beger mindo

Saya sama sekali tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Suatu hal yang sangat saya hindari, namun ternyata terjadi juga, justru pada saat usia saya menjelang empat puluh, yang sering dibilang usia emas kehidupan. Bukankah life begin at forty?

Sebenarnya malu saya menceritakannya, tapi daripada dipendam saya bersedia sharing. Entahlah apa yang terjadi, mungkin benar juga adanya ungkapan ‘beger mindo’ atau puber kedua. Yang pasti saya mempunyai pasangan yang ternyata tidak seperti yang saya impikan.

Awal kita bertemu adalah di bilangan BSD, beberapa tahun lalu. Dia berkulit hitam manis. Entah terhipnotis atau apa, saya langsung jatuh cinta. Sejak itulah saya sering berjalan bareng.

Semuanya berjalan lancar, tanpa masalah sampai dua tahun belakangan saya merasa kecewa, karena ternyata pasangan saya terlalu menuntut banyak. Entahlah apakah tepat jika disebut mata duitan.

Bagaimana tidak, beberapa kali dia meminta dibelikan perhiasan, aksesoris buat menambah cantik atau apalah. Permintaan itu sering kali saya tolak, terlalu berlebihan menurutku. Namun secara rutin dia mengharapkan untuk diantar ke salon, mempercantik diri. Entahlah apa luluran, mandi kembang, mandi susu atau bahkan mandi salju. Pusing mikirinnya juga. Permintaan itu sangat sulit saya tolak. Ya terpaksa saya penuhi, daripada saya lebih malu lagi.

Bagaimana tidak malu jika permintaannya ke salon ditolak, dia protes dengan berdandan seadanya. Benar-benar seadanya, mengambil istilah ibuku mah seperti ‘Nyi Jaibah’ (punten kalo ada yang punya nama sama). Bercak putih seperti bedak murahan menempel di wajah dan badannya, menutupi indah kulit hitam manisnya. Kalau sudah begitu tidak ada lagi yang mau dilakukan. Bahkan mandi sekalipun.

Dulu di tahun-tahun pertama dengannya, saya masih suka menggosok tubuhnya, memandikannya. Maklum, masih diliputi rasa suka dan cinta. Apalagi kulitnya masih mulus. Namun sekarang, rasanya malas sekali, bahkan untuk sekedar melihat wajahnya.

Beruntung saya mempunya istri yang baik sekali. Yang tidak terlalu cemburuan dan mengerti akan jatidiri saya sebagai lelaki, yang cenderung cepat bosan. Saya pernah mendengar ada seorang istri yang mengijinkan suaminya menikah lagi, bahkan menganjurkannya. Namun istriku lain. Dia bahkan menyuruh saya untuk memandikan pasangan saya agar terlihat cantik. Duhai istriku, mulia betul hatimu.

Saat ini kejadian awal di atas kembali berulang. Kali ini yang saya temuin berkuning langsat, bersemu putih dan berwajah segar sesuai usianya yang masih muda. Begitu menarik, dan jantan. Ya, jantan. Ah, biarin apa kata orang. Saya sudah jatuh hati lagi dan ingin langsung memilikinya. Memang nafsu dewasa usia empat puluh susah ditebak.

Kali ini saya tidak ingin menipu istriku yang begitu baik hati. Saya meminta ijin khusus untuk memilikinya. Tentunya dia menolak.
‘Apa yang akan Ayah lakukan terhadap yang dulu?
Entah setan apa yang berbisik ketika saya dengan santai bilang ‘Ya, jual saja’.

‘Dijual? Masya Allah Ayah. Ayah keterlaluan, gak tahu diri’ kata istriku dengan marah.

‘Ibu. Mending dijual saja, mumpung harganya masih tinggi. Honda Jazz, meskipun warna hitam, kan pasarannya bagus. Ayah kan sudah pakai selama beberapa tahun. Emang ibu gak bangga kalo ayah pake Fortuner warna putih semu kuning. Keren dan gagah kan…’

GUBRAK….oh ternyata….

Cag, 14 09 09, 11:00pm

Ide diambil dari statusnya Kang Ruli Hadiana beberapa hari yang lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s