Bukber yoook

Dalam seminggu ini saya menjalani dua buah acara buka puasa bersama yang membawa kesan berbeda yang sama-sama bernilai. 

Bukber pertama diorganise oleh pengurus RT dipimpin pak RT yang begitu bersemangat. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya menyambut undangan bukber dengan senang hati. Bukber diadakan di lapangan voli, dengan sajian makanan disiapkan oleh ibu-ibu warga.

Dua hal yang membuat saya senang. Pertama adalah kehadiran warga yang cukup tinggi, yang pastinya membuat Pak RT cukup berbangga (bravo Pak Kun). Bukber ini tidak hanya dihadiri warga muslim, tetapi warga non-muslim juga. Di sini dengan dada membusung kita, masyarakat kecil, bisa memproklamasikan toleransi dan kerukunan beragama dalam tataran praktis. Bukber makin bermakna sewaktu kita meluangkan waktu sehabis makan dengan berkomunikasi dengan tetangga, yang cenderung jarang sekali dilakukan di luar acara itu.

Faktor kedua yang membuat saya senang adalah kesadaran panitia untuk mengadakan solat maghrib berjamaah, setelah selesai berbuka dan sebelum makan besar. Solat maghrib, yang diadakan juga di lapangan, ini pun diikuti sebagian besar warga muslim. Ini mengharukan karena sebagai muslim kita bisa mengekspresikan ketundukan dan kepatuhannya di mana pun juga di muka bumi ini. Hal itu juga sebagai pengertian bahwa puasa dan salat adalah dua buah kewajiban. Puasa tapi meninggalkan salat menunjukkan ketidakmengertian posisi salat dan puasa.

Sayangnya faktor kedua ini yang tidak saya dapatkan di Bukber kedua, bersama rekan-rekan alumni SMP. Mudah-mudah ketiadaan salat Maghrib berjamaah saat itu bukan dikarenakan tidak aware, tetapi lebih ke persoalan teknis semata bahwa seratus atau dua ratus meter dari tempat bukber, berdiri sebuah mesjid – di mana saya dan beberapa rekan peserta bukber solat Maghrib. Tapi rasanya kita akan mendapatkan hikmah lebih jika kita yang muslim mengadakan solat berjamaah di tempat.

Walau demikian faktor pertama di Bukber kedua yaitu kehadiran alumni cukup tinggi. Karena menyangkut pertemuan sesama murid yang sudah hampir 23 tahunan tidak bertemu, tentunya bukber ini sangat-sangat berkesan. Banyak hal lucu yang kita jumpai, perubahan fisik yang terjadi pada setiap orang, cerita masa lalu yang seru untuk dikupas lagi, dan bertemu dengan sahabat karib yang sekian puluh tahun tidak ditemui. Mengharukan, menggembirakan dan mengasyikkan.

Alhamdulillah, bukber kedua telah berhasil menyatukan simpai tali silaturahim yang terlepas sekian puluh tahun. Dan tentunya diharapkan simpai tersebut tidak kembali terurai hanya karena perbedaan pendapat atau hal lain. Dan juga tentunya nostalgia tetaplah nostalgia, sesuatu yang terjadi di saat lalu, sudahlah terjadi. Tidaklah perlu membawa apa yang terjadi di masa lalu dibawa ke masa kini. Kita hidup di masa sekarang dengan kenyataan hidup sekeliling yang ada, dan nyata.

Momen berbuka puasa adalah momen yang indah dan bermakna. Janganlah momen tersebut dipakai untuk hura-hura. Raihlah makna berbuka puasa secara luas, dari segala sisi: agama, sosial, kehidupan bermasyarakat dan lain-lain. Raihlah itu, karena kita sebagai manusia dianugerahi akal, pikiran dan hawa nafsu untuk memaknai sesuatu kejadian dari segala arah.

Jadi, bukber yoook

Cag, 12 Sept 2009, 11:27pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s