Over higienis

Salah satu regular concern tiap perusahaan adalah mengenai Overhealth Occupational and Safety. Termasuk dalam hal ini adalah mengenai higienis. Contoh paling baru adalah bagaimana kita harus memakai masker jika berindikasi sakit dan menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan dengan sabun. Namun, kemarin di PI Mall, saya melihat satu perilaku higienis yang cukup membuat alis terangkat.

Seperti biasa, pengunjung PI Mall yang berduit bisa dilihat dari penampilan dan wajahnya yang bersih, halus, terawat, baik itu perempuan, laki-laki ataupun anak-anak. Istilah saya adalah wajah yang gak pernah kena debu. Namun, kemarin saya melihat seorang remaja pria, ditaksir sedang berada di kelas 2 SMP, sedang disuapin oleh pembantunya. Mungkin kata disuapin tidak tepat karena sepintas terlihat yang dimakan adalah penganan seperti martabak mini. Yang tepat adalah meminjam tangan pembantunya untuk memegang penganan tersebut yang sebenarnya sudah dilindungi oleh beberapa buah kertas tissue.

Saya cukup kaget melihatnya. Jika dibilang itu perilaku remaja yang seperti anak-anak – pada notes lalu saya sebut Peter Pan syndrome, rasanya bukan. Dengan pengamatan saya dalam waktu yang begitu singkat saya melihat itu adalah tindakan higienis yang berlebihan. Kenyataan itu terlihat sewaktu dia ingin memakan penganan itu dari satu sudut makan yang enak, dia pegang tangan pembantunya, dan mengarahkan tangan pembantunya sehingga penganan itu masuk dari sudut yang dia sukai. Kesimpulan kasarnya adalah dia tidak mau menyentuh makanan tersebut.

Entahlah jika apa yang saya lihat dan simpulkan mungkin tidak tepat. Namun menurut hemat saya, sekarang ini banyak terjadi kesalahpahaman mengenai higienis. Beberapa orang pernah saya temui menafsirkan higienis dengan tidak bersentuhan dengan kotor bahkan debu, sehingga mereka mengurangi aktivitas bertemu dengan orang lain, dan berarti menghindari sosialisi. Padahal higienis tidaklah seperti itu.

Saya lebih menyukai kearifan orang tua dulu dalam menyikapi kehigienisan. Mereka membiarkan anak-anaknya bermain lepas dengan bersentuhan dengan alam, tetapi tetap tegas dalam higienis. kalimat-kalimat seperti “Cuci tangan dulu dong sebelum makan”, “Masa sih masuk rumah kaki belepotan begitu”, atau bahkan sengaja mencucikan tangan anaknya dengan sabun – secara tidak langsung mendidik anak aware dengan kehigienisan. Bahkan acara anak SD berbaris sebelum masuk kelas dan dicek jari tangannya satu demi satu oleh guru Matematika yang galak, dan siap dengan mistar kayunya, pada dasarnya adalah salah satu pendidikan higienis juga.

Terus terang saya adalah tipe orang yang lebih suka melihat anak berkembang dekat dengan alam dan menghargai kearifan jaman dulu. Kita lihat permainan jaman dulu yang pernah saya lakukan.

Sorodot gaplok. Ingat kan, kita susun beberapa batu agak pipih berdiri dan batu lainnya yang lebih bundar kita taruh di atas punggung kaki, kemudian kaki digoyang-goyang sambil melompat kecil, dan kemudian kita lemparkan batu dengan hentikan kaki ke arah batu yang berdiri sampai jatuh. Kegiatan itu semua dilakukan dengan bertelanjang kaki dan tangan. Artinya terjadi sentuhan antara anggota badan kita dengan bumi, kaki menginjak tanah dan tangan memegang batu. Juga terjadi sentuhan raga dengan udara. Dan juga terjadi sentuhan emosi dengan emosi manusia lain. Perfect combination.

Sentuhan badan dengan bumi akan mentralisir material negatif di dalam diri (ingat juga hikmah sujud di mana kepala kena bumi, atau hikmah tanah sebagai grounding energi dari kilat / petir).

Sentuhan raga dengan udara akan membuat terjadinya penghirupan oksigen segar dari luar ruang, bukan udara yang berulang di dalam rumah.

Sentuhan emosi dengan emosi akan memperkuat keunggulan intelegensi pribadi (EQ).

berhubung pejabat, jadi sepatunya tetap dipakai

Jika kita menghindari kegiatan seperti itu hanya demi higiensi, itu suatu hal yang menurut saya berlebihan. Karena pada dasarnya solusinya begitu mudah, cucilah tangan atau kaki atau mandilah dengan memakai sabun. Saya setuju dengan program salah satu produk sabun bahwa kotor itu baik.

Cag, 06-09-2009, 9:20 am, di bengkel Honda BSD

Mudah-mudahan ada yang bisa memberikan pencerahan mengenai higienis dari kacamata seseorang yang berkutat di bidang kesehatan.

Aktivitas jaman dulu rasanya bisa disikapi dengan arif, karena dasarnya memiliki kandungan arti yang dalam.

Saya pernah membaca bahwa di suatu negara terdapat suatu kelompok perkumpulan orang-orang yang suka bertelanjang kaki demi dekat dengan alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s