bertanya ‘…ada apa…denganmu….’ – seperti
lagu yang dinyanyikan Peter Pan.

Itulah yang terjadi. MJ menderita Peter Pan Syndromme. Sebuah sindrom
dimana seseorang menolak untuk menjadi dewasa. Persis seperti seorang Peter
Pan, tokoh fiktif karangan JM Barrie yang bisa terbang, berkostum hijau
motif daun, dan tidak pernah menjadi tua, hidup di sebuah pulau kecil
bernama Neverland. Itulah juga MJ di kehidupan nyata, hidup di sebuah ranch
dengan nama yang sama, ‘Neverland’. Bahkan tatkala ditanya oleh Martin
Bashir dari ABC Channell Inggris siapa dia, dia menjawab ‘I am Peter Pan’.
‘. ‘No, you are Michael Jackson’ kata Martin. ‘No, I’m Peter Pan in heart’.

Carl Gustav Jung menyebut kelainan psikologi ini sebagai Puer Aerthenus,
yang secara harfiah berarti ‘Eternal kid’. Kelainan ini ditandai dengan
ketakutan seseorang terhadap dan menjadi orang dewasa atau penolakan
menjadi dewasa. Jadinya adalah seorang berraga dewasa tetapi berjiwa
anak-anak (body of an adult but the mind of a child).

Indikasi lain penderita sindrom ini adalah menghindari bersinggungan dengan
orang dewasa karena dianggap mereka menyebarkan ancaman dan penolakan
terhadap emosi mereka, ketakutan gagal dalam berinteraksi dengan orang
lain, tidak mau menerima tanggung jawab individual lebih apalagi sebagai
orang dewasa, lack of self confidence dan cenderung tidak bisa lepas dari
orang tua. Meskipun sindrom seperti ini tidak memandang gender, survey yang
dilakukan para ahli memperlihatkan bahwa sindrom ini lebih banyak menimpa
anak laki-laki.

Memang sepertinya over proteksi dari seorang ibu umumnya menjadi penyebab
sindrom ini. Semua anak tanpa kecuali menunjukkan kebutuhan akan proteksi
seorang ibu. Bukan proteksi seorang bapak. Naluriah.

Masih ingatkah sewaktu anak kita masih berusia balita. Kemana dia pergi,
sosok ibu harus ada dalam jangkauan penglihatannya. Di luar itu, tidak
sungkan dia berteriak menangis. Jika dia bertemu dengan teman ibunya, atau
orang dewasa, dia pasti berlindung di belakang ibunya, dan mengintip dari
balik baju ibunya sambil berpegangan.

diambil dari google search

Itu bukanlah tanda-tanda sindrom Peter Pan. Itu adalah hal yang sangat
wajar dan sangat normal. Tidak wajar dan bisa dikategorikan sebagai
kelainan jiwa adalah jika kebiasaan itu terbawa sampai usia dewasa, dan
tidak mau dia lepas. Artinya sesuatu yang wajar dan normal akan tetap
normal jika berkembang sesuai usia. Tapi kadangkala pemikiran normal sesuai
usia terkalahkan oleh rasa sayang seorang ibu yang berlebihan. Jadinyalah
kasih sayang berubah menjadi over protection. Apalagi jika hal ini mengena
kepada anak laki-laki.

Silakan coba bermain andai-andai (eh salah, harusnya berandai-andai), apa
kira-kira yang terjadi dewasa kelak jika hal seperti di bawah ini sering
terjadi.

Scene 1: Anak laki-laki tersayang kita jatuh dari sepeda.

Ibu pertama langsung kaget: ‘Aduh sayang, kenapa? Jatuh? Sakit ya?. Kasihan
anak mama. Sini sayang, mama obati. Mama bilang apa. Jangan main sepeda,
apalagi sama temenmu itu. Nanti kamu kebawa nakal’.

Bandingkan dengan ibu kedua yang juga kaget: ‘Wah hebat anak mama, sudah
jatuh gak menangis. Itu namanya jagoan. Nanti lagi, hati-hati ya sayang
kalau main sepeda. Sekarang gih maen lagi sama temenmu. Hati-hati loh,
jangan jatuh lagi’.

Scene 2: anak laki-laki tercinta kita berantem dengan teman sepermainannya
karena sebenarnya salah anak kita. Tapi anak kita justru yang menangis.

Ibu pertama marah: ‘Kamu kenapa sayang, diapain sama si Ujang’. ‘Itu Tante,
dia yang mukul duluan’,’Kamu jangan sembarangan nyalahi anak Tante ya, dia
anak baik gak kayak kamu. Ayo kamu minta maaf sama dia. Kamu lagi ngapain
main sama dia. Kamu main di rumah saja’.

Bandingkan juga dengan ibu kedua: ‘Kenapa lagi? Berantem? Ujang tadi
ngapain?’.’Itu Tante, dia yang mukul duluan’.’Jadi siapa yang salah, kamu?
Jangan bohong loh? Kalau kamu yang salah, minta maaf sana sama Ujang. Kan
temanan. Maen lagi sana. Janji, harus akur ya!’.

Scene 3: anak cowok tercinta kita tidak mau makan.

Ibu pertama: ‘Pengen apa? Nih mama beliin kesukaan kamu. Masakan Mpok gak
enak ya. Sini mama suapin’.

Ibu kedua: ‘Ya, sayang deh. Mpok sudah susah-susah masak, kamu gak
berterimakasih. Kasihan lagi Ayah sudah nyari uang gak kamu makan. Sudah
deh, gimana kamu. Nanti kalo mau makan, semua ada di meja ya’.

Scene 4: anak cowok kita pergi sekolah.

Ibu pertama: ‘Tunggu sayang ya, Mama anter ke sekolah pakai mobil biar gak
capek nih. Nanti kamu sakit, berdebu soalnya. Mana baju hangatnya? Ayo
pakai, nanti masuk angin’. Sementara di depan rumahnya, teman-teman
sengkatannya berjalan barengan ke sekolah yang jaraknya hanya 200m.

Ibu kedua:’Bener nih De, Ade gak mau dianter? Jauh loh sekolahmu. Berapa
kilo ya, 4 km ya? Kalo pergi barengan Anto naek angkot, gih sana, hati-hati
dijalan. Jangan bercanda melulu, ntar kamu gak hati-hati. Bawa saputangan,
di luar kan berdebu.

diambil dari google search

Scene 5: di Mall, anak tersayang kita malu bertemu dengan temannya, dan
memilih sembunyi.

Ibu pertama: ‘Sana ngumpet di belakang lemari baju itu’. ‘Eh anak-anak,
lagi jalan-jalan ya. Wah, sayang ya gak ketemu Adit. Adit lagi di rumah’.
‘Lho tadi saya lihat Adit kok Tante?’.’Wah, itu anak yang lain kali’.

Ibu kedua: ‘Ngapain sih ngumpet segala, kayak anak TK. Berani don’. ‘Kan
malu Mah dilihat orang?’.’Ngapain malu. ‘Eh anak-anak, lagi maen ya. Wah,
Adit harusnya ikut barengan, tapi dia kayaknya kasihan liat Tante jalan
sendiri’.

Scene terakhir: belanja baju.

Ibu pertama: ‘Mama bilang baju yang ini, bagus, cocok sama kamu’, ‘Tapi kan
kayak buat anak-anak Ma, pengen yang ini’, ‘Apaan itu. Kayak baju buat
gelandangan saja. Sudah deh, kamu itu gak punya selera mode. Sudah, Mama
pikihin saja’.

Ibu kedua: ‘Kayaknya baju ini bagus buatmu?’,’Ya, Mama, itu kan kayak
anak-anak, pengen yang ini’,’Ya boleh, tapi jangan yang itu, kan kesannya
kotor. Kamu pilih yang lain lagi ya, ntar Mama kasih pendapat sari
pilihanmu mana yang paling cocok’.

Inti dari adegan-adegan di atas adalah kita memberi anak-anak ruangan untuk
mengambil keputusan sendiri, belajar menerima tanggung jawab lebih banyak
bahkan untuk dirinya sendiri dab jangan membiasakan atau mengijinkan tetap
berperilaku kanak-kanak (immature).

Mungkin saya terlalu menyederhanakan masalah. Tetapi beberapa anak yang
saya temui, dan mendapat ‘kasih sayang’ seperti anak pertama mengalami
kelambatan perkembangan mental – maksudnya lambat menjadi dewasa. Mungkin
memang tidak sampai menderita Peter Pan syndrom. But who knows, jika
dikombinasikan dengan faktor lain seperti jiwa dasar anak yang memang
lemah, kehilangan figur ayah atau figur ayah yang terlalu dominan, trauma
dll, bukan tidak mungkin sindrom Peter Pan terjadi.

Kemungkinan paling parah mungkin terjadi seperti apa yang menimpa Trapani,
salah satu anggota Laskar Pelangi. Anak muda ganteng ini tidak bisa lepas
dari ibunya sampai dia beranjak dewasa dan berakhir di kamar rumah sakit
mental.

Biarkanlah anak-anak berkembang sesuai usianya masing-masing. Jangan takut akan kesalahan dan masalah. Pada dasarnya karena menghadapi kesalahan dan masalah-lah mental dan spiritual kita akan berkembang.

Pada saat seorang anak menyadari bahwa semua orang dewasa tidak sempurna, dia menjadi anak remaja. Pada saat dia memaafkan mereka, dia menjadi orang dewasa. Dan pada saat dia memaafkan diri sendiri, dia menjadi orang bijaksana.

Cag, 30 Agustus 2009, 02:45

Beberapa data diambil dari beberapa sumber di internet.

‘A mature person is one who is does not think only in absolutes, who is
able to be objective even when deeply stirred emotionally, who has learned
that there is both good and bad in all people and all things, and who walks
humbly and deals charitably’ – Eleanor Roosevelt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s